Kota Surakarta (Humas) – Di balik konten inspiratif, ada peran Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta yang mengawal Duta Disabilitas Provinsi Jawa Tengah, sekaligus bukti nyata anti korupsi dan gratifikasi yang belakangan santer digaungkan. Minggu (19/7/2026), Kankemenag Kota Surakarta yang diwakili oleh Penyuluh Agama Katolik dan Pelaksana Kehumasan ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak mengenal kata “libur” dan tidak memandang status, melainkan berorientasi pada kebermanfaatan bagi seluruh kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
Momen spesial ini berawal dari inisiatif kolaborasi untuk mengulas rumah ibadah ramah disabilitas yang datang dari Duta Disabilitas Jawa Tengah, Putri Priscylia Wahyuningsih, seorang aktivis, motivator, dan influencer asal Kota Semarang yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya. Bersama Kankemenag Kota Surakarta, Putri Priscylia Wahyuningsih yang akrab dipanggil Putri mendapatkan kemudahan bantuan berupa fasilitasi untuk membuat konten eksklusif di dua rumah ibadah ikonik di Solo, Masjid Raya Sheikh Zayed dan Gereja Katolik Santo Paulus Kleco.
Proses pengambilan gambar dan video semakin istimewa karena saat itu Putri didampingi langsung oleh Tenaga Ahli Madya pada Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia di era pemerintahan Presiden Joko Widodo Sunarman Sukamto yang akrab disapa Maman. Kehadiran Maman dari lingkungan Istana Kepresidenan ini menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap aksesibilitas rumah ibadah dan pemberdayaan kaum disabilitas.

Mengawal dari Pintu Masuk hingga Ruang VIP
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kankemenag Kota Surakarta Bagus Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa proses ini bermula dari adanya surat permohonan dari Putri yang diterima Kankemenag Kota Surakarta dan langsung direspons positif. Pihaknya tidak sekadar meluruskan administrasi persuratan, tetapi secara aktif menjembatani komunikasi dan koordinasi dengan Badan Pengelola Masjid Zayed hingga tahap administrasi final.
“Kami mengarahkan proses administrasi yang benar hingga surat permohonan ditujukan langsung ke Direktur Masjid. Namun, tidak berhenti di situ, kami mengawal dan menjembatani koordinasi hingga hari pelaksanaan,” ujar Bagus Sigit Setiawan.

Di lapangan, peran Penyuluh Agama Katolik Fransisca Putri dan pelaksana tugas Kehumasan, menjadi garda terdepan. Mereka tidak hanya menjadi jembatan komunikasi dengan pengurus gereja dan pengelola masjid, tetapi juga mengambil video, mengedit konten, dan mengoordinasikan seluruh skenario agar proses pengambilan gambar berjalan lancar. Kehadiran mereka memastikan bahwa Putri mendapatkan akses terbaik ke setiap sudut rumah ibadah.
Sambutan Hangat dan Fasilitas Lengkap dari Kedua Rumah Ibadah
Di Gereja Santo Paulus Kleco, rombongan disambut hangat oleh Dewan Pastoral Paroki. Mereka secara khusus menunjukkan area khusus disabilitas serta fasilitas pendukung yang tersedia. Kehadiran Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, yang kebetulan satu almamater dengan Putri di Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Diponegoro (FIB UNDIP), menegaskan sinergi antara pemerintah kota, institusi keagamaan, dan komunitas disabilitas dalam membangun ruang publik yang setara bagi semua. Astrid Widayani secara eksklusif membersamai proses pembuatan konten dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya.
“Ini bukan hanya baik, tapi sudah bagus sekali. Saya atas nama Pemerintah mengucapkan terima kasih kepada Gereja Santo Paulus Kleco atas semua kemudahan ini sehingga teman-teman disabilitas benar-benar nyaman beribadah,” puji Astrid Widayani.

Sementara itu, di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, keramahan yang sama juga dirasakan. Demi kesempurnaan ibadah, kursi roda khusus milik Putri yang dilengkapi sabuk pengaman wajib dibersihkan dan disucikan terlebih dahulu. Pihak masjid sendiri telah menyediakan enam kursi roda outdoor dan beberapa unit khusus indoor.
Rombongan kemudian diarahkan ke ruang VIP untuk bertemu dengan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Badan Pengelola Masjid, Suryo. Di sana, Suryo memaparkan bahwa perencanaan masjid sedari awal sudah melibatkan komunitas disabilitas. Hampir semua fasilitas ramah disabilitas tersedia, mulai dari area parkir mobil dekat pintu masuk, akses landai, hingga toilet khusus yang dilengkapi lift. Suryo pun menyemangati para difabel untuk terus berkarya dan beribadah tanpa rasa minder.
Layanan Gratis, Berintegritas, dan Anti Gratifikasi
Yang paling menonjol dari kegiatan yang berlangsung selama setengah hari ini adalah semangat pelayanan publik yang diusung oleh Kankemenag Kota Surakarta. Tidak ada biaya sepeser pun yang dikenakan kepada Duta Disabilitas atau pihak gereja/masjid atas jasa fasilitasi, pengawalan, hingga produksi konten yang dilakukan oleh pegawai Kemenag.
Hal ini menegaskan komitmen Kankemenag Kota Surakarta untuk menegakkan prinsip anti gratifikasi dan anti korupsi dalam setiap pelayanan. Para pegawai bertugas dengan penuh integritas sebagai abdi negara, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Inilah bentuk implementasi nyata dari birokrasi yang melayani dengan tulus dan profesional.

Pesan Inspiratif untuk Solo dan Indonesia
Aksi nyata Kemenag Kota Surakarta ini menjadi sebuah terobosan yang belum tentu dimiliki oleh instansi sejenis di daerah lain. Di akhir kunjungan, Suryo berpesan kepada seluruh penyandang disabilitas agar tidak berputus asa dan terus bersyukur. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk datang beribadah ke Masjid Zayed tanpa rasa ragu, karena petugas dan takmir siap membantu. Dari Gereja Katolik Santo Pauluas Kleco hingga Masjid Zayed, Kemenag Kota Surakarta telah membuktikan bahwa ruang publik dan layanan keagamaan di Kota Solo adalah ruang yang ramah bagi semua. Sebuah momentum yang diharapkan menjadi inspirasi dan trending topik di Kota Solo serta menjadi contoh bagi institusi lain di Indonesia. Sebuah pelayanan yang inklusif, gratis, dan berintegritas. (rmd)




















