Surakarta (Humas) – Dalam rangka memperingati 21 tahun Tsunami Aceh sekaligus meneguhkan komitmen kebudayaan nasional, Panitia Gelombang Harmoni Indonesia Jakarta menggelar kegiatan akbar bertajuk “Gelombang Harmoni: 2100 Penari Ratoh Jaroe untuk Indonesia dan Doa Bersama 21 Tahun Tsunami Aceh” (14/12/2025) dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Kegiatan tersebut bukan sekadar perhelatan seni, melainkan juga ruang refleksi nasional untuk mengenang salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Denting irama, hentakan gerak, dan kekompakan para penari Ratoh Jaroe menyatu dengan doa-doa khusyuk yang dipanjatkan bagi para korban Tsunami Aceh 2004. Suasana haru menyelimuti ribuan penonton yang hadir dari berbagai penjuru Tanah Air, mengingat luka mendalam yang hingga kini masih membekas di hati bangsa Indonesia.
MTsN 2 Surakarta turut ambil bagian dalam peristiwa nasional ini. Madrasah tersebut diwakili oleh tiga santriwati program boarding school, yaitu Asri, Novia, dan Inaya, yang dipercaya menjadi bagian dari 2.100 penari Ratoh Jaroe. Ketiganya tampil memukau dan penuh penghayatan, mewakili semangat generasi muda madrasah dalam menjaga dan merawat warisan budaya Nusantara.
Keikutsertaan MTsN 2 Surakarta merupakan undangan langsung dari Panitia Gelombang Harmoni Indonesia yang diketuai oleh Yusri Saleh, yang lebih dikenal sebagai Dek Gam, maestro Ratoh Jaroe asal Aceh.
Sebanyak 2.100 penari tampil serempak di hadapan ribuan penonton, menciptakan harmoni gerak yang sarat makna. Di sela pertunjukan, doa bersama dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan untuk mengenang para korban Tsunami Aceh serta memohon keselamatan dan kekuatan bagi masyarakat Aceh. Tangis haru tak terbendung, baik dari para penari maupun penonton, terutama saat doa-doa dipanjatkan untuk saudara-saudara kita yang baru-baru ini kembali diuji dengan bencana banjir bandang di Aceh dan Sumatra akibat hujan ekstrem pada akhir November.
Beberapa pejabat penting turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya perwakilan Kementerian Agama RI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tokoh-tokoh seni budaya nasional, serta unsur Forkopimda. Kehadiran para pejabat tersebut menjadi bukti nyata dukungan negara terhadap pelestarian seni budaya sekaligus penguatan solidaritas kemanusiaan.
Ungkapan emosional juga datang dari salah satu warga Aceh yang hadir menyaksikan acara tersebut. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan bahwa gerakan Ratoh Jaroe yang ditampilkan bukan hanya tarian, melainkan doa dan pengingat agar tragedi Tsunami Aceh tidak pernah dilupakan. “Kami merasa tidak sendiri. Dari Jakarta, dari Solo, dari seluruh Indonesia, doa dan cinta itu sampai ke Aceh,” tuturnya.
Adapun tujuan dari kegiatan Gelombang Harmoni ini adalah:
- Menumbuhkan solidaritas nasional melalui seni budaya Aceh.
- Memperingati 21 tahun Tsunami Aceh sebagai refleksi dan penguatan nilai kemanusiaan.
- Memperkuat eksistensi Ratoh Jaroe sebagai warisan budaya Indonesia.
- Mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian seni daerah.
Partisipasi santriwati boarding school MTsN 2 Surakarta menjadi wujud nyata bahwa madrasah memiliki kepedulian tinggi terhadap kebudayaan nasional serta terus berupaya meningkatkan literasi budaya peserta didik. Tim tari Ratoh Jaroe MTsN 2 Surakarta, yang juga dikenal sebagai tari Saman, sebelumnya telah tampil di berbagai momen penting dan memperoleh apresiasi luas dari masyarakat.
Beberapa pengalaman berharga yang mengasah jam terbang para penari antara lain penampilan pada acara akhirussanah dan pelepasan siswa kelas IX, pelantikan pengurus Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Kota Surakarta se-eks Karesidenan Surakarta di Hotel Sahid Jaya, peringatan Hari Ulang Tahun Uni Emirat Arab (UEA) di Masjid Sheikh Zayed Solo, serta berbagai kegiatan lainnya.
Melalui kegiatan ini, segenap civitas akademika MTsN 2 Surakarta menyampaikan doa dan harapan terbaik bagi masyarakat Aceh dan Sumatra. Semoga para korban bencana diberikan ketabahan, keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan negeri ini senantiasa dilindungi dari segala mara bahaya. Seni budaya menjadi jembatan empati, penguat persaudaraan, dan pengingat bahwa Indonesia selalu bersatu dalam duka maupun doa. (fi’/my)


















