Surakarta(Humas) – Upaya menjaga lingkungan di MTs Negeri 2 Surakarta terus dikembangkan melalui langkah nyata dan edukasi yang melibatkan seluruh warga madrasah. Tidak sekadar mengajak murid membuang sampah pada tempatnya, madrasah mulai menanamkan kebiasaan baru, yaitu mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah sesuai jenisnya, serta mengolah sampah agar memiliki manfaat dan nilai guna.
Program tersebut disosialisasikan kepada warga madrasah pada Senin (5/10/2026) sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari.
Ketua solialisasi, Mahamboro Dawud menyampaikan pentingnya mengubah cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, persoalan sampah tidak selesai hanya dengan menyediakan tempat sampah. Hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran untuk mengurangi sampah sejak awal dan memastikan sampah yang dihasilkan dipilah sesuai dengan jenisnya.
“Menjaga kebersihan bukan hanya tentang membuang sampah pada tempatnya. Kita perlu mulai dari mengurangi penggunaan plastik, kemudian memilah sampah sesuai jenisnya agar dapat diolah dan dimanfaatkan kembali,” jelasnya.
Sosialisasi tersebut juga dibantu oleh OSIM MTs Negeri 2 Surakarta yang turut memberikan penjelasan kepada murid mengenai jenis-jenis sampah dan cara memilahnya. Murid dikenalkan pada perbedaan sampah organik, anorganik, serta sampah yang masih dapat dimanfaatkan atau didaur ulang.
Dalam wawancara terpisah, Plt. Kepala MTsN 2 Surakarta, Rachmawati berharap murid tidak lagi melihat semua sampah sebagai sesuatu yang harus langsung dibuang. “Sampah yang dihasilkan perlu dikenali terlebih dahulu sehingga dapat ditentukan penanganan yang tepat,” jelasnya.
Gerakan peduli lingkungan di MTs Negeri 2 Surakarta juga dipadukan dengan kreativitas dan teknologi. Murid ekstrakurikuler Robotik menghadirkan inovasi berupa tempat sampah otomatis berbasis sensor. Tempat sampah tersebut dirancang agar dapat membuka secara otomatis ketika mendeteksi keberadaan objek di dekatnya. “Inovasi ini menjadi salah satu bentuk nyata bahwa teknologi dapat digunakan untuk mendukung kebiasaan hidup bersih sekaligus menjadi media pembelajaran bagi murid,”imbuh Rachmawati.
Karya tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dilakukan dengan cara yang monoton. Ia menambahkan, bahwa melalui kreativitas, teknologi, dan kerja sama, murid dapat ikut menciptakan solusi sederhana untuk persoalan yang ada di lingkungan sekitar. Kehadiran tempat sampah otomatis juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi madrasah karena inovasi tersebut lahir dari kreativitas anak-anak MTs Negeri 2 Surakarta melalui kegiatan ekstrakurikuler Robotik.
MTs Negeri 2 Surakarta berkomitmen menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari budaya madrasah. Gerakan mengurangi plastik dan memilah sampah menjadi langkah kecil yang diharapkan mampu memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga madrasah.
Melalui kolaborasi antara Madrasah, OSIM, ekstrakurikuler Robotik, guru, dan seluruh murid, madrasah berupaya membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Sebab, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Satu plastik yang berhasil dikurangi, satu sampah yang dipilah dengan benar, dan satu kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari dapat menjadi bagian dari perubahan besar bagi lingkungan. (bla/my)



















