Surakarta (Humas) – Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Poo An Kiong mengadakan kegiatan Chau Du (12-13/9/2025). Tradisi Ulambana (Chau Du) adalah tradisi penting di negara-negara Asia Timur dan Tenggara yang memiliki pengaruh budaya Tiongkok, yang dirayakan pada hari ke-15 bulan ketujuh kalender lunar Tiongkok.
Tradisi ini berakar pada kepercayaan Tao dan Buddha Mahayana, dengan tujuan menghormati para leluhur berakar pada pentingnya pemujaan leluhur dan kepercayaan pada alam baka.

Ulambana dalam agama Buddha Mahayana berasal dari Sutra Yulanpen, yang menceritakan kisah Maudgalyayana (juga dikenal sebagai Maha Mogalana), seorang murid Buddha, yang berusaha membantu ibunya yang menderita di alam hantu kelaparan.
Maudgalyayana mengetahui bahwa untuk meringankan penderitaan ibunya, dia membutuhkan jasa dan energi kolektif komunitas monastik (Sangha). Dengan demikian, persembahan diberikan kepada Sangha, dengan pahala yang didedikasikan untuk meringankan penderitaan leluhur yang telah meninggal.
Tindakan bakti ini adalah inti dari Ulambana dan merupakan Sanghadana dalam agama Buddha Mahayana.
Praktik umum selama Ulambana meliputi :
– Persembahan: Menyiapkan makanan dan membakar kertas joss (uang kertas dan barang-barang lainnya) untuk leluhur.
– Ritual: Melakukan upacara untuk mentransfer pahala kepada kerabat yang telah meninggal dan membebaskan makhluk yang menderita.
– Mengunjungi pemakaman untuk memberikan persembahan kepada leluhur yang telah meninggal.
Dalam tradisi Ulambana (Chau Du) yang diadakan di TITD Poo An Kiong dilaksanakan pula ritual dengan membakar Dai Su Ya dan Replika Kapal untuk mengantar para leluhur dan arwah kembali ke langit (surga).

Untuk lebih menyempurnakan kegiatan Chau Du ini, TITD Poo An Kiong melakukan Baksos 700 paket beras ke Panti Asuhan, Panti Jompo dan 5 kelurahan di Kecamatan Serengan.
Penyuluh Agama Buddha Kemenag Surakarta, Subha Ariya Sena menjelaskan pentingnya kegiatan Chau Du. “Bagi umat Buddha untuk melestarikan budaya dan sebagai bentuk penghormatan bagi leluhur yang telah tiada, walaupun sudah tidak bersama dengan kita, namun berkat para leluhur-lah kita dapat menjadi seperti sekarang ini,”tuturnya.

Pengurus TITD Poo An Kiong yang juga anggota FKUB perwakilan Buddha, Sunar mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk rasa syukur kepada para leluhur. “Tentunya tidak hanya kepada para leluhur yang sedarah saja, namun juga kepada para pahlawan dan pejuang yang sudah menjadikan Negara Indonesia kita menjadi bebas dan merdeka pada masa sekarang ini,”ungkanya.
Umat Buddha mempercayai bahwa dengan kegiatan Chau Du ini akan membawa kebahagiaan dan kehidupan yang sejahtera bagi para leluhur dan juga para pahlawan Indonesia di kehidupan yang sekarang dan selanjutnya. (ary/my)



















