Kota Surakarta (Humas) – Bertempat di Balai Tawangarum pada hari Selasa (31/3/2026), Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Guru Raudatul Athfal (IGRA) Kota Surakarta menggelar acara Halal Bihalal dengan tema “Merajut Silaturahmi, Menguatkan Ukhuwah dan Sinergi dalam Rangka Profesionalisme menuju Guru RA Berkualitas”. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh sejumlah tamu undangan diantaranya jajaran Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta; Kepala Kantor Ahmad Ulin Nur Hafsun, Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubbag TU) Bagus Sigit Setiawan, Pengawas RA Sarkin, Pengawas Madrasah Istikomah, Bunda RA Kota Surakarta Nihayatul Husna; Kepala Dinas Pendidikan Dwi Heriyatno, serta Kepala RA se-Kota Surakarta sekaligus Pengurus IGRA.
Ketua IGRA Kota Surakarta, Sri Harpeni, dalam sambutannya menyampaikan pesan mendalam bahwa semangat halal bihalal hendaknya dimaknai sebagai semangat titik nol baru untuk kembali mengajar dan mencetak generasi berakhlakul karimah di Kota Surakarta. Ia menegaskan posisi strategis guru RA sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak usia dini. Di akhir sambutannya, Sri Harpeni dengan penuh semangat berseru, “Siapa kita? Guru RA. Guru RA selalu di hati, selalu dinanti!” Seruan ini disambut meriah oleh seluruh guru RA yang hadir, menciptakan atmosfer kebersamaan dan kebanggaan akan profesi mulia mereka.

Kegiatan juga dimeriahkan dengan sesi penampilan dari seorang guru RA yang berhasil meraih Juara 2 Tingkat Provinsi dalam Lomba Germas Cintaku Guru Berkisah. Penampilan tersebut menjadi inspirasi bagi para peserta tentang bagaimana kreativitas dan dedikasi guru dapat membawa prestasi di tingkat provinsi. Sesi ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa guru RA di Surakarta tidak hanya mengajar, tetapi juga terus berkarya dan berinovasi dalam mendidik generasi muda.
Dwi Hariyatno dalam sambutannya mengaku teringat pada masa TK-nya saat menyaksikan penampilan guru yang merupakan peserta lomba tersebut, karena ia paling suka dengan sesi makan bersama. Setelah itu, Dwi Hariyatno melanjutkan dengan membacakan sambutan Wali Kota Surakarta yang berisi pesan penting tentang hak belajar warga negara Indonesia selama 14 tahun, di mana satu tahun di antaranya adalah pendidikan dasar. Disebutkan bahwa Kementerian Agama yang di dalamnya ada RA, sementara di tingkat pendidikan formal ada PAUD, KB, dan TK, pada prinsipnya sama-sama menyediakan pendidikan dasar untuk melanjutkan jenjang berikutnya.
“Peran menjadi guru RA merupakan amanah mulia, dan nilai-nilai dasar keislaman ditanamkan kepada anak-anak pada masa pendidikan RA ini diharapkan dapat membentuk karakter serta menumbuhkan generasi yang unggul tidak hanya dalam berilmu, namun juga berakhlakul karimah,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kesabaran, dedikasi, dan keikhlasan para guru dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan tetapi juga menyejukkan dan menyenangkan, serta mengajak momentum ini untuk saling memaafkan sekaligus menjadi titik awal komitmen mencetak generasi unggul dan berakhlakul karimah.
Sementara itu, Ahmad Ulin Nur Hafsun dalam pembinaannya menyampaikan bahwa halal bihalal hanya bisa dilakukan dengan hati, sebagaimana tercantum dalam ikrar Halal Bihalal yang dibacakan saat apel Halal Bihalal Senin (30/3/2026) lalu yang isinya “memaafkan segala kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja, yang lahir dan batin.”
Ia kemudian mengupas makna dari kata “halal” yang artinya mengurai yang ruwet, mencairkan sesuatu yang beku, dan menghangatkan sesuatu yang dingin, serta saling memaafkan. “Maka hubungan antar RA yang tadinya ruwet jadi tidak ruwet, dingin menjadi hangat,” ujarnya, yang disambut dengan anggukan dan senyum penuh makna dari para guru dan undangan.

Lebih lanjut, Ahmad Ulin Nur Hafsun menyampaikan tiga tingkatan maaf versi Quraisy Shihab yang sangat relevan untuk direnungkan, yaitu pertama, memaafkan tapi tidak melupakan atau masih mengingat; kedua, memaafkan tapi masih membekas; dan ketiga, memaafkan dan melupakan. Ia mengajak seluruh guru RA untuk terus naik ke tingkatan maaf yang tertinggi, karena dengan saling memaafkan secara tulus, ukhuwah dan sinergi di antara sesama pendidik akan semakin kuat. Pembinaan ini memberikan pencerahan batin bagi seluruh peserta dalam menyikapi dinamika hubungan antarmanusia di lingkungan kerja dan kemasyarakatan.
Tak lupa Ahmad Ulin Nur Hafsun juga mengulas program unggulan nasional, yaitu Asta Protas Kementerian Agama RI serta program Wakaf Uang dengan nazhir BWI Provinsi Jawa Tengah. Program ini menjadi bukti nyata bahwa Kemenag tidak hanya fokus pada aspek spiritual dan pendidikan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi umat berbasis wakaf. Dengan adanya sosialisasi program tersebut di tengah acara Halal Bihalal IGRA, Kemenag Kota Surakarta menunjukkan peran aktifnya dalam memberikan informasi layanan keagamaan yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme guru RA. Hal ini sejalan dengan tema acara, yaitu menguatkan sinergi menuju guru RA yang berkualitas. Sinergi antara IGRA, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan Pemerintah Kota Surakarta terus diperkuat untuk mewujudkan pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan menyenangkan. Momentum silaturahmi ini pun menjadi titik tolak kebangkitan baru bagi dunia pendidikan Islam di tingkat dasar di Kota Surakarta. (rmd)























