Surakarta (Humas) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta menerima audiensi dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Surakarta 1 yang berhasil mengantarkan dua siswinya mewakili Provinsi Jawa Tengah dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional. Audiensi berlangsung di Ruang Kepala Kantor Kemenag Kota Surakarta, Senin (21/9/2026).
Dua siswi MTsN Surakarta 1, Aisha Ilfa Dilla dan Khansa Az Zahra Alifa, berhasil lolos sebagai finalis OPSI Nasional bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) jenjang SMP/MTs. Keduanya mengangkat penelitian berjudul “Harmoni Masyarakat dalam Bingkai Jagad Cilik: Aktualisasi Naskah Kuno Karya Pujangga Keraton Surakarta dalam Menghadapi Krisis Kesantunan Generasi Z.”
Final OPSI Nasional tersebut akan diselenggarakan di Tangerang Selatan pada Rabu (24/9/2026). Pada bidang IPS jenjang SMP/MTs, terdapat 20 finalis yang berhasil lolos setelah menyisihkan sebanyak 1.837 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kepala MTsN Surakarta 1, Nurul Qomariah, menyampaikan harapannya agar kedua siswi tersebut dapat mengikuti tahapan final dengan lancar dan memberikan hasil terbaik.
“Minta doa restu, semoga anak-anak bisa tampil terbaik sehingga lancar dan memberikan yang terbaik untuk Kemenag Surakarta,” ungkapnya.
Nurul menjelaskan bahwa kedua siswi tersebut dijadwalkan berangkat pada 23 September 2026 menuju Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kampus Tangerang Selatan, sebagai lokasi pelaksanaan final OPSI.
“Anak-anak akan bertanding dan akan berangkat tanggal 23 pagi ke Jakarta, ke Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kampus Tangerang Selatan,” jelasnya.
Menurutnya, persiapan menghadapi OPSI dilakukan dalam waktu yang relatif singkat karena pengumuman kelolosan menuju tahap final tidak berselang jauh dari pelaksanaan kompetisi.
“Untuk persiapan lebih awal. Persiapan OPSI dengan pengumuman tidak begitu jauh. Kita belajar cepat untuk mendapatkan poin-poin apa yang harus dipersiapkan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, memberikan sejumlah pesan kepada kedua siswi agar benar-benar menguasai penelitian yang akan dipresentasikan di hadapan dewan juri.
Ia menekankan pentingnya memahami setiap bagian dari judul penelitian, termasuk dasar, data, serta konteks yang digunakan dalam penelitian.
“Terhadap setiap kata dari judul, njenengan harus menguasai 5W+1H-nya, tahu dasar dari masing-masing kalimat dan data yang njenengan ambil,” pesannya.
Ahmad Ulin juga memberikan perhatian khusus terhadap unsur budaya dalam penelitian yang mengangkat naskah kuno karya pujangga Keraton Surakarta. Menurutnya, pemahaman terhadap konteks budaya menjadi bagian penting yang perlu dikuasai oleh peserta saat menyampaikan hasil penelitian.
“Karena ini berkaitan dengan teks kuno milik Keraton Surakarta, maka dalam menyampaikannya menggunakan langgam macapat. Cari nada yang paling pas sesuai dengan langgam macapat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia meminta kedua siswi untuk memahami secara mendalam naskah kuno yang menjadi objek penelitian, termasuk salinan dan sumber yang digunakan. Hal tersebut penting sebagai bekal dalam menghadapi berbagai pertanyaan dari dewan juri.
“Dengan membuat judul ‘Aktualisasi Naskah Kuno Karya Pujangga Keraton Surakarta dalam Menghadapi Krisis Kesantunan Generasi Z’, njenengan harus tahu betul naskah dan salinannya. Sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan juri,” tegasnya.
Ahmad Ulin menilai penelitian tersebut tidak hanya memiliki nilai akademis, tetapi juga mengangkat aspek pelestarian budaya dan sejarah. Menurutnya, naskah kuno karya pujangga Keraton Surakarta merupakan bagian penting dari warisan sejarah yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Tentu naskah kuno karya pujangga Keraton Surakarta ini menjadi sebuah nilai sejarah penting yang harus tetap kita lestarikan. Dengan diangkatnya menjadi sebuah karya tulisan, maka kita berharap semoga pemuda-pemudi, khususnya Generasi Z, dapat belajar,” pungkasnya.
Keikutsertaan Aisha Ilfa Dilla dan Khansa Az Zahra Alifa dalam final OPSI Nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi MTsN Surakarta 1 dan Kemenag Kota Surakarta. Selain menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan penelitian, karya tersebut juga menjadi salah satu upaya memperkenalkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam warisan intelektual dan budaya Keraton Surakarta kepada generasi muda.(Za)














