Surakarta (Humas) – Lantunan ayat suci Al-Quran menggema dengan khidmat di Graha 58 saat Haflah Tahfidzul Quran siswa kelas IX digelar penuh haru dan kebanggaan (21/05/2026). Satu per satu murid melangkah menuju panggung dengan wajah yang tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Di balik senyum mereka, tersimpan perjalanan panjang yang penuh perjuangan, air mata, rasa lelah, dan kesabaran dalam menghafal kalamullah selama menempuh pendidikan di madrasah.
Haflah Tahfidzul Quran tahun ini bukan sekadar seremoni apresiasi, melainkan momentum istimewa untuk merayakan perjuangan para murid yang berhasil menjaga kedekatan mereka dengan Al-Quran di tengah padatnya aktivitas belajar dan dinamika masa remaja. Selama tiga tahun belajar di madrasah, mereka membagi waktu antara pelajaran akademik, tugas sekolah, kegiatan organisasi, hingga rutinitas murojaah yang dilakukan setiap hari.
Tidak sedikit murid yang harus bangun lebih awal demi menambah hafalan sebelum berangkat sekolah. Ada pula yang memilih mengulang hafalan selepas magrib, saat teman-teman seusianya menikmati waktu luang. Semua dilakukan dengan satu tujuan mulia: menjaga ayat demi ayat Al-Quran tetap tertanam di hati.
Perjuangan itu pun berbuah manis. Bahkan, salah satu murid berhasil menorehkan capaian luar biasa dengan hafalan mencapai 9 juz selama tiga tahun belajar di MTs. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi madrasah sekaligus bukti bahwa kesungguhan dan istiqamah mampu melahirkan hasil yang luar biasa.
Suasana haru semakin terasa ketika para murid mempersembahkan hafalan terbaik mereka di hadapan para guru dan orang tua. Beberapa wali murid tampak menitikkan air mata, menyaksikan anak-anak yang dahulu masih belajar terbata-bata membaca Al-Quran kini mampu melafalkan ayat-ayat suci dengan lancar dan penuh keyakinan. Tepuk tangan bergemuruh setiap kali nama murid dipanggil untuk menerima apresiasi atas capaian hafalannya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam kepada seluruh murid, guru, dan orang tua yang telah membersamai perjalanan tahfidz ini. Menurutnya, keberhasilan para murid tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh kesungguhan. “Hari ini kita menyaksikan sesuatu yang sangat membanggakan. Anak-anak ini tidak hanya belajar menghafal ayat demi ayat, tetapi juga belajar tentang kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan. Menghafal Al-Quran di usia remaja bukan perkara mudah. Karena itu, capaian mereka patut diapresiasi setinggi-tingginya,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan program tahfidz di madrasah merupakan hasil kolaborasi yang kuat antara madrasah dan keluarga. Menurutnya, peran orang tua sangat penting dalam menjaga semangat anak-anak untuk terus murojaah dan mencintai Al-Quran di rumah. “Madrasah tidak bisa berjalan sendiri. Ketika guru mendampingi di sekolah dan orang tua melanjutkan pendampingan di rumah, maka lahirlah generasi Qurani yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat spiritualitasnya,” imbuhnya.
Salah satu orang tua siswa, Afif dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada MTsN 2 Surakarta.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada para ustaz dan ustazah MTsN 2 Surakarta yang dengan sabar membimbing anak-anak kami selama tiga tahun ini. Kami juga menyadari bahwa keberhasilan ini lahir dari kolaborasi yang erat antara madrasah dan orang tua. Ketika rumah dan madrasah berjalan bersama, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan dekat dengan Al-Quran.” ujarnya.
Sementara itu, Kepala MTsN 2 Surakarta, Kirno Suwarto, mengaku bangga sekaligus terharu melihat perjuangan para murid hingga mampu mencapai titik ini. Ia menyebut proses tahfidz sebagai perjalanan yang tidak selalu mudah, terutama di tengah tantangan zaman dan derasnya pengaruh teknologi digital. “Di usia remaja, anak-anak tentu memiliki banyak distraksi. Namun mereka mampu membuktikan bahwa Al-Quran tetap menjadi prioritas dalam kehidupan mereka. Bahkan ada yang mampu mencapai hafalan hingga 9 juz selama belajar di MTs. Ini adalah capaian luar biasa yang lahir dari perjuangan panjang dan istiqamah,” ujarnya.

Menurutnya, pembelajaran tahfidz bukan hanya tentang mengejar jumlah hafalan, melainkan membentuk karakter siswa agar lebih disiplin, sabar, dan dekat dengan nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap hafalan yang telah diperjuangkan dengan susah payah itu dapat terus dijaga hingga dewasa nanti. “Kami ingin anak-anak tidak berhenti sampai di sini. Haflah ini bukan akhir perjalanan, tetapi awal untuk terus membersamai Al-Quran dalam kehidupan mereka,” tambahnya.
Haflah Tahfidzul Quran ini menjadi bukti bahwa madrasah tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan cinta kepada Al-Quran sejak dini. Di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, MTsN 2 Surakarta terus berkomitmen melahirkan generasi muda yang berprestasi, berkarakter, dan tumbuh bersama cahaya Al-Quran. (bla/my)












