Kota Surakarta (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta melalui Kepala Kantor, Ahmad Ulin Nur Hafsun, menghadiri acara pemberangkatan Nafar yang digelar di Gedung Pusat Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Pusat Kota Surakarta, Rabu (25/02/2026). Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 2.000 peserta nafar yang akan disebar ke berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus MTA Pusat, Sunarno, serta Komandan Kodim (Dandim) Kota Surakarta, Letkol Infanteri Arief Handoko Usman.
Dalam sambutannya, Sunarno menyampaikan bahwa total peserta nafar yang diberangkatkan mencapai 4.814 orang dan akan tersebar di 301 titik di seluruh Indonesia. Ia juga menjelaskan bahwa sebanyak 509 guru dikirim oleh pusat dan akan didampingi oleh guru pendamping selama pelaksanaan kegiatan.
“Nafar akan dilaksanakan selama lima hari hingga hari Ahad. Para peserta akan menjalankan tugas di berbagai daerah sebagai perwakilan,” jelasnya.
Sementara itu, Dandim Surakarta Letkol Infanteri Arief Handoko Usman memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan nafar benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan dan mempererat ukhuwah Islamiyah, khususnya dalam menyambut dan menghidupkan bulan Ramadan.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan nafar ini. Jadikan momentum ini untuk meningkatkan ilmu agama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menghidupkan bulan Ramadan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan seluruh panitia dan peserta untuk selalu menjaga faktor keamanan dan kesehatan selama menjalankan tugas, mengingat kegiatan akan berlangsung selama lima hari dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda.
“Semangat beribadah harus tetap diiringi dengan menjaga kesehatan dan keamanan,” pesannya.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, menyampaikan materi tentang pentingnya moderasi beragama dalam aktivitas dakwah. Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dengan keberagaman suku, budaya, dan agama, sehingga moderasi beragama menjadi sebuah keniscayaan.
“Indonesia adalah bangsa majemuk. Karena itu, moderasi beragama harus menjadi landasan dalam setiap aktivitas dakwah. Kita membawa wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, menyejukkan, dan mempersatukan bangsa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan empat indikator utama moderasi beragama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal.
Ahmad Ulin juga mengimbau seluruh peserta nafar agar senantiasa menjaga narasi dakwah selama bertugas di daerah masing-masing.
“Gunakan bahasa yang menyejukkan, hindari ujaran kebencian, dan pastikan setiap pernyataan yang disampaikan membawa maslahat,” tegasnya.
Dalam penutupnya, ia berpesan agar para peserta menjadi duta Islam yang ramah dan menyejukkan, menjaga nama baik lembaga dan daerah asal, serta menghormati adat dan budaya setempat.
“Hindari narasi yang memecah belah umat dan bangsa. Jadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat persatuan,” pungkasnya. (Za)



















