Surakarta (Humas) – Dalam rangka menumbuhkan kesadaran spiritual dan etis bahwa merawat alam merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab keimanan, Kelurahan Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta meresmikan Taman Ekoteologi Kampung Toleransi Beragama sekaligus melaunching Sunday Market RW 02 Kelurahan Ketelan, Minggu (25/01/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta Ahmad Ulin Nur Hafsun, Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, serta unsur pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga setempat.
Kepala Kankemenag Kota Surakarta Ahmad Ulin Nur Hafsun menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif Kelurahan Ketelan dalam menghadirkan taman yang memadukan nilai keimanan, kepedulian lingkungan, dan toleransi antarumat beragama.
“Alhamdulillah, kami dari Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiatif Kelurahan Ketelan dalam mewujudkan Taman Ekoteologi Toleransi Beragama ini,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pada tahun 2025 Pemerintah Kota Surakarta meraih Harmoni Award dari Kementerian Agama RI sebagai pemerintah kota dengan komitmen kuat dalam menjaga keharmonisan dan kerukunan antarwarga. Menurutnya, kehadiran Taman Ekoteologi ini menjadi bukti konkret yang memperkuat upaya peningkatan indeks kota toleran Surakarta di tingkat nasional.
“Kami optimis, hadirnya taman ini akan menambah kekuatan, data dukung, dan evidence agar Indeks Kota Toleran Surakarta terus meningkat, bahkan menjadi peringkat pertama di Indonesia,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ahmad Ulin menjelaskan bahwa konsep ekoteologi sejatinya telah melekat dalam kehidupan sehari-hari umat beragama. Ia mengutip pandangan psikolog Laila CH Budiman dari Melbourne University yang menyebut bahwa cinta kepada Tuhan akan terwujud dalam cinta kepada sesama manusia, makhluk hidup, dan lingkungan sekitar.
“Semakin cinta kita kepada Tuhan, maka kepedulian kita kepada sesama dan lingkungan juga akan semakin meningkat,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Kemenag Kota Surakarta juga menghadirkan para penyuluh agama dari KUA Kecamatan Banjarsari untuk memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM, khususnya terkait proses sertifikasi halal melalui skema self-declare yang dapat diakses secara gratis. Ia juga mengajak para penyuluh agama untuk secara rutin merawat taman sebagai bagian dari sedekah lingkungan.
“Sodakoh pohon itu manfaatnya luar biasa. Selama pohon itu hidup, berarti kita bersedekah oksigen bagi seluruh makhluk di bumi,” tambahnya.
Sebelum peresmian taman, Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani membacakan sambutan Wali Kota Surakarta. Dalam sambutannya, Pemerintah Kota menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada warga Kelurahan Ketelan, LPMK, panitia, serta seluruh pihak yang telah bergotong royong mewujudkan Taman Ekoteologi.
“Ini bukan sekadar taman, tetapi ruang pembelajaran sosial, ruang refleksi spiritual, sekaligus simbol nyata bahwa toleransi, kepedulian lingkungan, dan persaudaraan dapat tumbuh dari tingkat kampung,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.

Astrid menegaskan bahwa konsep ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga alam bukan hanya persoalan teknis, melainkan bagian dari nilai keimanan, etika, dan tanggung jawab moral. Di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan ruang terbuka hijau di perkotaan, taman ini dinilai menjadi contoh ruang hijau yang inklusif, edukatif, dan berkelanjutan.
Selain itu, Pemerintah Kota Surakarta juga menyambut baik peluncuran Sunday Market RW 02 sebagai bentuk penguatan ekonomi kerakyatan dan UMKM berbasis komunitas. Pasar warga ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga sarana interaksi sosial dan penguatan solidaritas antarwarga.
Astrid berharap inisiatif Kelurahan Ketelan dapat menjadi inspirasi bagi kelurahan lain di Kota Surakarta. “Harapannya, ini menjadi pemantik bagi kelurahan-kelurahan lain untuk menghadirkan ruang toleransi dan kepedulian lingkungan, sehingga indeks kota toleran Surakarta semakin meningkat dan mampu meraih peringkat pertama di Indonesia,” pungkasnya. (may)


















