Surakarta (Humas) — Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya yang memperkuat harmoni sosial melalui kehadiran pada pembukaan Festival Sukaria Jawa Jawi 2026 di Dalem Joyokusuman, Surakarta, Selasa (23/6/2026). Kehadiran Kementerian Agama dalam festival budaya tersebut menjadi bagian dari implementasi Delapan Program Prioritas (Asta Protas) Kementerian Agama, khususnya penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, pada aspek moderasi beragama.
Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Kasi Bimbingan Masyarakat Islam, Achmad Arifin, menghadiri pembukaan festival yang juga dihadiri Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, jajaran Pemerintah Kota Surakarta, pelaku budaya, komunitas kreatif, pelaku UMKM, serta masyarakat umum.
Festival Sukaria Jawa Jawi 2026 diselenggarakan selama 23–28 Juni 2026 dengan mengusung konsep Jawa Wellness, memadukan kekayaan budaya Jawa, seni pertunjukan, kuliner tradisional, jamu, spa, kriya, hingga berbagai pengalaman budaya yang memberikan ruang refleksi dan keseimbangan hidup. Festival ini menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kota Surakarta dalam memperkuat identitas Solo sebagai The Spirit of Java sekaligus mendukung visi menuju Wellness City 2030.
Bagi Kementerian Agama, pelestarian budaya lokal yang sarat nilai luhur merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, moderat, dan saling menghargai. Nilai-nilai budaya yang tumbuh di tengah masyarakat dapat menjadi media efektif untuk memperkuat persaudaraan lintas agama maupun lintas budaya, selama tetap selaras dengan nilai-nilai keagamaan.
Secara terpisah, Achmad Arifin menyampaikan bahwa Kementerian Agama terus mendorong hadirnya ruang-ruang kolaborasi antara agama, budaya, dan masyarakat sebagai sarana memperkuat persatuan bangsa.
“Budaya merupakan salah satu media yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kementerian Agama memandang pelestarian budaya yang mengandung nilai-nilai kebaikan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama sangat sejalan dengan semangat Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam memperkuat kerukunan umat beragama dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis,” ujarnya.
Ia menambahkan, Surakarta memiliki kekayaan tradisi yang telah lama menjadi perekat kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, tokoh agama, budayawan, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar budaya tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter dan penguatan moderasi beragama.
Sementara itu, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, dalam sambutannya menegaskan bahwa Sukaria Jawa Jawi merupakan langkah awal memperkenalkan wajah baru pariwisata Kota Solo melalui konsep Jawa Wellness.
“Kami ingin memperkenalkan branding kota yang baru. Kita mempunyai visi besar, pada tahun 2030 Kota Solo menjadi Wellness City,” ujar Respati. Ia menambahkan bahwa Solo tidak diarahkan menjadi kota metropolitan yang dipenuhi gedung pencakar langit, melainkan kota yang menghadirkan ketenangan, pengalaman budaya, serta ruang bagi masyarakat untuk memulihkan kesehatan fisik maupun batin.
Respati juga mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama menghidupkan Dalem Joyokusuman sebagai pusat kegiatan budaya tanpa menghilangkan nilai sejarah yang dimiliki bangunan cagar budaya tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengembangan kawasan budaya tersebut.
Kehadiran Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta dalam festival ini sekaligus menunjukkan dukungan terhadap pengembangan budaya yang inklusif dan berkarakter. Melalui semangat Asta Protas, Kementerian Agama terus mendorong penguatan harmoni sosial melalui pendekatan budaya yang mampu mempererat persaudaraan, memperkuat toleransi, serta menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
Festival Sukaria Jawa Jawi 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda pariwisata, tetapi juga menjadi ruang temu yang memperkokoh nilai kebangsaan, mempererat kerukunan antarmasyarakat, serta menghadirkan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM, seniman, dan komunitas budaya di Kota Surakarta. (may)


















