Kota Surakarta (Humas) – Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (K2 RA) Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta menggelar workshop Guru Inspiratif bertema “Best Practice & Media Pembelajaran Berbasis Cinta (KBC)” di RA Alif Smart, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta pada Sabtu (12/9/2026). Kegiatan yang dimulai tepat waktu pukul 07.30 WIB tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Kementerian Agama Kota Surakarta Sarkin.
Dalam arahan dan sambutannya, Sarkin mengapresiasi terobosan K2 RA Banjarsari yang memfasilitasi peningkatan kompetensi pendidik secara terarah dan terfokus. Ia berpesan agar guru RA senantiasa menyelaraskan niat tulus dalam mendampingi anak usia dini serta membiasakan diri mendokumentasikan praktik-praktik baik dalam proses pembelajaran.
“Guru RA memegang peranan krusial sebagai peletak fondasi akhlak dan karakter generasi penerus bangsa. Ketika pembelajaran dihadirkan dengan sentuhan cinta dan keikhlasan, ruang-ruang kelas akan bertransformasi menjadi taman belajar yang menyenangkan dan sarat makna. Nilai-nilai ketulusan inilah yang harus terus kita rawat, sembari kita biasakan mendokumentasikan karya-karya inovasi tersebut menjadi praktik baik,” pesan Sarkin.

Workshop diikuti 36 guru RA yang terbagi dalam dua kelas untuk memastikan proses pendampingan berlangsung intensif dan terfokus. Sebanyak 27 peserta mengikuti kelas Media Pembelajaran Berbasis Cinta (KBC), sedangkan 9 peserta lainnya mengikuti kelas penulisan dan penyusunan Best Practice.
Kegiatan dirancang dengan pendekatan pembelajaran aktif. Peserta tidak hanya mendapatkan penguatan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan penyusunan karya dan mempresentasikan hasilnya untuk memperoleh umpan balik dari narasumber.
Di kelas Best Practice, narasumber Rosida Nur Syamsiyati membimbing peserta menggali ide dari berbagai persoalan dan dinamika yang dijumpai dalam pembelajaran di kelas RA untuk dikembangkan menjadi karya Best Practice.
Dengan memanfaatkan laptop yang dibawa masing-masing, peserta mulai menyusun draf karya ilmiah populer berdasarkan kerangka yang telah diberikan. Pendampingan dilakukan secara langsung agar pengalaman dan praktik pembelajaran yang dimiliki guru dapat dituangkan secara sistematis dan mudah dipahami.
“Setiap dinamika di kelas anak usia dini sesungguhnya menyimpan sejuta potensi praktik baik. Guru tidak perlu mencari hal yang rumit di luar, melainkan cukup mengamati, mencatat, dan mengemas apa yang dilakukan sehari-hari dengan pendekatan ilmiah, terstruktur, dan solutif,” ungkap Rosida.

Pada sesi berikutnya, peserta memaparkan draf naskah yang telah disusun. Rosida memberikan penguatan dan masukan terhadap gagasan, substansi, serta kelengkapan naskah. Melalui pendampingan tersebut, peserta diarahkan untuk menyempurnakan karya agar lebih sistematis, aplikatif, dan mampu menggambarkan praktik baik yang telah diterapkan di satuan pendidikan masing-masing.
Sementara itu, di kelas Media Pembelajaran Berbasis Cinta (KBC), narasumber Mila Faila Shofa mengajak peserta mengeksplorasi ide permainan edukatif yang ramah anak. Peserta mendapatkan penguatan mengenai pemilihan bahan, termasuk pemanfaatan material alam dan loose parts, kemudian dilanjutkan dengan praktik membuat alat permainan edukatif beserta modul panduannya. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan media pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.
“Media pembelajaran berbasis cinta lahir dari pemahaman mendalam atas dunia batin anak. Anak-anak belajar paling optimal saat mereka merasa aman, dihargai, dan dicintai. Oleh karena itu, media yang dirancang harus menstimulasi multi-sensori dan memanfaatkan bahan-bahan ramah anak yang mudah dijangkau tanpa membebani psikologis anak,” terang Mila.

Pada sesi lanjutan, peserta mempresentasikan media permainan edukatif hasil karya mereka. Narasumber memberikan masukan konstruktif sebagai bahan penyempurnaan agar media yang dihasilkan semakin efektif dan sesuai dengan prinsip pembelajaran berbasis cinta.
Ketua K2 RA Kecamatan Banjarsari, Suryani Wulandari, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Ia menjelaskan bahwa workshop tersebut merupakan bagian dari persiapan menghadapi ajang kompetisi dan penghargaan tingkat nasional, Apresiasi Guru Raudhatul Athfal Indonesia (Upguraindo) Tahun 2027.
Suryani berharap kegiatan tersebut dapat semakin memotivasi para pendidik RA di Kecamatan Banjarsari untuk meningkatkan profesionalitas, mengembangkan kreativitas, serta menguatkan kepekaan dalam mendidik dengan hati.
“Semoga para pendidik RA di Kecamatan Banjarsari semakin profesional, kreatif, dan peka dalam mendidik dengan hati, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam membentuk generasi anak usia dini yang sehat, smart, dan taat di Kota Surakarta,” harapnya. (Iba/rmd)



















