Kota Surakarta (Humas) – Suasana di Gedung Ki Hadjar Dewantara, MAN 1 Surakarta, tampak berbeda pada Senin (9/2/2026) pagi. Wakil Walikota Surakarta Astrid Widayani, secara khusus hadir untuk melihat langsung inovasi pembelajaran yang tengah viral di dunia pendidikan, yakni pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam mata pelajaran sejarah.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh guru sejarah MAN 1 Surakarta Rusdi Mustapa, yang berhasil menyulap peristiwa masa lalu menjadi konten visual yang imersif dan kekinian.
Dalam kunjungannya, Astrid Widayani berkesempatan berdiskusi langsung dengan Rusdi Mustapa dan para siswa di depan Gedung Ki Hadjar Dewantara. Ia mengaku terpukau dengan cara Rusdi memadukan narasi sejarah dengan teknologi AI untuk menciptakan video berbasis point of view (POV).
“Ini adalah langkah konkret transformasi pendidikan di Surakarta. Pak Rusdi membuktikan bahwa sejarah bukan lagi soal menghafal angka tahun, melainkan menghadirkan pengalaman bagi siswa melalui teknologi,” ujar Astrid Widayani di sela-sela kegiatannya.
Rusdi menjelaskan bahwa inovasi ini lahir karena ia melihat sejarah sering dianggap membosankan oleh siswa. Dengan bantuan teknologi seperti Chat GPT, Sora, dan Cap Cut, ia menciptakan visualisasi yang membuat siswa seolah-olah terlibat langsung dalam peristiwa bersejarah.
Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Wardimin, mendampingi langsung kunjungan tersebut. Beliau menegaskan bahwa madrasah terus berupaya mendukung guru-gurunya untuk menjadi agen perubahan di era digital.
“Kedatangan Ibu Wakil Wali Kota menjadi suntikan semangat bagi kami. Inovasi AI ini adalah bagian dari misi kami agar MAN 1 Surakarta terus melompat maju dalam prestasi dan kreativitas,” ungkap Ahmad Wardimin.

Antusiasme terhadap metode pembelajaran baru ini juga dirasakan langsung oleh para siswa di kelas. Hafiz Miftahul Egar, siswa kelas 11 F4, mengungkapkan kehadiran video AI membuat imajinasinya tentang masa lalu menjadi lebih terarah dan nyata.
“Dulu kalau belajar sejarah kita hanya bisa membaca, lalu biasanya cuma bisa membayangkan di kepala sendiri. Tapi dengan adanya teknologi AI ini, kami seolah melihat langsung penggambaran keadaan zaman dulu, misalnya saat masa penjajahan,” ungkap Hafiz dengan penuh semangat.
Hafiz juga menambahkan bahwa proses pembuatan video tersebut ternyata cukup mudah dipelajari oleh siswa. Ia berharap ke depannya metode pembelajaran berbasis teknologi ini bisa terus diterapkan agar suasana belajar di kelas tetap seru dan inspiratif.
Kunjungan diakhiri dengan foto bersama puluhan siswa yang tampak antusias menyambut kehadirannya dengan simbol jari ‘L’ sebagai lambang literasi dan kemajuan. Ia berharap model pembelajaran ini bisa menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain di Surakarta agar sejarah tetap eksis dan relevan di mata generasi muda.
Kunjungan tersebut mempertegas komitmen Pemerintah Kota Surakarta dalam mendukung integrasi teknologi di sektor pendidikan. Melalui apresiasi ini, inovasi video sejarah berbasis AI di MAN 1 Surakarta diharapkan tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi menjadi standar baru dalam menciptakan kelas yang interaktif, bermakna, dan tentu saja, tidak membosankan. (rsd/rmd)


















