Surakarta (Humas) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun bersama Kasi Bimas Islam, Achmad Arifin mengikuti Rapat Koordinasi Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kanwil Kementerian Agama Prov Jawa Tengah (21-22/09/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Pondok Asri, Karanganyar beragendakan evaluasi program dan anggaran Bidang Urusan Agama Islam (Urais). Rakor juga diikuti jajaran bidang Urais Kanwil Kemenag Jawa Tengah serta Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.
Rakor dibuka secara resmi oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Saiful Mujab. Ia menekankan pentingnya evaluasi program, pemetaan kendala, serta percepatan pelaksanaan kegiatan dan penyerapan anggaran menjelang akhir tahun anggaran 2026.v“Ini sudah bulan September, tolong dipercepat di masing-masing satker. Panggil yang bersangkutan, lihat apa masalahnya, kendalanya apa, dan bagaimana penyelesaiannya,” tegasnya.
Saiful Mujab meminta seluruh jajaran tidak menunggu hingga akhir tahun untuk menyelesaikan persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program. Setiap kendala, menurutnya, harus segera diidentifikasi dan dicarikan solusi melalui koordinasi dengan pihak terkait.
Ia juga menegaskan, percepatan penyerapan anggaran harus tetap dilakukan secara hati-hati dan sesuai ketentuan. Prinsip prudensial, efektif, efisien, akurat, dan transparan harus menjadi pedoman dalam setiap proses pengelolaan anggaran. “Yang penting di dalam penyerapan kita menggunakan prinsip prudensial, agar tata kelola regulasi efektif, efisien, akurat, dan transparan. Ini yang menjadi guide kita di dalam penyerapan,” ujarnya.
Dalam arahannya, Kakanwil juga menyoroti capaian penyerapan anggaran tahun sebelumnya yang mengalami peningkatan, namun belum signifikan. Untuk tahun anggaran 2026, ia meminta seluruh jajaran bekerja lebih serius agar capaian penyerapan dapat dioptimalkan.

Tiap satuan kerja diminta melakukan pemetaan terhadap program yang belum berjalan optimal. Faktor penghambat, baik administratif maupun teknis, harus segera diketahui sehingga solusi dapat diambil secara tepat. “Panggil pihak yang bersangkutan. Apa masalahnya, di mana kendalanya, apa faktor pendukung dan penghambatnya. Setelah itu segera dicarikan solusi,” lanjutnya.
Menurutnya, evaluasi tersebut penting agar pelaksanaan anggaran tidak sekadar mengejar angka penyerapan, tetapi juga memastikan anggaran memberikan manfaat sesuai tujuan program dan dapat dipertanggungjawabkan.
Saiful Mujab juga meminta jajaran memperhatikan secara serius pelaksanaan program dan anggaran pada bidang Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam). “Bimas Islam menjadi perhatian saat ini. Oleh karenanya, semua harus mencermati langkah-langkah berkaitan dengan Bimas Islam,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kakanwil mendorong seluruh jajaran Kemenag se-Jawa Tengah untuk meningkatkan kinerja sehingga capaian penyerapan anggaran Jawa Tengah dapat berada pada posisi terbaik. “Kalau kita kerja bersama, agar Jawa Tengah tidak berada di tiga dari bawah. Kita ingin tiga dari atas,” tegasnya.
Menurutnya, target tersebut membutuhkan kerja bersama dan komitmen seluruh jajaran. Evaluasi tidak berhenti pada forum rakor, tetapi harus ditindaklanjuti di masing-masing satuan kerja.
Rakor Bimas Islam 2026 di Karanganyar menjadi momentum untuk menyatukan langkah dalam mengevaluasi pelaksanaan program, mengidentifikasi kendala, dan menyusun langkah percepatan hingga akhir tahun anggaran.
Menutup arahannya, Saiful Mujab menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah berkontribusi dalam berbagai kegiatan Kementerian Agama salah satunya adalah event MTQ Nasional ke XXXI Tahun 2026, serta berharap rakor memberikan manfaat bagi peningkatan kinerja di Jawa Tengah. “Terima kasih kepada Bapak-Ibu yang telah hadir dan terlibat langsung, dan kita bersyukur event MTQ Nasional tahun ini kita mendapatkan anugerha dengan prestasi yang baik,”pungkasnya.

Menindaklanjuti rakor berkaitan dengan program Bimas Islam, Ahmad Ulin secara terpisah menyampaikan keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat Penyuluh Agama dan Penghulu dalam memberikan pelayanan berdampak bagi masyarakat.
“Dalam rentang waktu Januari sampai dengan September 2026, Program Bina Remaja Usia Sekolah (BRUS) telah hadir di 25 SMP, SMA, SMK, MTS dan MA dengan jumlah peserta 6.664 siswa. Dan Bina Remaja Usia Nikah (BRUN) telah dimulai dengan diikuti 40 peserta,”jelasnya.
Ia menambahkan BRUN akan diakselerasi dengan menggandeng banyak stakeholder, sehingga remaja usia nikah di Surakarta semakin siap membina keluarga yang sakinah. (may)
















