Surakarta (Humas) – Perayaan HUT ke 25 BAZNAS RI, turut diselenggarakan di Kantor BAZNAS Kota Surakarta (28/01/2026). Dihadiri oleh Walikota Surakarta, Respati Ardi beserta jajaran dan Penyelenggara Zakat Wakaf, Arif Ansori mewakili Kepala Kankemenag Kota Surakarta.
Dalam sambutannya, Ketua BAZNAS Surakarta, Muh Qoyim, melaporkan bahwa kegiatan dimulai dengan khataman Al-Qur’an sebanyak dua kali yang melibatkan santri dari berbagai pondok pesantren, seperti Pondok Pesantren Al-Muayyad, Masjid Agung, Darul Quran Surakarta, dan Pondok Pesantren Az-Zayadiy.
Qoyim memaparkan beberapa program inovatif yang diluncurkan, antara lain:
- Z-Coffee: Program bantuan modal usaha kopi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk memutus rantai kemiskinan.
- Z-Mart: Program peningkatan kesejahteraan bagi toko-toko kelontong agar memiliki manajemen yang lebih modern dan profesional.
- SIMSIS (Sistem Informasi Manajemen Zakat Infak Sedekah): Digitalisasi pengelolaan zakat untuk transparansi dan efisiensi.
Muh Qoyim menegaskan bahwa program-program tersebut merupakan bentuk dukungan nyata BAZNAS terhadap arahan Wali Kota untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran di Kota Solo.
Di akhir pidatonya, Qoyim menyampaikan kabar membanggakan mengenai performa BAZNAS Surakarta. “BAZNAS Kota Surakarta berhasil mencatatkan nilai pertumbuhan pendapatan tertinggi di Jawa Tengah, yakni mencapai 150,1%, dan menerima penghargaan resmi dari BAZNAS Provinsi Jawa Tengah,”tuturnya. Qoyim berharap capaian ini dapat terus ditingkatkan hingga masa jabatan pengurus periode ini berakhir pada tahun 2027 mendatang.
Launching SIMSIS, penyerahan apron Z-Coffee serta penyerahan seragam Z-Mart oleh Walikota Surakarta. Dalam sambutannya, Respati justru mengajak seluruh pengurus masjid dan tempat ibadah di Kota Solo untuk merefleksikan diri terkait minimnya kehadiran generasi muda di rumah ibadah. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pendekatan dakwah agar relevan dengan tantangan zaman.
“Kita sangat prihatin, anak muda kita justru lebih banyak menghabiskan waktu di warung kopi atau coffee shop daripada di masjid,” ujar Respati. Ia menambahkan bahwa tantangan generasi saat ini jauh berbeda karena terpapar budaya instan melalui akses digital yang tak terbatas. Sebagai bentuk komitmen, Respati berencana memasukkan variabel keterlibatan anak muda sebagai salah satu kriteria pemberian bantuan hibah untuk tempat ibadah pada tahun 2027 mendatang. Ia berharap adanya kolaborasi antara tokoh senior dan pemuda untuk memakmurkan masjid.

Tausiyah, disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Kyai Mustain Nasoha yang menekankan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban agama, melainkan instrumen vital dalam menyelesaikan persoalan ekonomi umat. Dalam arahannya, ia menyoroti pentingnya akselerasi zakat dan perhatian khusus bagi para pendidik agama di tingkat akar rumput.
Kyai Mustain Nasoha memberikan perhatian besar pada kesejahteraan guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Menurutnya, penyaluran zakat harus diprioritaskan untuk memastikan para guru ngaji dapat fokus mengajar tanpa harus terbebani masalah ekonomi.
”Utamakan urusan guru dulu, utamakan urusan masjid dulu, baru kemudian urusan-urusan yang lain. Jangan sampai guru-guru TPA kemudian tidak mengajar TPA gara-gara dia harus kerja di Jakarta (untuk mencari nafkah),” tegasnya.
Secara tidak langsung, ia menyampaikan keprihatinannya jika para penjaga moral bangsa tersebut harus meninggalkan tugas mulianya hanya demi memenuhi kebutuhan hidup di luar kota.
Kyai Mustain menjelaskan bahwa dalam kondisi mendesak, zakat tidak harus menunggu jatuh tempo setahun (haul). Ia merujuk pada literatur fikih klasik untuk memperkuat argumen bahwa zakat bisa dipercepat atau diakselerasi.
“Zakat diperbolehkan untuk dibayarkan lebih awal, bahkan untuk jangka waktu dua tahun ke depan juga tidak harus dikeluarkan dalam satu jumlah besar sekaligus saat sudah mampu, melainkan diperbolehkan untuk dicicil di awal sebagai bentuk langkah antisipasi sosial,”jelasnya.
Sebagai penutup, Kyai Mustain Nasoha mengajak masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi. Ia menyatakan bahwa kekuatan zakat di suatu wilayah merupakan indikator kekuatan iman masyarakatnya. Menurutnya, melalui pengelolaan yang profesional, zakat akan menjadi solusi nyata bagi kemiskinan dan penguatan ekonomi umat secara berkelanjutan.
Penyelenggara Zakat Wakaf, Arif Ansori menyampaikan ucapan selamat pada BAZNAS RI, utamanya BAZNAS Kota Surakarta. “Semoga senantiasa amanah, profesional, dan inovatif dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah, serta terus memberi manfaat nyata bagi umat dan masyarakat Kota Surakarta,”pungkasnya. (may)



















