Surakarta (Humas) – Kunjungan Kerja Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad tak hanya berhenti pada program kerjasama BPJS Kesehatan. Perjalanan dilanjutkan dengan monitoring di KUA Laweyan untuk mengetahui kinerja langsung serta inovasi yang ada di KUA (05/08/2026). Didampingi Kabid Urais Kanwil Kemenag Prov Jawa Tengah, Ahmad Farkhan serta Kepala Kankemenag Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, kehadirannya disambut oleh Ketua APRI Kota Surakarta, Rohmat Agung beserta Kepala KUA se-Surakarta.
Abu Rokhmad menanyakan progress digitalisasi pencatatan nikah, yang kemudian di konfirmasi oleh penghulu KUA Laweyan, bahwa digitalisasi berkas pencatatan nikah adalah mulai tahun 1970 hingga tahuan 1980an. Ia kemudian melanjutkan menuju ke ruang arsip, bersama dengan staff KUA dan Penghulu. “ Bagus ini, Rapi ini pak, nah kalau dulu kan mencari berkas bisa sampai seminggu, tapi dengan digitalisasi sekarang sudah bisa dicari dalam waktu satu menit aja,”jelasnya. Dalam aplikasi digitalisasi, Penghulu KUA, Wawan Nur menyampaikan bahwa yang bisa muncul hanya no akta, dana nama saja. Pernyataan tersebut kemudian ditegaskan oleh Abu Rokhmad. “Digitalisasi tetap harus memperhatikan perlindungan informasi yang bersifat rahasia,”tegasnya.

Di akhir pembicaraan tentang digitalisasi, ia juga mengingatkan kemungkinan bahwa suatu wilayah memiliki arsip tokoh yang kelak menjadi tokoh besar. “Karena itu, penyelamatan arsip sejak sekarang menjadi penting,”pungkasnya.
Rombongan kemudian menuju ke Balai Nikah KUA Laweyan, dan menyapa murid MAN 1 Surakarta yang siap untuk memperkenalkan alat canggih bernama STUN-G. Murid MAN 1 menjelaskan bahwa STUN-G akan mengklasifikasikan anak termasuk kategori stunting atau tidak. “Kedepannya akan kita kembangkan juga, sampai ke pengukuran LILA (Lingkar Lengan Atas) dan kadar HB, mohon dukungan dan doanya pak,”ujar salah satu murid.

Abu Rokhmad berharap, STUN-G juga dikembangkan untuk dapat fokus pada deteksi risiko stunting bagi calon pengantin. “Adakan kolaborasi dengan BKKBN melalui aplikasi Elsimil (Siap Nikah Siap Hamil) agar inovasi tersebut dapat mendukung program pencegahan stunting secara lebih luas,”tuturnya.
Kunjungan kerja Dirjen Bimas Islam di KUA Laweyan menegaskan pentingnya modernisasi tata kelola layanan keagamaan melalui efisiensi digitalisasi arsip nikah dengan tetap menjaga kerahasiaan data serta penyelamatan dokumen bersejarah. Di sisi lain, apresiasi terhadap inovasi alat pendeteksi stunting STUN-G karya siswa MAN 1 Surakarta menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, khususnya integrasi teknologi pencegahan stunting bagi calon pengantin bersama BKKBN. (may)














