Kota Surakarta (Humas) – Dalam rangka menetapkan awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, bertempat di Observatorium Asy-Syi’ra Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta, Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam menggelar kegiatan Rukyatul Hilal pada Selasa (17/02/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi sekaligus sinergi peran aktif Kankemenag dan Madrasah dalam penentuan kalender Islam melalui pengamatan astronomi secara langsung.
Rukyatul Hilal yang berlangsung kondusif ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta Ahmad Ulin Nur Hafsun didampingi jajaran Seksi Bimas Islam, Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Wardimin, serta perwakilan dari ormas Islam Kota Surakarta.

Dalam sambutannya, Ahmad Ulin Nur Hafsun menyampaikan apresiasi atas kontribusi MAN 1 Surakarta dalam penyelenggaraan dan kelancaran kegiatan Rukyatul Hilal. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bukti kehadiran negara sebagai penyelenggara pelayanan public yang kredibel.
“Berkaitan dengan layanan publik terkait penentuan awal Ramadan, 1 Syawal, 1 Dzulhijjah, 9 Dzulhijjah, yang membutuhkan kepastian pelaksanaan. Pemerintah mengintegrasikan berbagai metode ilmiah (hisab dan hilal),” tutur Ahmad Ulin Nur Hafsun.
Ditambahkannya, akurasi data dalam rukyat sangat krusial sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Nasional. “Kemenag sangat mendukung kegiatan yang melibatkan teknologi dan ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan MAN 1 Surakarta. Hasil dari pengamatan di titik ini akan segera kami laporkan ke pusat sebagai bagian dari pemantauan hilal nasional untuk memberikan kepastian ibadah bagi umat Muslim,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Ahmad Wardimin menyampaikan rasa bangganya atas fasilitas observatorium yang dimiliki madrasah. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana laboratorium alam bagi siswa dan umat.
“Kami berharap Observatorium Asy-Syi’ra ini terus menjadi pusat literasi ilmu falak di Surakarta. Melalui rukyatul hilal sore ini, kita tidak hanya menanti hilal muncul, tetapi juga memberikan edukasi nyata mengenai perpaduan antara sains dan hukum syar’i,” ujarnya.
Sebelum pengamatan dimulai, Muhammad Fiqhussunah, dari tim Observatorium Asy-Syi’ra, memberikan pemaparan mendalam mengenai posisi hilal berdasarkan perhitungan hisab terkini. Ia menjelaskan parameter-parameter teknis seperti tinggi hilal, elongasi, dan fraksi iluminasi bulan pada Selasa sore lalu.

“Secara teknis, berdasarkan data hisab, posisi hilal pada petang belum berada di atas ufuk. Konjungsi baru terjadi pada pukul 19.01 WIB. Ketinggian hilal pada saat matahari terbenam, masih di bawah ufuk yaitu -1,27 derajat dan sudut elongasinya 1,06 derajat sehingga hilal tidak akan nampak,” paparnya di Fiqhussunah di hadapan para hadirin.
Setelah sesi sambutan dan paparan, tim beralih ke area rooftop tempat instrumen astronomi disiapkan. Menggunakan beberapa unit teleskop motorik (termasuk jenis Sky-Watcher), para tamu dan tim Observatorium Asy-Syi’ra tampak serius memantau pergerakan benda langit saat matahari terbenam. Meski kondisi awan di ufuk barat cukup dinamis, antusiasme para peserta tetap tinggi. Hasil pengamatan dari Observatorium Asy-Syi’ra ini diharapkan dapat memperkuat data hisab yang telah ada sebelumnya. (rsd/rmd)


















