Kota Surakarta (Humas) – Semangat peningkatan kapasitas aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta kian menemukan momentumnya. Mengacu pada amanat Undang-Undang No. 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara yang mewajibkan pengembangan kompetensi minimal 20 jam pelajaran (JP) per tahun, Kantor Kemenag (Kankemenag) Surakarta tak hanya sekadar memenuhi kewajiban, tetapi justru melahirkan ekosistem belajar baru. Dua program unggulan, yaitu gerakan “ASN, yuk, sinarengan nimba ilmu” (AYO SINAU) dan “Sharing Wawasan Untuk Layanan Unggul” (SRAWUNG), kini menjadi ikon baru dalam dinamika peningkatan kualitas pegawai di lingkungan instansi tersebut.
Kedua program yang dirancang sebagai forum diskusi interaktif berbasis digital itu selama ini rutin digelar setiap Jumat melalui Zoom Meeting. Namun, sebuah langkah maju baru saja diambil untuk memberikan legitimasi formal bagi kegiatan tersebut. Pada Kamis (30/7/2026), Kepala Kankemenag Kota Surakarta Ahmad Ulin Nur Hafsun, melaksanakan konsultasi dan audiensi langsung dengan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang Suyatno, di kantor BDK Semarang. Audiensi ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan upaya strategis untuk mendapatkan pengakuan resmi agar program AYO SINAU dan SRAWUNG dapat diakui sebagai bagian dari pemenuhan jam pelajaran pelatihan pengembangan kompetensi (bangkom) bagi ASN setempat.
“Kami ingin memastikan bahwa ruang-ruang belajar yang sudah kami bangun secara internal ini tidak berjalan sendiri. Kami berupaya dengan rekognisi dari BDK nanti, kami berharap program ini bisa terdokumentasi secara formal dan memberikan manfaat administratif sekaligus substantif bagi seluruh pegawai,” ujar Ahmad Ulin Nur Hafsun kepada awak media usai pertemuan. Dialog hangat antara kedua pimpinan tersebut turut membahas berbagai gagasan inovasi penunjang kinerja, menunjukkan bahwa sinergi kelembagaan menjadi kunci dalam menghadirkan layanan keagamaan yang lebih adaptif.

Audiensi tersebut berlanjut hangat dengan saling bertukar informasi mengenai gagasan dan inovasi penunjang kinerja lainnya. Program inovasi yang sangat menarik perhatian diantaranya pelatihan kader zakat hingga tingkat kecamatan, tebus karbon, dan mekanisme penilaian pegawai teladan berbasis portofolio secara berkala (manajemen talenta).
Satu hal menarik yang terungkap dalam proses penilaian pegawai teladan berbasis portofolio tersebut adalah ditemukannya berbagai potensi dan konsep inovatif yang selama ini belum pernah tergali ke permukaan. Pola evaluasi berbasis portofolio berhasil membuka tabir gagasan-gagasan cemerlang dari para pegawai yang sebelumnya terpendam karena keterbatasan ruang eksekusi. Banyak individu terbukti lihai merancang konsep matang, namun kerap terkendala dalam merumuskan strategi implementasi teknis di lapangan. (rmd)


















