Surakarta ( Humas) – Peningkatan Ketaqwaan Guru Pendidikan Agama Islam Kota Surakarta Tahun 1447 H/ 2026 M diadakan oleh KKG PAI (06/03/2026) di Aula Korwil II Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Kegiatan diikuti sekitar 100 Guru Pendidikan Agama Islam baik dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Turut hadir dan menyampaikan sambutan, Kepala Kankemenag Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun; serta Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan, Murti Pangarso.
Sambutan yang disampaikan oleh Murti Pangarso, memberikan kabar bahagia pada seluruh Guru PAI. Ia menyampaikan terkait akan diturunkannya Tunjangan Hari Raya dan Gaji ke-13 Th 2025 yang sudah masuk dalam perencanaan. “Dana sebesar Rp 19 miliar lebih dari pemerintah pusat sudah ditransfer ke kas daerah, walaupun masih ada kekurangan sekitar 500 juta rupiah dan saat ini sedang dalam proses penyelesaian,”tuturnya. Ia menambahkan bahwa Walikota Solo telah memberikan kepastian bahwa hak tersebut akan dibayarkan.

Selanjutnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, memberikan arahan mendalam mengenai makna syukur dan tanggung jawab profesi di hadapan para Guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan harus terwujud dalam tindakan nyata dan peningkatan kinerja.
Ahmad Ulin menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga aspek dalam bersyukur. Pertama adalah merasakan nikmat tersebut dengan hati sebagai bentuk pengakuan atas kuasa Allah SWT. Kedua, nikmat tersebut harus diucapkan melalui lisan dengan kalimat hamdalah.
“Kita tampakkan rasa syukur itu, sebab dengan menampakkan rasa syukur berarti kita telah melawan kekikiran. Sebab kalau kikir, itu kebalikannya dengan syukur. Kikir itu pengennya menyembunyikan,” ujar Ahmad Ulin saat memberikan sambutan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan para guru, khususnya terkait pencairan tunjangan seperti THR dan gaji ke-13, agar tidak menyembunyikan kenikmatan tersebut, melainkan menjadikannya pemacu untuk beramal baik.
Aspek ketiga yang ditekankan adalah tasharrufun ni’am ala ma aradal mun’im, yaitu menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Nikmat. Ahmad Ulin menjelaskan bahwa Allah memberikan nikmat agar hamba-Nya bisa beribadah dengan lebih baik, baik ibadah kepada Allah maupun kepada sesama manusia dan keluarga.
Menutup arahannya, Ahmad Ulin mengajak seluruh guru untuk meningkatkan kompetensi moral sebagai fondasi dalam menjalankan tugas. Ia mengajak para guru untuk menunjukkan rasa syukur dengan memiliki komitmen yang lebih baik dalam bekerja dan senantiasa menebar amal kebaikan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan dan Peningkatan Ketaqwaan, di isi oleh Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, Encep Moh Ilham. Ia menyampaikan tentang definisi sifat dan karakter, serta mengajak seluruh peserta untuk belajar dari perumpamaan karakter melalui hewan, seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an.
“Alquran menggambarkan karakter manusia melalui empat perumpamaan hewan, contohmya Laba-laba dalam QS.Al-Ankabut: 41 sebagai simbol kerapuhan bagi mereka yang mencari pelindung selain Allah, rumahnya adalah yang paling lemah,”jelasnya.
Belajar dari seekor lebah ( QS,. An-Nahl: 69) ia menjelaskan memiliki karakter produktif, disiplin, dan hanya mengonsumsi yang baik untuk memberikan manfaat (obat) bagi sesama. Selanjutnya, dari seekor semut (An-Naml: 18) yang menggambarkan kerja sama, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta etos kerja pantang menyerah. Diakhiri dengan perumpamaan keledai (QS.Al-Jumuah: 5), perumpamaan buruk bagi pemilik ilmu yang tidak mengamalkannya, seperti keledai memikul kitab tebal.

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula sosialisasi terkait akan digalakkannya Wakaf Uang sebagai program Kemenag RI. Penyelenggara Zakat Wakaf, Arif Ansori menyisipkan dan resmi mengajak masyarakat untuk mulai mengadopsi gaya hidup baru melalui gerakan “Tiada Hari Tanpa Wakaf.” Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa wakaf bukan lagi sekadar instrumen ibadah klasik, melainkan pilar ekonomi umat yang sangat fleksibel dan berkelanjutan.
“Saat ini wakaf tidak lagi terbatas pada aset tidak bergerak seperti tanah atau bangunan saja, masyarakat kini bisa mewakafkan benda bergerak, termasuk kendaraan pribadi hingga wakaf dalam bentuk uang tunai. Kehadiran wakaf uang memberikan peluang bagi siapa saja untuk menjadi wakif tanpa harus menunggu memiliki aset properti yang besar,” jelasnya. Menutup penyampaiannya, Arif Ansori berharap agar kesadaran akan wakaf uang terus meningkat di tengah masyarakat. Ia meyakini bahwa jika dikelola dengan profesional, wakaf akan menjadi mesin ekonomi yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan sosial di Indonesia secara mandiri. (may)



















