Surakarta (Humas) – Memahami tantangan masa remaja di era digital, Tim Humas MTsN Surakarta 1 kembali menggelar program edukatif SATUPOD DRAWINSKA dengan topik utama “Kesehatan Mental Remaja” (29/07/2026). Diskusi ini hadir sebagai bentuk komitmen nyata MTsN Surakarta 1 dalam mendukung program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) guna menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, dan responsif terhadap tumbuh kembang peserta didik.
Dipandu oleh jurnalis siswa, podcast ini menghadirkan dua sudut pandang pelengkap: psikologi ilmiah dan sastra. Narasumber yang hadir yakni R. Yuli Budi Rahayu (Psikolog) serta Faizah Mufiddina Ahmad (Penulis novel Jatuh Cinta pada Sinar-Nya dari Langit).
Dalam sesi psikologi, R. Yuli Budi Rahayu mengapresiasi tingginya kepedulian remaja saat ini terhadap isu kesehatan mental. Meski begitu, ia menekankan pentingnya sikap kritis agar tidak sembarangan melakukan self-diagnosis berdasarkan tren di media sosial.
Istilah-istilah seperti healing, burnout , hingga trauma perlu dipahami secara mendalam dan bersumber dari tenaga profesional. “Mencari bantuan ke orang tua, guru BK, atau psikolog bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian luar biasa untuk menjaga dan menyayangi diri sendiri,” tegasnya.
Ia juga menyoroti fenomena tekanan media sosial yang menuntut remaja selalu tampil sempurna dan produktif, di mana pengelolaan emosi serta lingkungan yang suportif menjadi kunci utama untuk menghadapinya.
Beralih ke sesi bedah novel Jatuh Cinta pada Sinar-Nya dari Langit, Faizah Mufiddina Ahmad membagikan alasan memilih dunia psikologi sebagai latar belakang tokoh utamanya. Menurut Faizah, ilmu psikologi dan sastra saling melengkapi: psikologi memberikan pemahaman ilmiah, sedangkan karya sastra hadir menyentuh hati dan menumbuhkan empati.
Melalui perjalanan tokoh Raeyza, pembaca diajak menyelami arti kesabaran, ikhtiar, serta keikhlasan dalam menghadapi ujian hidup. “Teruslah melangkah, walaupun pelan. Karena setiap langkah yang kalian ambil akan membawa kalian menuju keberhasilan. Jangan pernah takut untuk gagal, karena setiap proses yang kalian jalani adalah sebuah pencapaian, dan setiap pencapaian layak untuk diapresiasi,” tuturnya.
Melalui perpaduan nilai psikologi, literasi, dan keimanan ini, MTsN Surakarta 1 tidak hanya memberikan ruang diskusi yang sehat, tetapi juga membekali siswa dengan ketahanan diri resilience untuk menghadapi tantangan kependudukan di masa depan. Sebagai Sekolah Siaga Kependudukan, MTsN Surakarta 1 terus berupaya mencetak generasi muda yang sadar isu kesehatan mental, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta tangguh dalam menyongsong masa depan. (dna/my)
















