Surakarta (Humas) — Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam terus memperkuat perannya dalam mendukung program-program strategis nasional. Salah satunya diwujudkan melalui kolaborasi bersama BPJS Kesehatan dalam kegiatan SYAIR JKN (Sinergi Penyuluh Agama Integrasi Literasi Jaminan Kesehatan Nasional) bertajuk “Menjalin Ukhuwah, Menjamin Sesama: Bersama Penyuluh Agama Mewujudkan Masyarakat Sehat, Sejahtera, dan Terlindungi”, yang berlangsung di Hotel Harris, Surakarta, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan edukatif ini diikuti oleh 100 Penyuluh Agama Islam yang berasal dari tiga wilayah, yaitu Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Wonogiri. Melalui forum ini, para penyuluh dibekali pemahaman mendalam mengenai program JKN agar mampu menjadi jembatan informasi yang efektif di tengah masyarakat.
Sebanyak 31 Penyuluh Agama Islam dari Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam giat tersebut. Mereka menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi serta aktif dalam sesi tanya jawab dengan para narasumber sosialisasi. Hal ini dilakukan demi menjaring informasi mendalam dan pengetahuan substantif yang siap disosialisasikan serta disampaikan kembali kepada masyarakat, khususnya bagi para peserta non-aktif BPJS Kesehatan di wilayah Surakarta.
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki posisi kunci sebagai sosok yang dekat dan sangat dipercaya oleh masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan bahasa agama dinilai sangat strategis untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya jaminan kesehatan.
“Penyuluh agama memiliki tugas penting untuk menyampaikan program-program pemerintah, salah satunya program JKN atau BPJS Kesehatan, dengan menggunakan bahasa agama agar masyarakat lebih mudah paham dan memiliki literasi kesehatan yang baik,” ujar Abu Rokhmad dalam sambutannya.
Lebih lanjut, Abu Rokhmad memaparkan empat fungsi utama yang harus dijalankan oleh setiap penyuluh agama di lapangan:
1. Edukator/Motivator: Memberikan pemahaman menyeluruh dan menggerakkan masyarakat agar menjadi peserta aktif BPJS Kesehatan.
2. Mediator: Menjembatani keluhan masyarakat terkait pelayanan fasilitas kesehatan, seperti masalah antrean panjang, sekaligus mendorong penggunaan layanan digital.
3. Teladan (Role Model): Menjadi contoh nyata dengan memastikan diri sendiri terdaftar dan aktif dalam kepesertaan JKN.
4. Peran “3M” (Mursyid, Mubaligh, dan Mufti): Bertindak sebagai pembimbing spiritual dan sosial yang siap menjawab berbagai tantangan masyarakat, baik masalah keagamaan maupun kebijakan pembangunan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Abu Rokhmad juga mengingatkan betapa besarnya akad gotong royong dalam kepesertaan JKN. Ia menjelaskan bahwa nominal iuran bulanan kepesertaan tergolong sangat terjangkau jika dibandingkan dengan manfaat perlindungan yang diterima.
“Iuran Rp35.000 per bulan itu sangat terjangkau, bahkan lebih murah dari harga sebungkus rokok tertentu. Namun, nilai yang dipupuk dari iuran tersebut sangat luar biasa untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah sakit. Kelancaran iuran masyarakat akan memperluas cakupan perlindungan kesehatan secara nasional,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan, Akmal Budi Yulianto, mengungkapkan bahwa tantangan utama pelayanan kesehatan saat ini adalah masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat serta belum optimalnya pemanfaatan kanal informasi.
Akmal menyatakan bahwa kehadiran program SYAIR JKN menempatkan penyuluh agama sebagai trusted educator, community influencer, sekaligus mitra strategis BPJS Kesehatan. Menurutnya, pendekatan berbasis keagamaan dan kemanusiaan ini sangat inklusif serta mampu menyentuh hati masyarakat secara luas.
“Penyuluh agama merupakan garda terdepan dalam menyampaikan informasi yang benar, membangun kesadaran hidup sehat, serta menjelaskan hak dan kewajiban peserta JKN dengan pendekatan humanis,” kata Akmal.
Secara terpisah, Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Surakarta, Pardi, menyampaikan bahwa Program SYAIR JKN merupakan langkah positif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kepesertaan dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Dari perspektif penyuluh agama, menjaga kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar untuk memelihara jiwa (hifdzun nafs), yang merupakan salah satu tujuan utama syariat Islam (maqasid asy-syari’ah). Kepesertaan dalam JKN bukan hanya bentuk perlindungan diri dan keluarga, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai ta’awun (tolong-menolong), gotong royong, serta tanggung jawab sosial yang sejalan dengan ajaran Islam,” ungkap Pardi.
Ia menambahkan bahwa melalui program SYAIR JKN, penyuluh agama berperan sebagai mitra edukasi dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat, menanamkan pemahaman bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah, mengajak masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan secara bijaksana, serta terus bersinergi secara optimal dengan BPJS Kesehatan.
“Sebagai tindak lanjut, penyuluh akan menyosialisasikan ke majlis taklim yang menjadi binaan penyuluh agama , pada Khutbah Jum’at dan masyarakat umum,”pungkasnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, yang turut hadir secara langsung memberikan motivasi dan apresiasi kepada seluruh Penyuluh Agama Islam Kota Surakarta. Ia berharap para penyuluh dapat menjalankan tugas sinergitas ini dengan sungguh-sungguh dan profesional di lapangan.
“Kami berharap para penyuluh agama Islam Kemenag Surakarta dapat melaksanakan tugas sinergitas ini dengan baik, menyentuh hingga lapisan masyarakat terbawah, serta menjadi pendorong utama terwujudnya masyarakat Surakarta yang sehat dan terlindungi,” tegas Ahmad Ulin Nur Hafsun.

Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah pejabat dari jajaran Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah. Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah diwakili oleh Ketua Tim Bimtek dan Supervisi Penyuluh Agama Islam, Achmad Syalabi, serta Kepala Bidang Urais Kanwil Kemenag Jateng, Akhmad Farkhan. Tampak hadir pula Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Wonogiri, serta Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Prov. Jateng, Iwanuddin Iskandar.
Melalui sinergi SYAIR JKN ini, Kementerian Agama dan BPJS Kesehatan berkomitmen untuk terus meningkatkan kepesertaan aktif masyarakat guna mewujudkan perlindungan kesehatan yang merata, adil, dan bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia. (may)













