Penghargaan tersebut diberikan kepada sekolah yang dinilai aktif dan konsisten dalam menggerakkan program literasi, khususnya melalui Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) yang juga diprakarsai oleh Nyalanesia. MAN 1 Surakarta dinilai berhasil menghadirkan ruang kreatif bagi siswa untuk berkembang melalui dunia kepenulisan.
Salah satu indikator keberhasilan tersebut adalah lahirnya buku antologi cerpen karya 54 siswa-siswi MAN 1 Surakarta berjudul “Jejak yang Tak Pernah Padam, Kisah-kisah Perjuangan yang Belajar Bertahan dan Bermimpi.” Buku tersebut menjadi bukti nyata semangat literasi yang terus tumbuh di lingkungan madrasah.
Para siswa-siswi menuliskan berbagai kisah perjuangan dari sudut pandang yang beragam, mulai dari cerita tentang mimpi, keluarga, persahabatan, perjuangan hidup, hingga proses menemukan harapan di tengah tantangan kehidupan.

Karya tersebut lahir melalui proses pendampingan intensif dari Tim Literasi MAN 1 Surakarta yang terdiri dari Rusdi Mustapa, Agus Dwi Prasetyo, dan Suyatmi. Ketiganya aktif membimbing siswa mulai dari tahap pencarian ide, penyusunan alur cerita, proses editing, hingga penerbitan buku.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi penuh dari Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Wardimin. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bukti bahwa budaya literasi di MAN 1 Surakarta terus berkembang dan mampu melahirkan karya nyata yang membanggakan di tingkat nasional.
“Alhamdulillah, penghargaan ini adalah hasil kerja keras bersama. Saya sangat mengapresiasi semangat siswa, guru pembimbing, dan seluruh tim literasi MAN 1 Surakarta yang terus menjaga budaya membaca dan menulis. Ini menunjukkan bahwa madrasah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif dan produktif dalam berkarya,” ungkap Ahmad Wardimin.
Ia menambahkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sarana membangun karakter, keberanian berpikir, dan kepekaan sosial siswa. “Menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi bagaimana siswa belajar memahami kehidupan, menuangkan gagasan, dan memberikan inspirasi kepada orang lain. Saya bangga karena anak-anak MAN 1 Surakarta berani keluar dari zona nyaman dan membuktikan bahwa mereka mampu berkarya di tingkat nasional,” tambahnya.

Ahmad Wardimin berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri. “Kami ingin budaya literasi di MAN 1 Surakarta terus hidup dan berkembang. Semoga ke depan semakin banyak karya lahir dari tangan-tangan kreatif siswa MAN 1 Surakarta, baik dalam bentuk buku, puisi, cerpen, maupun karya literasi lainnya,” pungkasnya.
Salah satu pembimbing, Rusdi Mustapa, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga perjalanan panjang dalam membangun budaya berpikir dan keberanian berekspresi di kalangan siswa.
“Kami ingin siswa tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pencipta karya. Menulis adalah cara untuk melatih empati, kepekaan sosial, dan keberanian menyampaikan gagasan. Penghargaan ini menjadi motivasi agar semangat literasi di MAN 1 Surakarta terus menyala,” ujarnya.
Menurutnya, proses penyusunan buku dilakukan dengan penuh perjuangan. Banyak siswa yang awalnya merasa tidak percaya diri untuk menulis, namun perlahan mampu berkembang dan menghasilkan karya yang membanggakan.
Muammar Fadhil ‘Ilma, salah satu siswa yang terlibat dalam program GSMB menyampaikan bahwa kegiatan literasi membuka ruang bagi mereka untuk menyampaikan cerita dan gagasan yang selama ini tersimpan.
“Kami belajar bahwa setiap orang punya cerita yang layak diperjuangkan dan dibagikan. Buku ini menjadi bukti bahwa siswa MAN 1 Surakarta mampu berkarya di tingkat nasional,” ujar siswa kelas 11 F1 ini.
Festival Literasi Nasional 2026 sendiri diikuti oleh berbagai sekolah dan komunitas literasi dari berbagai daerah di Indonesia. Acara tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus penguatan gerakan literasi nasional agar budaya membaca dan menulis semakin berkembang di kalangan generasi muda. Penghargaan “Sekolah Berdedikasi Literasi Nasional” yang diterima MAN 1 Surakarta menjadi bukti bahwa madrasah mampu hadir sebagai ruang tumbuh generasi kreatif, kritis, dan inspiratif. Dengan semangat literasi yang terus menyala, MAN 1 Surakarta berharap dapat terus melahirkan karya-karya terbaik dan menjadi inspirasi bagi sekolah maupun madrasah lain di Indonesia. (rsd/rmd)




















