Surakarta (Humas) — Sekitar 150 pengurus pondok pesantren mengikuti kegiatan Halaqoh Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak yang diselenggarakan pada Senin (15/12/2025) di Pendopo Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan komitmen pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, humanis, dan menjunjung tinggi hak-hak anak.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, mewakili Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Tengah, membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Ulin menegaskan bahwa pesantren saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
“Pesantren harus mampu menjaga tradisi, budaya, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para kiai, sekaligus menjawab tuntutan perkembangan zaman, khususnya dalam pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, pesantren dituntut untuk tetap menjadi lembaga pendidikan yang berakar kuat pada nilai keislaman, namun juga adaptif terhadap isu kekinian, termasuk pencegahan kekerasan dan perundungan.
Dalam kesempatan tersebut, Ulin menyampaikan kisah teladan dari pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad, KH. Ahmad Umar Abdul Mannan, sebagai contoh nyata pola pengasuhan ramah anak. Ia menceritakan bahwa suatu ketika Kiai Umar meminta lurah pondok untuk mendata santri yang dianggap paling nakal.
“Lurah pondok saat itu mengira santri-santri tersebut akan diberi hukuman,” tutur Ulin.
Namun, Kiai Umar justru menyampaikan niat mulianya. “Aku njaluk daftar santri-santri sing nakal, niatku arep tak dungakne,” kata Kiai Umar, yang berarti meminta daftar santri nakal untuk didoakan, bukan dihukum. Nama-nama santri tersebut kemudian dibawa dalam doa-doa beliau pada salat malam.
Menurut Ulin, kisah tersebut mencerminkan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan pesantren ramah anak yang telah lama dipraktikkan di Al-Muayyad.
Ulin juga menyampaikan bahwa di Kota Surakarta terdapat 38 pondok pesantren, dan seluruhnya telah mendeklarasikan diri sebagai Pesantren Ramah Anak. Kemenag Surakarta melalui Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) juga telah melakukan sosialisasi secara menyeluruh.
“Melalui halaqoh ini, kami berharap semangat Pesantren Ramah Anak dapat dibawa dan diterapkan di masing-masing pondok, sehingga pesantren di Surakarta semakin membawa keberkahan dan kemanfaatan,” ujarnya.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah. Ketua Tim Kegiatan, Nur ‘Aini Saadah, dalam laporannya menjelaskan bahwa halaqoh ini bertujuan untuk menekan, bahkan meniadakan, praktik kekerasan di lingkungan pesantren.
“Pesantren saat ini mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Karena itu, kami berikhtiar mendorong terwujudnya pesantren yang anti-bullying dan anti-kekerasan,” jelasnya. Ia menambahkan, peserta juga dibekali materi deteksi dini kekerasan agar para pengurus, ustaz, dan ustazah mampu mengidentifikasi serta menangani korban perundungan sejak awal.
Halaqoh menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain dr. Tri Wigati, Ketua Satgas Jaga Santri Pondok Pesantren Al-Muayyad, yang memaparkan best practice pelaksanaan Satgas Jaga Santri di lingkungan internal pesantren. Narasumber lainnya adalah Dr. Abu Kholid, Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se-Jawa Tengah, yang membahas framing feodalisme, tradisi, khidmah, dan tabarukan santri kepada kiai. Selain itu, hadir pula Ahmad Syakur, Ketua Perlindungan Anak Kabupaten Klaten, yang menyampaikan perspektif perlindungan anak.
Sebagai tuan rumah, Pimpinan Yayasan Al-Muayyad, Muhammad Faisol Rozak, menyambut para peserta sekaligus memaparkan upaya keamanan dan perlindungan santri yang telah dilakukan pesantren. Ia menyampaikan bahwa Al-Muayyad mendapat amanah dari Kementerian Agama sebagai pilot project Pesantren Ramah Anak.
“Sebelum adanya kebijakan Pesantren Ramah Anak, kami telah membentuk Lembaga Jaga Santri sejak tahun 2018,” jelas Faisol.
Ia menerangkan bahwa pada awalnya lembaga tersebut berfokus pada layanan kesehatan santri dan menjadi penghubung dengan puskesmas serta rumah sakit sekitar. Seiring perkembangan, tugasnya diperluas menjadi satgas yang memastikan pesantren aman dan nyaman bagi santri.
Selain itu, pada tahun 2023, pesantren juga membentuk Satgas Sarungan (Santri Anti Perundungan dan Kekerasan). Satgas ini bertujuan meminimalkan kasus perundungan serta mempercepat penanganan apabila terjadi permasalahan.
Menutup sambutannya, Faisol menyampaikan wasiat pendiri pesantren, KH. Ahmad Umar Abdul Mannan, yang ditulis pada era 1930-an dan hingga kini terus diamalkan. Wasiat tersebut menekankan pentingnya kerukunan dan persatuan.
“Ayo kanca podho guyub lan rukunan, ojo ngasih pisah conggah lan padukanan. Guyub rukun iku maraake roso, pisah conggah lan padukanan iku duso,” demikian kutipan wasiat tersebut.
Wasiat ini rutin dibacakan kepada para santri setiap malam Selasa sebelum mujahadah, dengan harapan nilai kerukunan senantiasa tertanam dan mampu mencegah perilaku tercela di lingkungan pesantren.
Dalam acara tersebut, hadir pula Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muayyad, KH. Abdul Rozaq Shofawi memimpin doa, yang kemudian di amini oleh seluruh peserta yang hadir.
Usai kegiatan, Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, Encep Moh Ilham menutup halaqoh dengan harapan, ada tindak lanjut yang harus segera diselesaikan.
“Maka nanti silakan, peserta yang hari ini hadir, dari PP. Budi Utomo, PP. Al Izzah, PP. Nur Hidayah, PP. Hadil Iman, PP. Ta’mirul Islam, PP. Hidayatullah dan PP. Masjid Jajar menindaklanjuti terkait diadakannya Satgas Jaga Santri ataupun Satgas Sarungan dateline 2 minggu,”ujarnya.
Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan ramah tamah. (may)


















