Kota Surakarta (Humas) – Inovasi pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan guru Sejarah MAN 1 Surakarta Rusdi Mustapa, berhasil meraih penghargaan The Best Idea Category dalam Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional EXTRANAS Ke-8 MA Plus Keterampilan dan MAKN se-Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah Plus Keterampilan (KKMA) Plus Keterampilan se-Indonesia tersebut berlangsung pada Kamis–Sabtu (10–12/9/2026) di Sport Center Lamongan, Jawa Timur. Prestasi ini menjadi capaian membanggakan bagi MAN 1 Surakarta, sekaligus menegaskan komitmen madrasah di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta dalam mendorong guru menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Inovasi bertajuk “Time Traveler History” tersebut berangkat dari persoalan nyata di kelas, di mana materi sejarah sering kali terasa jauh dari kehidupan murid. Kerangka pembelajaran ini menempatkan murid bukan sekadar sebagai penonton materi, melainkan sebagai “time traveler” yang harus mencari, menemukan, menganalisis, dan mengolah informasi sejarah. Pembelajaran dibangun melalui tiga elemen utama, yakni visual–mission–reflection, yang diwujudkan melalui video pembelajaran berbasis AI berjudul “Surakarta, Lahir Dari Luka Sejarah”.

Dalam inovasi ini, AI tidak ditempatkan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai alat bantu produksi media. Guru tetap memegang kendali dalam menentukan tujuan pembelajaran, memilih adegan, melakukan kurasi, memeriksa fakta sejarah, serta memastikan informasi tidak menyesatkan. Proses produksinya melibatkan ChatGPT untuk pengembangan ide dan naskah, ChatGPT dan Gemini AI untuk visual, Google Flow untuk mengubah gambar menjadi video, serta CapCut untuk penyuntingan akhir.
Kekuatan inovasi ini terletak pada integrasi antara teknologi dan aktivitas pembelajaran. Setelah menyaksikan video, murid mendapatkan LKPD Misi Time Traveler dan bekerja secara berkelompok. Pada penerapannya di kelas XII F6, sebanyak 35 murid dibagi menjadi tujuh kelompok yang menjalankan berbagai misi, mulai dari menangkap jejak sejarah, menyusun peta perjalanan waktu, menemukan rantai sebab-akibat, hingga menghubungkan pelajaran masa lalu dengan kehidupan masa kini. Pembagian peran seperti Navigator, Sejarawan, Analis, Pencatat, dan Juru Bicara dirancang agar murid terlibat aktif serta mengembangkan kemampuan berpikir historis, argumentasi, komunikasi, dan kolaborasi.

Inovasi ini juga terintegrasi dengan orientasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Cinta kepada ilmu ditumbuhkan melalui rasa ingin tahu dan pemeriksaan informasi; cinta kepada sesama diwujudkan melalui kerja kelompok dan komunikasi santun; sementara cinta tanah air dibangun melalui penghayatan sejarah lokal. Dengan pendekatan tersebut, TIME TRAVELER HISTORY memiliki tiga lapisan yang saling terhubung: teknologi sebagai alat, pedagogi sebagai desain, dan nilai cinta sebagai orientasi pembelajaran.
Rusdi Mustapa menjelaskan bahwa gagasan ini berawal dari kegelisahan terhadap pembelajaran sejarah yang terasa jauh dan abstrak.
“Saya ingin siswa tidak hanya mendengar cerita tentang masa lalu, tetapi seolah-olah memiliki kesempatan untuk menjelajahinya,” ujar Rusdi Mustapa.
Menurutnya, penggunaan AI harus tetap berada dalam kendali pedagogis guru. “Yang paling penting bukan seberapa canggih AI yang digunakan, tetapi bagaimana teknologi tersebut menjawab persoalan nyata di kelas. AI membantu membuat media, tetapi guru tetap harus menjadi perancang pengalaman belajar dan kurator informasi,” tegasnya.
Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Wardimin, menyambut positif capaian tersebut.
“Kami tentu bersyukur dan bangga atas capaian yang diraih Pak Rusdi. Ini menunjukkan bahwa guru madrasah memiliki kemampuan untuk berinovasi dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujar Ahmad Wardimin.

Ia berharap prestasi ini tidak berhenti pada penghargaan, melainkan terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi guru lain. Meski demikian, inovasi ini juga menyadari sejumlah keterbatasan, seperti produksi media yang membutuhkan waktu dan keterampilan, keluaran AI yang tidak selalu konsisten, serta ketersediaan perangkat dan koneksi yang berbeda. Karena itu, pengembangan selanjutnya diarahkan pada evaluasi yang lebih sistematis serta penguatan verifikasi fakta dan aktivitas berpikir peserta didik. Bagi Rusdi Mustapa, penghargaan ini menjadi momentum untuk terus mengembangkan gagasan tersebut.
“Saya melihatnya bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal untuk terus mengembangkan inovasi. Harapannya, TIME TRAVELER HISTORY dapat membuktikan bahwa pembelajaran sejarah bisa tetap kritis, berbasis fakta, tetapi juga dekat, menarik, dan bermakna bagi generasi sekarang,” tuturnya.
(rsd/rmd)
















