Kota Semarang (Humas) – Suasana Grand Candi Hotel Semarang masih hangat oleh khidmat seremonial pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-XXXI Tahun 2026. Pada Minggu (13/09/2026), Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah memfasilitasi Pembinaan Kakanwil Kemenag se-Indonesia serta Kakankemenag Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah. Kegiatan bertema “Peningkatan Skill Menuju Kinerja Berdampak” ini menghadirkan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar sebagai pembicara utama, dan diikuti peserta dari berbagai daerah, termasuk jajaran humas dan protocol yang bertugas mendampingi para kepala kantor.
Dalam arahannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka dengan pesan reflektif tentang pentingnya menjaga ketenangan diri. Ia mengingatkan agar jajaran Kemenag tidak cepat mengambil kesimpulan ketika sedang berada dalam kondisi emosional, seperti marah, senang, panik, maupun merasa genting. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kualitas layanan keagamaan sangat ditentukan oleh kematangan sikap dan kejernihan berpikir para pegawai.

Memasuki materi inti, Nasaruddin Umar memaparkan tantangan Kementerian Agama serta sejumlah isu strategis yang menjadi agenda prioritas ke depan. Ia menegaskan bahwa Kemenag dituntut adaptif terhadap dinamika zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan yang moderat dan inklusif. Tantangan tersebut, menurutnya, harus dijawab dengan peningkatan kompetensi dan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Kemenag.
“Saya ingin memastikan bahwa setiap kita, bagian dari Kementerian Agama mampu menjadi teladan dalam melayani umat, bukan hanya dalam hal administrasi, tetapi juga dalam keteladanan sikap dan rohani,” tegas Nasaruddin Umar.
Dari sudut pandang kehumasan, pembinaan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat narasi layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Jajaran humas Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta yang hadir sekaligus mendampingi Kakanwil Kemenag Provinsi Bali mencatat bahwa arahan Menag menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan pusat dan implementasi di daerah, terutama dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan.

Peserta pembinaan menyambut baik arahan tersebut. Mereka menilai penekanan pada kualitas layanan keagamaan sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis. Bagi para Kakanwil, tantangan ke depan bukan hanya menjalankan program, tetapi memastikan setiap program benar-benar menyentuh dan dirasakan manfaatnya oleh umat.
Pembinaan ini sekaligus menegaskan posisi Kementerian Agama sebagai institusi yang tidak hanya mengurus aspek ritual, tetapi juga berperan aktif dalam membangun karakter bangsa. Dengan bekal arahan Menag, para Kepala Kantor baik di tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota diharapkan mampu menerjemahkan isu strategis menjadi langkah nyata di lapangan, termasuk melalui layanan keagamaan yang prima dan program pemberdayaan umat yang berkelanjutan. (rmd)

















