Kota Surakarta (Humas) – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memberikan peluang baru bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Peluang tersebut menjadi fokus dalam Workshop “Optimalisasi AI sebagai Mitra Guru” yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Ekonomi Madrasah Aliyah (MA) Korwil 2 Jawa Tengah, pada Selasa (11/8/2026), bertempat di Aula Lantai 4 Gedung Jenderal Sudirman MAN 1 Surakarta.
Kegiatan tersebut menghadirkan Guru Sejarah MAN 1 Surakarta Rusdi Mustapa sebagai narasumber. Peserta workshop adalah guru pengampu mata pelajaran ekonomi yang terbiasa mengedepankan kegiatan yang bersifat inspiratif, praktis, dan kolaboratif. Melalui workshop ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada berbagai potensi AI dalam dunia pendidikan, tetapi juga diajak melihat secara langsung bagaimana AI dapat digunakan untuk membantu guru mengembangkan ide pembelajaran menjadi berbagai produk pembelajaran.
Mulai dari penyusunan materi, modul ajar, LKPD, presentasi, poster, asesmen, rubrik penilaian, video pembelajaran, hingga berbagai bentuk konten digital dapat dikembangkan dengan bantuan AI. Koordinator MGMP Ekonomi MA Korwil 2 Jawa Tengah sekaligus Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Wardimin, mengatakan bahwa pemanfaatan AI menjadi salah satu kompetensi yang perlu mulai dikuasai guru di tengah perkembangan teknologi pendidikan.
“Pemanfaatan AI menjadi kebutuhan yang semakin penting bagi guru. Melalui kegiatan ini, kami ingin guru ekonomi tidak hanya mengenal AI secara teori, tetapi benar-benar memahami bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk membantu menyiapkan pembelajaran yang lebih kreatif dan menarik,” ujar Ahmad Wardimin.
Teknologi tetap ditempatkan sebagai mitra guru, bukan sebagai pengganti peran guru. Guru tetap menjadi pengarah, sementara AI dapat membantu mempercepat dan mengembangkan berbagai kebutuhan pembelajaran.
Bagi Rusdi Mustapa, penggunaan AI dalam pembelajaran tidak semestinya membuat guru kehilangan peran kreatifnya. Justru sebaliknya, AI dapat digunakan untuk membantu guru mengembangkan gagasan yang sudah dimilikinya.
“Saya ingin berbagi pengalaman bahwa AI sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti oleh guru. Kita tidak perlu menjadi ahli teknologi terlebih dahulu untuk mulai menggunakannya. Yang paling penting adalah guru memiliki ide pembelajaran yang jelas, kemudian AI kita manfaatkan untuk membantu mengembangkan ide tersebut,” jelas Rusdi Mustapa.

Ia menambahkan, AI dapat membantu guru dalam berbagai pekerjaan teknis sehingga waktu dan energi guru dapat lebih banyak diarahkan pada proses pembelajaran dan pendampingan peserta didik.
“AI dapat membantu kita mengembangkan materi, media, aktivitas, maupun asesmen. Tetapi ide, tujuan pembelajaran, dan keputusan pedagogis tetap berada di tangan guru,” tegasnya.
Dalam workshop tersebut, Rusdi Mustapa juga membagikan pengalaman praktik baik yang telah dilakukan dalam pembelajaran sejarah di MAN 1 Surakarta. Salah satu praktik baik yang ditunjukkan adalah bagaimana satu ide pembelajaran dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk karya dengan bantuan AI. Sebuah topik pembelajaran dapat dikembangkan menjadi modul ajar, LKPD, bahan presentasi, poster, video, asesmen, hingga konten publikasi digital.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa penggunaan AI tidak harus dimulai dari teknologi yang rumit. Guru dapat memulainya dari kebutuhan pembelajaran yang sederhana.
“Saya tidak ingin guru pulang dari kegiatan ini hanya membawa pengetahuan tentang beberapa aplikasi AI. Saya ingin mereka pulang membawa satu keyakinan bahwa ada cara baru untuk bekerja sebagai guru,” kata Rusdi Mustapa.
Pendekatan tersebut juga relevan diterapkan dalam pembelajaran ekonomi. Guru dapat memanfaatkan AI untuk mengembangkan materi seperti inflasi, permintaan dan penawaran, APBN, pasar modal, kebijakan moneter, hingga isu ekonomi aktual menjadi pengalaman belajar yang lebih kontekstual.
Workshop ini dirancang tidak hanya berupa pemaparan materi. Peserta juga diajak melihat demonstrasi serta mencoba secara langsung pemanfaatan AI untuk kebutuhan pembelajaran. Sukron Habibi, perwakilan guru ekonomi, menilai pendekatan praktik langsung menjadi salah satu hal menarik dalam kegiatan tersebut.
“Yang menarik dari workshop ini adalah kami tidak hanya mendapatkan penjelasan tentang AI, tetapi diajak langsung untuk mencoba. Dari satu ide atau satu materi ekonomi, ternyata bisa dikembangkan menjadi berbagai bentuk media pembelajaran,” ungkap Sukron.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai pemanfaatan AI dalam pekerjaan guru sehari-hari. “Ini memberikan pengalaman baru dan membuat kami lebih percaya diri untuk mulai menggunakan AI dalam pembelajaran. Ternyata kita tidak harus langsung menguasai semuanya. Kita bisa mulai dari kebutuhan yang sederhana, kemudian mengembangkannya,” tambahnya.
Rusdi Mustapa juga menambahkan bahwa perkembangan teknologi seharusnya justru menjadi momentum bagi guru untuk semakin kreatif.
“Guru tidak harus menjadi orang yang paling menguasai teknologi. Tetapi guru perlu memiliki kemauan untuk terus belajar dan mencoba. Ketika kita memiliki ide yang baik, AI dapat menjadi partner yang membantu kita mewujudkan ide tersebut menjadi karya yang bisa digunakan di kelas,” pungkas Rusdi Mustapa. (rsd/rmd)












