Kota Surakarta (Humas) – Budaya literasi terus diperkuat di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta melalui kegiatan Penguatan Literasi Baca. Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa kelas 10 dan 11 bertempat di lantai 4 Gedung Jenderal Sudirman MAN 1 Surakarta pada Jum’at (10/4/2026). Kegiatan tersebut dirancang untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan keterampilan berbicara di depan publik.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diberikan waktu sekitar 20 menit untuk membaca satu bab buku pilihan mereka, kemudian menyampaikan inti sari bacaan melalui presentasi singkat selama lima menit di depan forum. Konsep ini tidak hanya mendorong siswa memahami isi bacaan, tetapi juga mengasah kemampuan merangkum gagasan dan menyampaikannya secara sistematis.
Kegiatan literasi baca tersebut semakin bermakna dengan kehadiran Kepala Pusat Penilaian Buku Agama dan Literasi Keagamaan Kemenag RI Sidik Sisdiyanto, yang menyampaikan materi “Literacy Lecture” kepada para siswa.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa membaca merupakan fondasi penting dalam membangun generasi pembelajar yang memiliki wawasan luas dan kemampuan berpikir kritis.
“Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir seseorang. Dari membaca, kita belajar memahami berbagai sudut pandang dan memperluas wawasan tentang dunia,” ungkapnya. Menurutnya, kegiatan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya melatih tiga kemampuan penting sekaligus yaitu membaca, berpikir, dan berbicara.

Pertama, membaca melatih kita sebagai pembaca memahami dunia karena setiap buku adalah jendela. Ketika pembaca membuka buku, maka pembaca sebenarnya sedang membuka jendela menuju pengalaman orang lain, yaitu pengalaman penulis, tokoh, bahkan zaman yang berbeda dari kehidupan kita.
Kedua, membaca melatih untuk berpikir kritis karena bacaan bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dipahami. Dan ketiga, membaca melatih keberanian pembaca untuk berbagi gagasan.
“Literasi tidak hanya berhenti pada membaca. Literasi tumbuh menjadi keberanian berbicara, kemampuan berpikir, dan semangat berbagi gagasan. Dan hari ini, saya melihatnya langsung, generasi muda yang belajar memahami dunia melalui buku. Ada satu kalimat yang menarik, readers are leaders. Orang yang banyak membaca sering kali menjadi orang yang mampu memimpin,” imbuh Sidik Sisdiyanto mendorong para siswa untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari, karena buku dapat menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran sepanjang hayat.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya membaca secara pasif, tetapi juga diajak untuk aktif memahami, menganalisis, dan membagikan gagasan dari bacaan yang mereka pelajari. Beberapa siswa yang berani maju untuk mempresentasikan hasil bacaan bahkan mendapatkan apresiasi berupa hadiah buku sebagai bentuk motivasi.
Program penguatan literasi ini menjadi bagian dari komitmen MAN 1 Surakarta dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk terus berkembang, berpikir kritis, dan memiliki keberanian menyampaikan ide. Melalui terselenggaranya kegiatan tersebut, diharapkan budaya membaca tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan intelektual yang melekat pada diri setiap siswa. (rsd/rmd)















