Surakarta (Humas) — Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta menggelar Pelatihan Dasar Satuan Tugas (Satgas) Relawan Kebencanaan di Aula R Oesman Pudjotomo, sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan aparatur sipil negara (ASN) terhadap potensi bencana. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama Kemenag Kota Surakarta dengan BPBD Kota Surakarta serta menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).
Ketua Panitia, Sukamto dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi pentingnya meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ASN Kementerian Agama Kota Surakarta dalam menghadapi situasi darurat kebencanaan. “Bencana dapat terjadi kapan saja, sehingga diperlukan pengetahuan, keterampilan, serta sikap tanggap dalam menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, materi pelatihan meliputi dasar-dasar pencegahan kebencanaan, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD-MRL), pengenalan alat pelindung diri (APD), pengenalan peralatan kebencanaan, hingga pemahaman mengenai cluster kebencanaan beserta tugas dan fungsinya.

Selain itu, pihak panitia juga menghadirkan DLH Kota Surakarta untuk memberikan edukasi terkait pengelolaan sampah. Menurut Sukamto, pengelolaan sampah yang baik memiliki peran penting dalam mengurangi risiko bencana seperti banjir dan pencemaran lingkungan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin, dalam sambutannya mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surakarta, khususnya DLH, yang telah membiasakan penggunaan tumbler sebagai upaya mengurangi sampah plastik. “Kami sangat mengapresiasi penggunaan tumbler di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta sebagai langkah nyata mengurangi sampah plastik,” kata Ahmad Ulin.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini telah disiapkan dua titik pengumpulan sampah botol plastik yang dikelola oleh Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI). Hasil penjualan sampah tersebut dimanfaatkan untuk mendukung Gerakan Bersih-Bersih Rumah Ibadah di Kota Surakarta.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Ulin menekankan pentingnya edukasi mitigasi bencana agar masyarakat mampu mengenali potensi risiko di lingkungan sekitar sejak dini. Ia juga mengakui bahwa fasilitas penunjuk jalur evakuasi di lingkungan kantornya masih perlu ditingkatkan berdasarkan hasil simulasi dari BPBD Kota Surakarta. Ahmad Ulin turut menyampaikan terima kasih kepada tim relawan kebencanaan Kemenag Kota Surakarta atas partisipasi aktif dalam kegiatan tersebut dan berharap pelatihan dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh peserta.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Kota Surakarta, Ari Yeppi Kusumawati, menjelaskan bahwa manajemen kebencanaan terbagi dalam tiga fase utama, yakni pra-bencana, tanggap darurat, dan pasca-bencana. Ia mengatakan bahwa pada fase pra-bencana, masyarakat perlu mengedepankan mitigasi dan memahami tanda-tanda alam melalui kearifan lokal atau ilmu titen. Sedangkan pada fase tanggap darurat, penanganan bencana harus dilakukan secara sistematis sesuai prosedur, tidak sekadar memberikan bantuan logistik. “Pasca-bencana juga penting, karena tujuan akhirnya adalah memulihkan kehidupan masyarakat agar kembali normal bahkan lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas relawan melalui kolaborasi pengalaman lapangan dan penguatan teori kebencanaan dari BPBD. Menurutnya, sinergi lintas sektor antara BPBD dan Damkar menjadi bagian penting dalam memperkuat penanganan bencana di lapangan. Dalam pesannya kepada peserta, Yeppi mengingatkan bahwa keterbatasan fasilitas pemerintah membuat peran relawan menjadi sangat penting dalam misi kemanusiaan. “Relawan harus bekerja dengan semangat sukacita, rela, dan ikhlas demi kemanusiaan,” pesannya.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Edhi Soekono beserta tim BPBD Kota Surakarta yang menyampaikan materi Manajemen Kedaruratan dan Logistik, dan Aliek Budiarta bersama Tim Damkar yang memberikan materi Pencegahan Kebakaran, serta Prasetianingsih dari DLH Kota Surakarta terkait pengelolaan sampah.
Pada sesi praktik, para relawan dan pegawai Kemenag Surakarta turut melakukan simulasi pemadaman api yang berasal dari kompor dan tabung gas bersama tim Damkar. Sementara Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta memberikan Alat Pengelolaan Sampah Organik Sederhana dari Galon Plastik, yang dapat memproduksi pupuk cair. Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat antusias tinggi dari peserta sebagai bekal menghadapi kondisi darurat di lingkungan kerja maupun masyarakat. (may)


















