Kota Surakarta (Humas) – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti Hotel Novotel Solo pada Minggu (29/3/2026) malam, saat Vihara Dhamma Sundara menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 24. Kegiatan yang berlangsung meriah ini tidak hanya menjadi ajang syukuran bagi komunitas Buddha, tetapi juga memperkuat harmoni lintas iman di Kota Surakarta. Kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta Ahmad Ulin Nur Hafsun beserta jajaran Penyuluh Lintas Agama menjadi penanda pentingnya sinergi pemerintah dalam mendukung kegiatan keagamaan yang berdampak luas bagi masyarakat. Tak ketinggalan, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, turut hadir mengisi barisan tamu undangan kehormatan, menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap kerukunan umat beragama.
Kehadiran Ahmad Ulin Nur Hafsun bersama para penyuluh lintas agama dalam kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari pelayanan keagamaan yang inklusif. Kankemenag Kota Surakarta terus berperan aktif dalam memfasilitasi ruang-ruang dialog dan perayaan keagamaan, memastikan setiap umat mendapat layanan yang setara sekaligus menguatkan nilai-nilai moderasi beragama. Momen HUT Vihara Dhamma Sundara ini pun dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi antar pemuka agama, mencerminkan bagaimana Kota Surakarta menjadi barometer toleransi nasional di mana institusi pemerintah hadir sebagai pengayom seluruh golongan.

Suasana perayaan semakin semarak dengan penampilan kesenian yang memadukan tradisi dan budaya Nusantara, yakni atraksi Wushu yang memukau serta alunan merdu musik Angklung. Namun, puncak acara tidak hanya berhenti pada hiburan, melainkan juga pada pengayaan spiritual dan intelektual melalui seminar bertajuk “The Dual Nature of The Human Mind: The Greatest Enemy and The Best Friend”. Para hadirin, yang terdiri dari tokoh lintas agama, akademisi, hingga masyarakat umum, diajak untuk menyelami secara mendalam tentang bagaimana pikiran manusia dapat menjadi dua sisi yang bertolak belakang.
Dalam sesi seminar yang menjadi sorotan, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Shafa Almirzana Mahathera, dengan lugas menjabarkan dinamika pengendalian pikiran. Shafa mengupas tuntas mekanisme di mana pikiran dapat berperan sebagai sahabat setia yang membawa pada kedamaian, namun bisa pula berbalik menjadi musuh terbesar jika tidak dikelola dengan bijak. Untuk memperjelas konsep tersebut, ia mengangkat contoh menarik melalui the elephant rope metaphor atau metafora tali gajah, yang menggambarkan bagaimana keterbatasan persepsi dan masa lalu seringkali menjadi belenggu yang membuat pikiran justru menjerat dirinya sendiri.

Usai sesi seminar yang membuka wawasan, acara dilanjutkan dengan talkshow yang menghadirkan Bhikku Sri Pannavaro Mahathera. Dalam dialog interaktif tersebut, Bhikku Sri Pannavaro memberikan penguatan mendalam terhadap materi yang telah disampaikan oleh Prof. Shafa. Beliau menekankan bahwa akar dari penderitaan yang dialami manusia seringkali berpangkal pada attachment atau kemelekatan. Menurutnya, perdamaian dunia yang sering didengungkan bukanlah hal yang mustahil, namun langkah awalnya harus dimulai dari hal yang paling fundamental, yaitu menata dan menenangkan pikiran masing-masing individu.
Lebih lanjut, Bhikku Sri Pannavaro Mahathera menyoroti bagaimana konsep-konsep tertentu yang terbangun dalam diri kerap menjadi penjara bagi pikiran manusia. Ia mengingatkan bahwa kemelekatan tidak muncul secara instan, melainkan karena diulang-ulang dan dibiasakan. “Konsep-konsep tertentu memenjara pikiran kita sendiri. Kemelekatan muncul karena diulang-ulang,” ujarnya di hadapan para peserta. Pernyataan ini menjadi penegas bahwa kesadaran dan pengendalian diri adalah kunci untuk membebaskan diri dari belenggu pikiran negatif.
Peringatan HUT ke24 Vihara Dhamma Sundara yang menggabungkan unsur perayaan, seni budaya, serta edukasi spiritual ini pun berlangsung lancar dan penuh makna. Dukungan penuh dari Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta melalui kehadiran para penyuluh lintas agama tidak hanya memastikan informasi layanan keagamaan tersampaikan secara merata, tetapi juga membuktikan bahwa kegiatan keagamaan yang moderat dan inklusif mampu menjadi wadah pemersatu bangsa. Di tengah dinamika global, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa harmoni dimulai dari pemahaman diri sendiri, sebuah pesan yang viral bukan karena gegap gempita, namun karena kedalaman nilai yang ditawarkannya. (rmd)





















