Surakarta (Humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, mengajak generasi muda untuk menjadikan toleransi sebagai bagian dari karakter dan perilaku sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, kerukunan dan kemampuan menghargai perbedaan merupakan modal penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pesan tersebut disampaikan Ahmad Ulin saat menjadi narasumber dalam Talkshow Toleransi bertajuk “Generasi Muda Surakarta Bertoleransi #2” yang digelar di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta, Rabu (28/10/2026) malam. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Generus LDII Surakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta, Kementerian Agama, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta.
Mengangkat tema “Berbeda dalam Keyakinan, Bersatu dalam Harmoni, Merawat Kerukunan dari Solo untuk Indonesia”, kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan komitmen generasi muda dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. Dalam pemaparannya yang bertajuk “Toleransi bagi Generasi Penerus Surakarta Menuju Indonesia Emas”, Ahmad Ulin menyampaikan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemajuan ekonomi, penguasaan teknologi, dan sumber daya manusia yang unggul. Lebih dari itu, Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki karakter kuat, akhlak mulia, serta kemampuan hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.
Ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual, sikap saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa akan sulit terwujud apabila masyarakatnya tidak mampu menjaga kerukunan.
“Toleransi bukan sekadar slogan kerukunan, bukan hanya foto bersama lintas agama, dan bukan pula sekadar tidak bertengkar. Toleransi adalah kemampuan untuk menghormati perbedaan, menjaga martabat sesama manusia, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama,” jelasnya.

Ahmad Ulin juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan media digital. Arus informasi yang begitu cepat, menurutnya, dapat memberikan manfaat dalam memperluas wawasan, tetapi juga berpotensi menjadi sarana penyebaran hoaks, ujaran kebencian, prasangka, hingga provokasi berbasis identitas. Selain itu, terdapat sejumlah tantangan lain yang perlu diwaspadai, seperti fanatisme yang tidak sehat, minimnya interaksi dengan kelompok berbeda, polarisasi di media sosial, perundungan, diskriminasi, serta menurunnya budaya dialog.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya membangun generasi muda yang memiliki pemahaman agama secara baik. Keteguhan dalam menjalankan keyakinan harus tercermin melalui akhlak yang santun, sikap adil, serta penghormatan terhadap hak orang lain. Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Ulin juga mengutip firman Allah Swt. dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keberagaman bangsa dan suku agar saling mengenal. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan merupakan kenyataan kehidupan yang seharusnya menjadi jalan untuk membangun hubungan baik, bukan alasan untuk saling merendahkan.
Selain penguatan pemahaman agama, ia mendorong generasi muda agar memiliki literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa kebenarannya sebelum dibagikan. Generasi muda juga diharapkan mampu membedakan kritik terhadap gagasan dengan penghinaan terhadap pribadi atau kelompok, serta menghindari penyebaran konten yang mengandung kebencian.
“Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada akal sehat dan hati nurani kita,” pesannya.

Lebih lanjut, Ahmad Ulin menegaskan bahwa pendidikan toleransi tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah atau kegiatan formal. Keteladanan orang tua, guru, tokoh agama, dan lingkungan organisasi memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda. Sikap santun dalam berbicara, adil dalam bertindak, dan terbuka terhadap dialog harus menjadi budaya yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mendorong penguatan kolaborasi lintas komunitas melalui berbagai kegiatan positif, seperti dialog kepemudaan lintas agama, bakti sosial, gerakan kebersihan lingkungan, kegiatan kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga pelatihan literasi digital dan pencegahan hoaks.
Dalam mewujudkan toleransi secara nyata, Ahmad Ulin mengajak generasi muda membiasakan perilaku sederhana, seperti menerapkan 3S (Sapa, Senyum, dan Santun), mengembangkan budaya tabayun, membangun ruang dialog yang aman dan setara, serta aktif melakukan aksi sosial bersama. Ia juga mengingatkan pentingnya keberanian untuk menolak segala bentuk diskriminasi, perundungan, pengucilan, dan kekerasan akibat perbedaan identitas. Generasi muda harus mampu menjadi bagian dari solusi dengan melindungi sesama dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah persatuan.
Menurutnya, upaya merawat toleransi di Kota Surakarta membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Keluarga, sekolah, madrasah, pesantren, masjid, organisasi kepemudaan, pemerintah, tokoh masyarakat, hingga media digital memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem kerukunan. Dalam konteks tersebut, Kementerian Agama terus mendorong penguatan moderasi beragama, pelayanan kehidupan beragama, dialog, serta kerja sama lintas unsur masyarakat demi terpeliharanya kerukunan umat beragama.

Melalui kegiatan ini, Ahmad Ulin berharap generasi muda Surakarta tidak hanya memahami makna toleransi secara konseptual, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Generasi penerus diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam keyakinan, luhur dalam akhlak, bijak dalam menggunakan teknologi, serta aktif memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
“Mari kita jadikan Surakarta bukan hanya kota yang maju secara pembangunan, tetapi juga kota yang kuat dalam kerukunan dan kemanusiaan. Mari kita siapkan generasi yang cerdas pikirannya, kuat imannya, luhur akhlaknya, luas pergaulannya, dan besar kontribusinya bagi bangsa,” pungkasnya.
Talkshow Toleransi ini diharapkan menjadi salah satu upaya memperkuat kesadaran generasi muda bahwa keberagaman bukan penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan untuk membangun Surakarta yang harmonis sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.



















