Kota Surakarta (Humas) – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) secara resmi menggelar acara kick off program Rumah Ibadah Ramah Pemudik pada Jumat (13/3/2026), menandai dimulainya operasi pelayanan besar-besaran bagi jutaan pemudik yang akan melakukan perjalanan Lebaran 2026 . Program unggulan ini merupakan wujud nyata transformasi fungsi rumah ibadah yang tidak hanya menjadi pusat ritual keagamaan, tetapi juga menjelma menjadi ruang layanan sosial dan kemanusiaan yang inklusif bagi seluruh masyarakat. Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa rumah ibadah lintas agama yang tersebar di sepanjang jalur mudik nasional harus benar-benar siap melayani para pemudik selama 24 jam penuh, karena mereka datang silih berganti sepanjang waktu. Data Kementerian Agama mencatat sebanyak 6.859 masjid, 106 Gereja Kristen, 477 Gereja Katolik, 45 Rumah Ibadah Buddha, dan puluhan pura telah disiapkan di berbagai provinsi untuk menyambut kedatangan para musafir yang membutuhkan tempat beristirahat .
Menyambut program nasional tersebut, Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta bergerak cepat dengan menggelar Rapat Koordinasi persiapan penyambutan program rumah ibadah ramah pemudik pada Selasa (10/3/2026) di Aula Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT). Rapat yang dipimpin langsung oleh Kepala Kankemenag Kota Surakarta Ahmad Ulin Nur Hafsun, ini dihadiri oleh jajaran lintas sektor, menunjukkan keseriusan dalam menyukseskan program tersebut. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surakarta Moh. Qoyim, perwakilan Bagian Kesra Pemerintah Kota Surakarta Bambang Harjanto, Kasi Bimas Islam Achmad Arifin, Penyelenggara Kristen Desember Darsini, serta perwakilan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan terkait. Kehadiran unsur pemerintah daerah dan ormas keagamaan ini memperkuat komitmen bersama bahwa pelayanan kepada pemudik adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.
Dalam arahannya, Ahmad Ulin Nur Hafsun memaparkan secara rinci titik-titik yang telah ditentukan sebagai lokasi rumah ibadah ramah pemudik di Kota Surakarta, meliputi Masjid Hj. Sri Sarsanti Soejitno, Masjid Muqorrobin, GBI Panularan, dan Vihara Darma Sundara. Pemilihan lokasi yang mencakup empat rumah ibadah dari berbagai agama ini mencerminkan semangat toleransi dan kerukunan umat beragama yang selama ini menjadi ciri khas Kota Surakarta. Yang menarik, Kepala Kankemenag menegaskan bahwa relawan yang akan diterjunkan tidak hanya berasal dari Penyuluh Agama Islam, tetapi juga seluruh Penyuluh Lintas Agama. “Jadi bukan hanya Penyuluh Agama Islam, Penyuluh Agama dari Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan jika memungkinkan Khonghucu nanti juga akan bertugas,” ujar Ahmad Ulin Nur Hafsun, menegaskan bahwa pelayanan ini benar-benar inklusif dan melibatkan semua unsur.

Momentum rapat koordinasi ini juga dimanfaatkan oleh BAZNAS Kota Surakarta untuk merapatkan barisan dengan Kankemenag. Ketua BAZNAS Kota Surakarta Moh. Qoyim mengungkapkan bahwa pihaknya mendapatkan himbauan langsung dari BAZNAS pusat untuk mendukung penyediaan titik-titik masjid ramah ibadah. Namun demikian, ia menilai bahwa di Kota Surakarta, hasil yang lebih maksimal akan tercapai jika BAZNAS bersinergi secara erat dengan Kankemenag. “Sinergi ini penting agar bantuan dan dukungan yang kita berikan tepat sasaran dan terintegrasi dengan program pelayanan yang sudah dirancang oleh Kankemenag,” ujar Moh. Qoyim. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat fasilitas yang disediakan di setiap titik rumah ibadah, mulai dari ketersediaan makanan ringan, air minum, hingga dukungan logistik lainnya bagi para pemudik yang singgah.
Ahmad Ulin Nur Hafsun juga menyampaikan informasi penting mengenai kedatangan tim dari Radio Elsinta Jakarta yang akan melaksanakan program Ekspedisi Masjid Indonesia (EMI) Tahun 2026 pada hari Minggu (29/3/2026). Kehadiran media nasional ini menjadi momentum strategis untuk menampilkan wajah kerukunan dan pelayanan umat beragama di Kota Surakarta. Oleh karena itu, ia mewanti-wanti agar di hari-hari pelaksanaan rumah ibadah ramah pemudik yang berlangsung mulai H-5 sampai dengan H+5 Lebaran, seluruh komponen relawan hadir secara lengkap dan tertib sesuai dengan jadwal penugasan.
“Saya pesan seluruh relawan lengkap dari seluruh komponen, BAZNAS, Penyuluh Agama, Ormas, harus disiplin berada di tempat. Harus kelihatan semangat dan guyub,” pintanya.
Lebih jauh, Ahmad Ulin Nur Hafsun memberikan arahan strategis terkait branding dan publikasi kegiatan. Ia meminta agar setiap kali ada tamu atau pemudik yang mampir, para relawan tidak hanya memberikan pelayanan prima, tetapi juga mampu menangkap momen-momen yang menarik untuk menunjukkan nilai-nilai toleransi dan kerukunan.
“Nyuwun tulung nanti setiap kali ada tamu atau pemudik mampir, sekiranya menarik untuk menunjukkan nilai-nilai toleransi dan kerukunan, bisa angkat pemberitaannya,” tuturnya.
Arahan ini menunjukkan bahwa Kankemenag Kota Surakarta tidak hanya fokus pada pelayanan fisik, tetapi juga pada upaya membangun narasi positif tentang kerukunan umat beragama yang dapat menginspirasi daerah lain. Dengan semangat guyub dan disiplin yang ditanamkan, Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta optimis dapat menyukseskan program rumah ibadah ramah pemudik sekaligus memperkuat citra Surakarta sebagai kota toleran yang ramah terhadap siapa pun, kapan pun, dan dari latar belakang agama manapun. (rmd)






















