Surakarta (Humas) — Tubuh lemas, pusing, dan sulit berkonsentrasi kerap dianggap sepele oleh remaja sekolah. Padahal, bisa jadi itu sinyal tubuh sedang mengalami anemia. Bergerak cepat menangani isu kesehatan ini, MTsN Surakarta 1 menggandeng Puskesmas Manahan menggelar kegiatan Problem-Based Learning (PBL) tentang pencegahan anemia dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) pada Kamis (27/8/2026) pagi, di Ruang Digital madrasah. Kegiatan edukatif ini diikuti oleh perwakilan siswi dari setiap kelas serta anggota Palang Merah Remaja (PMR) guna mencetak generasi muda yang paham dan tanggap menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.
Melalui pendekatan PBL, para siswi diajak untuk membedah langsung permasalahan anemia—mulai dari pengertian, gejala, hingga dampaknya terhadap tumbuh kembang dan konsentrasi belajar di kelas. Tim dokter Puskesmas Manahan memaparkan bahwa anemia adalah kondisi saat kadar hemoglobin atau sel darah merah berada di bawah batas normal. Di masa pertumbuhan, remaja putri menjadi kelompok yang sangat rentan karena mengalami siklus menstruasi rutin setiap bulannya.
Penyebab anemia tak hanya dari siklus bulanan, tetapi juga dari kebiasaan makan yang tidak seimbang. “Penyebabnya selain dari menstruasi itu dari konsumsi makanan yang tidak seimbang. Remaja sekarang kan banyak sekali yang tidak suka buah, sayur, padahal di situ zat besinya banyak sekali. Teh dan kopi itu pengaruh, karena di dalam teh dan kopi ada zat tanin yang bisa menghambat penyerapan zat besi. Jadi kalau bisa dikasih jeda 1-2 jam setelah mengonsumsi makanan,” tegas Lelly Kharisma Putri, salah satu tim dokter.
Suasana edukasi berlangsung interaktif, terutama saat masuk sesi tanya jawab. Salah satu siswi kelas 9C menanyakan apakah TTD dapat mengurangi rasa nyeri saat haid. Dokter mengklarifikasi bahwa TTD berfokus mengembalikan pasokan zat besi yang hilang, bukan sebagai pereda nyeri. Untuk meredakan kram haid, dokter menyarankan cara alami seperti mengompres perut dengan air hangat, melakukan olahraga ringan, cukup minum air putih, dan beristirahat. Adapun aturan minum TTD untuk remaja putri adalah satu kali seminggu, dan dianjurkan diminum setiap hari selama masa menstruasi berlangsung.
Penerapan kebiasaan sehat ini tentu tak lepas dari tantangan di lapangan. “Nah kalau kendalanya mungkin untuk makanan bergizi ada beberapa anak yang nggak suka sayur, nggak suka buah… Terus kalau minum TTD kan ada beberapa anak yang lupa minum TTD, atau kadang TTD-nya habis terus dia nggak berani minta lagi,” tutur Fazza, siswi kelas 8 Sains 3 sekaligus anggota PMR.
Menanggapi tantangan tersebut, pihak madrasah berkomitmen untuk terus menjalin kerja sama secara berkelanjutan. “Harapannya ya berlangsung terus dengan Puskesmas Manahan untuk memantau siswi MTsN Surakarta 1 mengenai anemia karena itu betul-betul membantu kesehatan anak-anak putri dan untuk meningkatkan belajar mengajarnya di kelas. Jadi anak-anak putri itu nanti bakal menjadi hebat, akan menjadi ibu, sehingga bangsa ini akan sehat karena anak putrinya tidak kekurangan anemia,” ujar Dewi Nurjanah, Pembina PMR menaruh harapan besar pada kegiatan ini. Melalui edukasi ini, siswi MTsN Surakarta 1 diharapkan dapat menerapkan pola makan bergizi dan menjadi agen pencegahan anemia di sekolah maupun lingkungan rumah. (dna/my)

















