Surakarta (Humas) – Peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci dalam menghadirkan pembelajaran agama yang relevan, kreatif, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik di tengah perkembangan zaman. Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Workshop Peningkatan Kompetensi Pedagogik dalam Pengajaran Agama Katolik di SMA dan SMK yang diselenggarakan di Surakarta, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memberikan penguatan terkait tantangan pendidikan agama Katolik, pentingnya menjaga martabat manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta penerapan pembelajaran berdiferensiasi untuk menciptakan proses belajar yang menarik dan bermakna.
Pembimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Yuliana Setyaningsih, menyampaikan sejumlah tantangan yang masih dihadapi dalam pelayanan Pendidikan Agama Katolik di sekolah. Salah satu keprihatinan yang menjadi perhatian bersama adalah masih terdapat lebih dari 3.000 peserta didik Katolik di Jawa Tengah yang belum mendapatkan pelayanan Pendidikan Agama Katolik.
Ia juga memaparkan kondisi tenaga pendidik agama Katolik di Jawa Tengah, yang terdiri atas 236 guru non-ASN, 112 guru agama PNS di luar Kementerian Agama, 78 guru agama Katolik PNS Kementerian Agama, serta 60 guru agama berstatus PPPK. Kota Surakarta dan Kota Semarang menjadi wilayah dengan jumlah guru agama Katolik terbanyak.
Menurut Yuliana, tantangan guru agama saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tenaga pendidik, tetapi juga kemampuan menyesuaikan metode pembelajaran dengan kurikulum dan karakteristik peserta didik yang beragam. Guru dituntut mampu memahami kebutuhan murid agar pembelajaran tidak sekadar berlangsung satu arah.
“Kalau hanya satu arah, semuanya akan keluar dari kuping kanan lalu keluar dari kuping kiri. Karena itu, kita harus mampu menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan karakteristik murid saat ini,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa guru saat ini bukan lagi satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan. Peserta didik dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, termasuk melalui teknologi digital. Oleh karena itu, guru harus mampu menjadi sosok teladan dan figur yang menginspirasi.
“Guru sekarang bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Anak-anak sudah bisa mengeksplorasi berbagai sumber pengetahuan. Maka, guru harus bisa menjadi tokoh idola bagi murid-muridnya sehingga mereka mau belajar dari gurunya,” jelas Yuliana.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyoroti pentingnya Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai upaya meningkatkan profesionalitas dan kompetensi pendidik. Di tengah keterbatasan anggaran, Kementerian Agama terus mengupayakan sinergi dengan pemerintah daerah agar dapat turut mendukung pembiayaan PPG bagi guru agama. Selain itu, upaya penyampaian aspirasi terkait kebutuhan guru Pendidikan Agama Katolik juga tengah diperjuangkan melalui agenda pertemuan dengan Komisi VIII DPR RI.
Sementara itu, Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Romo Kevikepan Surakarta, mengangkat tema Magnifica Humanitas, yang membahas pentingnya menjaga martabat manusia di era kecerdasan buatan. Materi tersebut merujuk pada ensiklik Paus Leo XIV tertanggal 15 Mei 2026 yang mengajak umat untuk senantiasa menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar dalam menyikapi perkembangan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa manusia saat ini berada di persimpangan jalan dalam menghadapi kemajuan teknologi. Melalui perbandingan kisah Menara Babel dalam Kitab Kejadian dan pembangunan Yerusalem dalam Kitab Nehemia, peserta diajak merefleksikan dua pilihan dalam membangun peradaban: mengandalkan kemampuan manusia semata atau tetap menempatkan Tuhan sebagai pusat dari setiap karya dan perkembangan.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak pernah sepenuhnya netral karena selalu dipengaruhi oleh karakter, kepentingan, dan nilai-nilai pihak yang merancang, membiayai, mengatur, maupun menggunakannya.
“Teknologi itu tidak pernah netral. Teknologi mengambil karakteristik dari mereka yang merancang, membiayai, mengatur, dan menggunakannya. Karena itu, kita harus menentukan apakah teknologi dibangun untuk kepentingan semua orang atau justru menciptakan tembok yang memisahkan manusia,” jelas Romo Herman.
Ia juga mengingatkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, kecerdasan, maupun kesempurnaan yang dimiliki. Dalam konteks tersebut, ia menjelaskan lima prinsip Ajaran Sosial Gereja, yaitu kebaikan bersama, tujuan universal barang dan ciptaan, subsidiaritas, solidaritas, serta keadilan sosial. Kelima prinsip tersebut menjadi landasan untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berpihak pada kepentingan bersama dan memperhatikan mereka yang lemah serta tersisihkan.
Lebih lanjut, Romo Herman mengajak para pendidik untuk membangun kesadaran kritis dalam penggunaan AI, terutama dalam mendampingi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang viral tetapi belum tentu benar. Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk peserta didik yang mampu berpikir kritis, membangun hubungan yang sehat, mencintai kebenaran, serta berpegang teguh pada nilai-nilai kehidupan.
“Humanisme Kristiani mengajak kita untuk memeluk keterbatasan sebagai ruang lahirnya kasih. Ada sisi kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi, yaitu kehadiran dan kasih,” pesannya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Agustinus W. Dewantara dengan tema Pembelajaran Berdiferensiasi: Mengajar Agama dengan Menarik dan Kreatif. Ia menekankan bahwa seorang guru agama tidak cukup hanya menguasai materi keagamaan, tetapi juga harus memiliki kemampuan pedagogik, memberikan dukungan sosial dan emosional kepada peserta didik, serta mengembangkan kreativitas dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun kesepakatan bersama peserta didik sehingga tercipta lingkungan belajar yang saling menghargai dan kondusif.
“Guru itu harus paham ilmu, tetapi juga harus paham cara mengajar agar ilmu yang dimiliki bisa tersampaikan dengan baik kepada peserta didik,” tegas Agustinus.
Ia juga mengingatkan pentingnya perencanaan dalam setiap proses pembelajaran. Guru harus mampu mengelola pembelajaran secara efektif dan bermakna, sehingga kegiatan belajar tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana peserta didik memahami dan menghayati nilai-nilai yang dipelajari.
Dalam penjelasannya, Agustinus mengambil keteladanan Yesus sebagai gambaran guru yang kreatif. Yesus mampu menyampaikan ajaran tentang Kerajaan Allah melalui bahasa dan perumpamaan sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat pada zamannya, termasuk para nelayan dan orang-orang biasa.
“Guru yang kreatif itu bisa belajar dari Yesus. Yesus mampu menyampaikan Kerajaan Allah dengan cara yang sederhana karena yang mendengarkan adalah para nelayan dan orang-orang biasa. Jadi, mengajar agama itu juga soal metode. Lakukan seperti yang dilakukan Yesus,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan agama hendaknya senantiasa diarahkan pada pertumbuhan iman dan pembentukan pribadi peserta didik. Sebagaimana prinsip dalam Gereja bahwa hukum tertinggi adalah keselamatan jiwa-jiwa, guru agama memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk kehidupan rohani dan karakter peserta didik.
Melalui workshop ini, para guru diharapkan semakin mampu mengembangkan kompetensi pedagogik, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta menghadirkan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik yang lebih kreatif, humanis, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, keteladanan, dan kasih. Dengan demikian, guru agama tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga menjadi pendamping dan teladan dalam membentuk generasi yang beriman, berkarakter, kritis, serta mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.(Za)
Apel Rutin Kemenag Surakarta, Ahmad Ulin Ajak ASN Evaluasi Kinerja Dan Sukseskan Program Bimas Mantu
Surakarta (Humas) - Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta melaksanakan apel rutin pegawai pada Senin (2/11/2026) di halaman kantor setempat. Apel...
Selanjutnya

















