Kota Surakarta (Humas) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh siswa siswi MAN 1 Surakarta di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Tiga siswa madrasah berhasil menembus 10 besar Lomba “Menulis Berdampak” yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah.
Ketiga siswa tersebut adalah Akbar Prasetya Nugraha (kelas 12 F1), Rizqi Rahmahsari Wahono (kelas 12 F9), dan Rafa Inarcahya Putra Lusila (kelas 11 F5). Prestasi tersebut semakin istimewa karena ketiganya menjadi satu-satunya peserta yang berasal dari jenjang Madrasah Aliyah (MA) se-Jawa Tengah yang berhasil masuk dalam jajaran 10 besar.
Atas prestasi tersebut, ketiga siswa MAN 1 Surakarta mendapatkan penghargaan secara langsung dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, dalam acara yang berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Kantor Gubernuran Jawa Tengah, Kota Semarang pada Kamis (15/10/2026).
Dalam kompetisi tersebut, Akbar, Rizqi, dan Rafa mengangkat karya berjudul “Model Kebijakan Penanggulangan Longsor Berbasis Machine Learning untuk Peringatan Dini Jawa Tengah.”
Karya tersebut mengangkat persoalan kebencanaan yang menjadi salah satu tantangan di Jawa Tengah, khususnya bencana tanah longsor. Ketiganya mencoba menawarkan gagasan pemanfaatan machine learning sebagai bagian dari pengembangan sistem peringatan dini yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan dalam mengenali potensi terjadinya longsor secara lebih cepat.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa siswa madrasah tidak hanya mampu menguasai pengetahuan secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar serta keberanian untuk menawarkan solusi melalui pendekatan teknologi.
Menariknya, peserta lain yang berhasil masuk dalam jajaran 10 besar berasal dari berbagai perguruan tinggi dan instansi. Kondisi tersebut membuat keberhasilan ketiga siswa MAN 1 Surakarta menjadi capaian tersendiri karena mampu membawa nama madrasah bersaing dalam ajang yang mempertemukan gagasan dari berbagai latar belakang.
Akbar Prasetya Nugraha mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih bersama kedua rekannya. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses belajar dan kerja sama yang mereka jalani selama menyusun karya.
“Kami sangat bersyukur bisa masuk 10 besar Lomba “Menulis Berdampak”. Awalnya kami tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan dan bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Tengah. Bagi kami, ini menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus membuktikan bahwa siswa madrasah juga mampu bersaing dengan peserta dari perguruan tinggi maupun instansi,” ujar Akbar.

Ia berharap gagasan yang mereka tuangkan dalam karya tersebut tidak berhenti sebagai karya lomba, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan teknologi kebencanaan.
“Kami berharap gagasan tentang pemanfaatan machine learning untuk peringatan dini longsor ini tidak hanya berhenti sebagai karya lomba, tetapi bisa menjadi inspirasi untuk pengembangan teknologi kebencanaan di Jawa Tengah,” tambahnya.
Guru pembimbing Tatik Budi Raharti mengaku bangga atas pencapaian yang diraih ketiga siswa tersebut. Menurutnya, proses mengikuti lomba memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi siswa, khususnya dalam membangun kemampuan riset, berpikir kritis, bekerja sama, dan menyusun gagasan berdasarkan persoalan nyata.
“Saya sangat bangga dengan capaian Akbar, Rizqi, dan Rafa. Mereka mampu menunjukkan bahwa siswa madrasah memiliki kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang inovatif dan relevan dengan persoalan yang ada di masyarakat,” ungkap Tatik.
Ia menjelaskan bahwa proses penyusunan karya membutuhkan kesungguhan dan ketekunan, mulai dari pengembangan ide, penyusunan data dan argumentasi, hingga bagaimana gagasan tersebut dituangkan dalam sebuah tulisan yang mampu bersaing dengan peserta dari berbagai latar belakang.
“Yang paling penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses belajar yang mereka lalui. Mereka belajar melakukan riset, berpikir kritis, bekerja sama, dan mencari solusi atas persoalan nyata. Mudah-mudahan pengalaman ini menjadi bekal bagi mereka untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Ahmad Wardimin, menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas prestasi yang berhasil diraih ketiga siswa.
Menurut Ahmad Wardimin, capaian tersebut menjadi bukti bahwa siswa madrasah memiliki potensi besar untuk bersaing dalam bidang riset, inovasi, dan teknologi.
“Prestasi ini merupakan kebanggaan bagi MAN 1 Surakarta. Masuknya siswa kami dalam 10 besar “Lomba Menulis Berdampak”, terlebih menjadi satu-satunya peserta dari Madrasah Aliyah se-Jawa Tengah, menunjukkan bahwa madrasah memiliki potensi besar dalam bidang riset, inovasi, dan pengembangan teknologi,” ujar Ahmad Ahmad Wardimin.
Ia menegaskan bahwa prestasi tersebut juga sejalan dengan upaya MAN 1 Surakarta dalam memberikan ruang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
“Kami ingin siswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu membaca persoalan di sekitarnya dan menawarkan solusi melalui gagasan yang kreatif dan inovatif. Karya tentang machine learning untuk peringatan dini longsor ini adalah contoh bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Ahmad Wardimin juga memberikan apresiasi kepada guru pembimbing dan ketiga siswa yang telah berjuang membawa nama baik MAN 1 Surakarta.
“Terima kasih kepada Ibu Tatik Budi Raharti selaku guru pembimbing, serta kepada Akbar, Rizqi, dan Rafa yang telah membawa nama baik MAN 1 Surakarta. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi siswa-siswa lainnya untuk terus berani meneliti, berinovasi, dan menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.
Keberhasilan Akbar Prasetya Nugraha, Rizqi Rahmahsari Wahono, dan Rafa Inarcahya Putra Lusila dalam “Lomba Menulis Berdampak” menjadi catatan positif bagi MAN 1 Surakarta. Tidak hanya karena berhasil masuk 10 besar tingkat Jawa Tengah, tetapi juga karena mampu menunjukkan eksistensi madrasah dalam kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi dan instansi.
Karya tentang model kebijakan penanggulangan longsor berbasis machine learning tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran di madrasah dapat diarahkan untuk melahirkan gagasan yang kontekstual, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi siswa MAN 1 Surakarta lainnya untuk terus mengembangkan budaya literasi, riset, inovasi, dan kolaborasi.
Bagi madrasah, capaian tersebut bukan sekadar tentang sebuah penghargaan, tetapi tentang bagaimana siswa diberi kesempatan untuk berani berpikir, berani meneliti, berani menawarkan solusi, dan berani membawa gagasannya ke ruang yang lebih luas. (rsd/rmd)


















