Surakarta (Humas) — Memasuki awal bulan suci Ramadhan 1447 H, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Surakarta menghadirkan inovasi pembelajaran karakter melalui program “Ramadhan Seru: Misi Kebaikan di Rumah” yang dilaksanakan pada 18–21 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi wujud nyata penguatan pendidikan karakter madrasah sekaligus implementasi gerakan 7 Kebiasaan Baik yang terus didorong oleh Kementerian Agama Kota Surakarta.
Program Pembelajaran Mandiri di Lingkungan Keluarga (PMLK) tersebut mengajak sebanyak 941 siswa kelas VII hingga IX menjalankan berbagai misi kebaikan selama Ramadhan, mulai dari membantu orang tua menyiapkan buka puasa, menjaga kebersihan tempat ibadah, hingga meningkatkan kedisiplinan ibadah harian di rumah.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Rifhamdani Agam secara terpisah menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan madrasah yang menekankan pembentukan karakter melalui pembiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. “Madrasah tidak hanya menyiapkan peserta didik unggul secara akademik, tetapi juga membangun karakter melalui pembiasaan nyata. Program ini mencerminkan implementasi 7 Kebiasaan Baik, seperti disiplin beribadah, tanggung jawab, kepedulian kepada orang tua, menjaga kebersihan, kejujuran, kemandirian, serta pemanfaatan teknologi secara bijak,” ungkapnya.
Wakil Kepala Bidang Kurikulum MTsN 1 Surakarta, Wahyu Febriyanto, menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan bagian dari penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dikembangkan Kementerian Agama. “Melalui misi-misi kebaikan ini, siswa belajar menginternalisasi nilai Panca Cinta, yaitu cinta kepada Allah, Rasul, ilmu, sesama manusia, dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan pembentukan tujuh kebiasaan baik yang ditanamkan secara konsisten di rumah,” jelas Wahyu.
Senada dengan hal tersebut, Kepala MTsN 1 Surakarta, Nurul Qomariyah, menegaskan bahwa Ramadhan menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara madrasah dan keluarga dalam pendidikan karakter peserta didik. Menurutnya, pendekatan pembelajaran berbasis keluarga mampu menghadirkan pengalaman spiritual yang lebih bermakna dibandingkan sekadar laporan administrasi ibadah. Keberhasilan program ini terlihat dari tingkat partisipasi siswa yang mencapai 98,5 persen. Data menunjukkan tingkat pelaksanaan shalat lima waktu mencapai 99 persen, sementara sekitar 70 persen siswa menunjukkan peningkatan kemandirian melalui keterlibatan aktif dalam pekerjaan rumah tanpa instruksi berulang dari orang tua.
Kementerian Agama Kota Surakarta menilai capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan madrasah dalam menanamkan kebiasaan baik secara berkelanjutan. Selain meningkatkan spiritualitas, kegiatan ini juga memperkuat komunikasi keluarga, tercermin dari munculnya momen dialog hangat antara orang tua dan anak saat menunggu waktu berbuka puasa.
Meski dilaksanakan secara digital melalui sistem self-monitoring berbasis Google Form, madrasah tetap mengedepankan prinsip kemudahan dan inklusivitas bagi orang tua. Kebijakan tanpa seragam serta penggunaan resolusi foto rendah menjadi bentuk kepedulian terhadap efisiensi penggunaan data internet keluarga.
Hasil jurnal kegiatan siswa selanjutnya akan dikonversi menjadi nilai sikap (KI-2) pada Raport Tengah Semester serta diberikan penghargaan bagi jurnal paling inspiratif sebagai bentuk apresiasi terhadap kejujuran dan konsistensi siswa.
Kementerian Agama Kota Surakarta berharap praktik baik yang dilakukan MTsN 1 Surakarta ini dapat menjadi model penguatan karakter madrasah di era digital. Melalui pembiasaan tujuh kebiasaan baik yang terintegrasi antara sekolah, keluarga, dan teknologi, madrasah diharapkan mampu mencetak generasi yang berakhlak mulia, mandiri, serta adaptif menghadapi perkembangan zaman. (diana/my)


















