Kota Surakarta (Humas) – Inovasi pembelajaran terus dikembangkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Salah satunya terlihat dalam pembelajaran Sejarah di kelas XI F.3 Program Boarding School Sains Riset MAN 1 Surakarta pada Selasa (4/8/2026). Melalui pendekatan Mission Based Learning, materi sejarah dipadukan dengan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), khususnya pada kajian Demografi, sehingga Siswa tidak hanya mempelajari peristiwa masa lalu, tetapi juga mampu menganalisis dampaknya terhadap kehidupan penduduk.
Pembelajaran dikemas dalam sebuah misi investigasi bertajuk “History Case File 001: The Lost Village of Liyangan“. Siswa diajak mengungkap misteri hilangnya permukiman kuno di Situs Liyangan, Temanggung, yang diperkirakan musnah akibat erupsi Gunung Sindoro pada sekitar abad ke-10 hingga ke-11 Masehi.
Berbeda dengan pembelajaran konvensional, kegiatan diawali dengan Mission Start, di mana setiap kelompok memperoleh lembar investigasi (Case File) dan diminta memindai QR Code untuk mengakses video pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) yang telah disiapkan guru. Video tersebut menjadi sumber utama dalam mengumpulkan bukti sejarah sebelum Siswa melakukan analisis secara kolaboratif.

Seluruh kelompok kemudian mendiskusikan berbagai bukti yang ditemukan dari video untuk menjawab satu pertanyaan utama yang menjadi fokus pembelajaran Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
“Bagaimana musnahnya permukiman di Situs Liyangan akibat erupsi Gunung Sindoro memengaruhi kondisi demografi masyarakat pada masa itu?”
Melalui pertanyaan tersebut, Siswa diajak memahami bahwa sebuah bencana alam tidak hanya mengubah kondisi fisik suatu wilayah, tetapi juga memengaruhi jumlah penduduk, persebaran penduduk, perpindahan penduduk (migrasi), hingga keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, konsep demografi tidak dipelajari secara teoritis semata, tetapi dianalisis berdasarkan sebuah peristiwa sejarah yang nyata.
Suasana pembelajaran berlangsung sangat aktif. Siswa tampak antusias memindai QR Code, menyaksikan video investigasi, berdiskusi dalam kelompok, mencatat bukti-bukti sejarah, hingga menyusun hasil analisis untuk dipresentasikan pada sesi Mission Report. Setiap kelompok menyampaikan bukti yang ditemukan, menjelaskan hubungan antara bencana alam dan perubahan demografi, serta memberikan rekomendasi mitigasi apabila peristiwa serupa terjadi pada masa kini.

Guru mata pelajaran Sejarah MAN 1 Surakarta Rusdi Mustapa, menjelaskan bahwa pembelajaran sejarah perlu terus beradaptasi agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memberikan pengalaman belajar yang bermakna.
“Melalui pendekatan ini, Siswa tidak hanya mempelajari sejarah sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi belajar berpikir seperti seorang peneliti. Mereka mengumpulkan bukti, berdiskusi, menyusun argumen, lalu menghubungkannya dengan konsep demografi dalam Program Sekolah Siaga Kependudukan. Harapannya, Siswa memahami bahwa sejarah dan kependudukan saling berkaitan serta memiliki relevansi dengan kehidupan saat ini. Inilah semangat pembelajaran yang kami bangun melalui misi, kolaborasi, dan gamifikasi.”
Salah seorang Siswa kelas XI F.3, Mayllafayza, mengaku sangat menikmati pembelajaran tersebut karena memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran pada umumnya.
“Biasanya belajar sejarah identik dengan membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru. Kali ini kami seperti menjadi tim investigasi yang harus mencari bukti dari video, berdiskusi bersama kelompok, lalu menyimpulkan bagaimana bencana memengaruhi kehidupan penduduk. Belajarnya jadi lebih seru, menantang, dan membuat kami lebih mudah memahami materi demografi.”
Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Wardimin menyampaikan apresiasi terhadap inovasi pembelajaran yang memadukan sejarah, teknologi, dan Program Sekolah Siaga Kependudukan.
“Kami mendorong seluruh guru untuk terus menghadirkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan berpusat pada Siswa. Integrasi antara pembelajaran sejarah dengan Program Sekolah Siaga Kependudukan merupakan contoh praktik baik yang tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, literasi digital, dan kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial di masyarakat,” ujar Ahmad Wardimin.

Melalui kegiatan ini, MAN 1 Surakarta menunjukkan bahwa implementasi Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dapat diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran, termasuk sejarah. Peristiwa masa lalu menjadi media yang efektif untuk memahami dinamika kependudukan, sehingga pembelajaran terasa lebih kontekstual dan bermakna.
Pembelajaran diakhiri dengan sesi Mission Complete, sebagai simbol keberhasilan seluruh kelompok dalam menyelesaikan investigasi. Senyum dan antusiasme Siswa yang terekam dalam dokumentasi kegiatan menjadi bukti bahwa pembelajaran yang menggabungkan misi, kolaborasi, gamifikasi, pemanfaatan teknologi digital, dan pendekatan SSK mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat pemahaman konsep.
Sebagai bagian dari budaya inovasi pembelajaran di MAN 1 Surakarta, kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjadi jembatan untuk memahami berbagai persoalan kehidupan masa kini, termasuk dinamika kependudukan sebagai fokus Program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). (rsd/rmd)



















