Surakarta (Humas) – MTsN 1 Surakarta menggelar Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bertema “Mengajar dengan Hati, Membangun Karakter, dan Mewujudkan Madrasah BEKEN” di Solo, Rabu (24/6/2026). Kegiatan yang diikuti seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) ini menjadi langkah nyata madrasah dalam memperkuat pembelajaran yang berkesadaran, religius, menyenangkan, sekaligus berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Inayatun Laila Khusnaini, dilanjutkan sambutan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Wahyu Febriyanto Sulistyo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar memenuhi tuntutan kebijakan, melainkan menjadi ikhtiar untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna dan memanusiakan peserta didik.
Workshop secara resmi dibuka oleh Kasubbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Bagus Sigit Setiawan. Dalam arahannya mengenai kebijakan Kementerian Agama, ia mengapresiasi komitmen MTsN 1 Surakarta yang dinilai telah menerapkan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta jauh sebelum kebijakan tersebut diimplementasikan secara nasional.
“Sejatinya kami sudah melihat MTsN 1 Surakarta ini telah melaksanakan Kurikulum Berbasis Cinta. Misalnya cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa kali saya menghadiri Akhirusanah di MTsN 1 Surakarta, setiap siswa minimal sudah hafal satu juz Al-Qur’an, bahkan kemarin ada yang telah menghafal hingga 16 juz,” ujar Bagus.
Ia juga menekankan bahwa peran guru sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan kepada peserta didik.
“Selaku guru, Bapak dan Ibu memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga toleransi dan menumbuhkan cinta kepada alam semesta,” lanjutnya.
Menurut Bagus, semangat Kurikulum Berbasis Cinta juga telah tercermin dalam identitas MTsN 1 Surakarta melalui slogan Madrasah BEKEN.
“Dari lima Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta, kita juga bisa melihat bahwa MTsN 1 Surakarta melalui slogan BEKEN telah memperlihatkan nilai nasionalisme, karena huruf ‘N’ dalam BEKEN adalah Nasionalis,” tambahnya.
Workshop menghadirkan Pengawas Madrasah Aliyah Kementerian Agama Kabupaten Tegal sekaligus Instruktur Nasional Kurikulum Berbasis Cinta, Shofar Sholahudin Bisri, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi KBC berawal dari kesadaran dan ketulusan seorang guru dalam mendidik.

“Dalam pembelajaran, tumbuhnya kesadaran dan cinta menjadi dasar yang sangat penting, jadi bukan karena keterpaksaan. Ketika seorang guru mengajar dengan hati, maka ilmu yang disampaikan akan melompat langsung ke dalam sanubari murid, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga mulia akhlaknya,” ungkap Shofar.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan kurikulum tidak akan pernah menggeser nilai ketulusan seorang pendidik.
“Kurikulum bisa berubah kapan saja, namun ketulusan hati seorang guru dalam mencintai muridnya adalah kurikulum abadi yang tak akan pernah tergantikan oleh teknologi apa pun,” tegasnya.
Workshop juga menghadirkan praktik pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Para guru dibimbing menyusun tujuan pembelajaran dan asesmen yang adaptif, ramah anak, serta selaras dengan Delapan Dimensi Profil Lulusan dan nilai-nilai Panca Cinta.
Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian tugas Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tahun Ajaran 2026/2027 sebagai bentuk kesiapan menyongsong tahun ajaran baru sekaligus memperkuat komitmen mewujudkan Madrasah BEKEN (Berkarakter Islami, Excellent, Kompeten, Elegan, Nasionalis).

















