Surakarta (Humas) — Semangat memperkuat persatuan dan kerukunan lintas iman mengemuka dalam Doa Bersama dan Seminar Kebangsaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Sekretariat Bersama Kota Surakarta, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan sejumlah komunitas, di antaranya GKI Sangkrah, YPLAG, serta yayasan keagamaan se-Kota Surakarta tersebut menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, dan Pendeta GKI Sangkrah, Pdt. Em. Lanny Sri Mariani. Sekitar 300 peserta hadir dari 6 agama serta penganut kepercayaan dalam kegiatan doa lintas iman tersebut.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Ulin mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Kota Surakarta sebagai “laboratorium kerukunan”. Menurutnya, keberagaman yang menjadi bagian dari sejarah Surakarta sebagai kota budaya dan pendidikan merupakan modal sosial yang sangat kuat untuk membangun kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan saling menghormati.
“Mari kita jadikan Surakarta sebagai laboratorium kerukunan. Kerukunan bukan sekadar slogan, tetapi harus hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari,” tegas Ahmad Ulin.
Ia menambahkan, mewujudkan kerukunan membutuhkan kolaborasi pemerintah, tokoh dan organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, komunitas, pemuda, perempuan, hingga media. Perbedaan cara beribadah, tradisi, dan ekspresi keagamaan, lanjutnya, merupakan bagian dari semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus dirawat bersama.

Ahmad Ulin juga menekankan bahwa doa harus berjalan beriringan dengan ikhtiar. Ia mengutip nasihat Mbah Kiai Hilal dari Kauman Solo yang mengibaratkan doa seperti menembak, serta pesan K.H. Anwar Musyaddad, M.A., agar seseorang memperbanyak doa dalam berbagai kesempatan. “Doa adalah energi spiritual, tetapi doa harus dilanjutkan dengan karya dan langkah nyata. Doa tanpa ikhtiar hanya akan menjadi harapan yang tidak terwujud,” ujarnya.
Dilanjutkan dengan ulasan dari Pendeta GKI Sangkrah, Pdt. Em. Lanny Sri Mariani yang menyampaikan bahwa kita perlu prihatin dengan keadaan saat ini dengan banyak ketidakadilan terjadi. “Tindak kejahatan dimana- mana,bahkan perdagangan manusia ditambah lagi generasi muda yang hidup dalam percintaan sesama jenis,” ujarnya. Ia mengajak seluruh umat untuk berperang, lawan dengan doa yang dipanjatkan dengan tulus. Selanjutnya, Pendeta Lanny meminta seluruh hadirin untuk mengenal satu dengan lainnya, berjabat tangan, berkenalan agar tercipta rasa damai, saling menyayangi.
Sebelumnya, Kepala Bagian Kesra Setda Kota Surakarta, Endang Sabar Widiasih, menyampaikan pesan Wali Kota Surakarta agar masyarakat memperkuat rasa saling percaya, memperbanyak dialog, menolak kekerasan dan ujaran kebencian, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Ia menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan dan pembangunan fisik, tetapi juga melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan kesediaan menjaga persatuan.

Doa bersama lintas iman dipimpin oleh 7 pendoa, diantaranya ; KH. Muhammad Jupri (Agama Islam), Pdt. Hendrikus A Raharjo ( Agama Kristen), Rm A Bagas Prasetyo Adi N,SJ (Agama Katolik), Pinandita Bagiyo Hadi (Agama Hindu), Rama Jayasilo Lilik (Agama Budha), Ws Adjie Chandra (Agama Konghucu) dan Grees Raja (Penganut Kepercayaan)

Kegiatan diakhiri dengan Penandatanganan Kesepakatan Damai, oleh 7 pendoa, Kepala Kemenag Kota Surakarta, Pendeta GKI Sangkrah, Ketua YPLAG dan Tokoh lainnya. Doa bersama lintas iman tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, menjaga keutuhan NKRI, serta mewujudkan Surakarta sebagai kota yang semakin rukun, inklusif, dan harmonis. (may)














