Kota Semarang (Humas) – Pada sesi kedua Pembinaan Kakanwil Kemenag se-Indonesia di Grand Candi Hotel Semarang, Minggu (13/09/2026), usai Sekretariat Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin menyampaikan materi, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Ismail Chawidu melengkapi ajakan berpikir makro dengan menyampaikan materi yang menyentuh langsung peran kehumasan. Ia memanfaatkan momen pertemuan Kakanwil se-Indonesia dan Kakankemenag Kabupaten/Kota untuk mengingatkan bahwa tanggal 20 Oktober 2026 akan genap dua tahun kinerja Kabinet Merah-Putih, yang biasanya diikuti munculnya berbagai survei penilaian kinerja menteri.
Ismail Chawidu mengingatkan bahwa tahun sebelumnya Menteri Agama masuk tiga besar berkinerja baik, kemudian disusul dengan perolehan sejumlah penganugerahan yang diterima. Menghadapi momentum tersebut, ia menekankan bahwa capaian yang sudah diraih harus dipertahankan. Salah satu indikator yang digunakan adalah seberapa besar publikasi kegiatan yang disampaikan kementerian. Karena itu, ia membeberkan sejumlah langkah yang harus dilakukan jajaran Kemenag, terutama para kakanwil dan humas.

Pertama, pemberitaan harus berorientasi menyampaikan dampak, misalnya bagaimana kakanwil mengubah kondisi dari negatif menjadi positif. Kedua, pilih program yang langsung bersentuhan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, seperti layanan keagamaan, pemberdayaan di pesantren, bukti kerukunan yang dikerjakan, serta peningkatan kualitas kesejahteraan guru. Ketiga, buat dashboard kinerja publikasi sederhana dan hindari narasi panjang di website.
“Sampaikan publikasi yang berbasis data dan banyak menyebut angka, misalnya tentang capaian program berdampak yang sudah berhasil dicapai. Misal yang tadi melayani 50, sekarang bisa 150,” urainya.
Keempat, Ismail menegaskan bahwa kakanwil harus menjadi chip comunicator. Mereka diminta sering membuat opini, melakukan kunjungan lapangan, dan berdialog dengan masyarakat. “Humas bukan biaya, humas itu investasi. Sisihkan dari mana pun, untuk kesejahteraan humas,” tegasnya. Ia juga meminta agar respons humas cepat dan jangan dibiarkan bermalam.
Kelima, bangun content factory, di mana satu kegiatan dapat menghasilkan berita, reels, desain grafis, dan testimoni sekaligus. Keenam, buat human story, yakni kegiatan yang bersifat kemanusiaan. Menurut Ismail, di era keterbukaan informasi, kemampuan menyajikan berita positif menjadi penentu. “Siapa yang mampu menyajikan berita positif, itulah pemenangnya. Kalau dia diam saja, kita akan kalah,” pungkas Ismail Chawidu.
Bagi jajaran humas Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta yang hadir sekaligus bertugas sebagai naradamping Kakanwil Kemenag Provinsi Bali, arahan ini menjadi dorongan untuk memperkuat strategi komunikasi publik. Pesan bahwa humas adalah investasi menegaskan bahwa kerja komunikasi bukan pelengkap, melainkan bagian penting dari keberhasilan layanan keagamaan yang berdampak bagi masyarakat. (rmd)
















