Surakarta (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kota Surakarta mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) dan Pembinaan Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) Solo Raya di Aula Pemda Terpadu Kabupaten Sragen (21/01/2026).
Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi para penyuluh agama Islam se-Solo Raya untuk memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas diri, serta menyamakan visi dakwah di tengah dinamika perubahan sosial dan perkembangan teknologi informasi.
Rakor dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen, Ihsan Muhadi, pejabat struktural Kemenag Sragen, serta para penyuluh agama Islam dari berbagai kabupaten/kota di wilayah Solo Raya.
Acara dibuka secara resmi oleh Kasi Bimas Islam Kemenag Sragen,Muslim. Dalam sambutannya, Muslim menegaskan bahwa penyuluh agama Islam merupakan ujung tombak Kementerian Agama karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Oleh sebab itu, penyuluh dituntut tidak hanya memiliki kemampuan menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga keteladanan akhlak dan kesiapan mental dalam menghadapi berbagai tantangan sosial.
“Tugas penyuluh sangat berat karena langsung berhadapan dengan masyarakat. Maka jadilah penyuluh yang baik, handal, dan menjadi teladan. Nikmati setiap proses pengabdian agar dakwah benar-benar berdampak,” pesannya.

Ketua Pokjaluh Solo Raya, Slamet Arifin dalam laporannya menyampaikan bahwa jumlah Penyuluh Agama Islam se-Solo Raya mencapai 572 orang, terdiri atas 172 penyuluh perempuan dan 400 penyuluh laki-laki. Adapun dari Kota Surakarta, hadir 32 penyuluh, yang terdiri dari 8 penyuluh perempuan dan 24 penyuluh laki-laki.
Sebagai narasumber utama, Eko Suseno, trainer, motivator, dan konsultan dari Semarang, yang membawakan materi bertema “Membangun Mental Perubahan dan Etos Kerja Penyuluh Agama Islam yang Berdampak”. Dalam pemaparannya, Eko Suseno menekankan pentingnya kesiapan penyuluh agama Islam menghadapi perubahan zaman, khususnya di era digital dan kecerdasan buatan. Ia menjelaskan teori perubahan D4A, mulai dari fase menolak, sadar, menerima, hingga bertindak, sebagai proses yang harus dilalui agar penyuluh mampu beradaptasi secara positif.
Ia juga menggarisbawahi bahwa etos kerja penyuluh harus berlandaskan jiwa pengabdian, yang diwujudkan melalui nilai humanis, amanah, terampil, disiplin waktu, dan integritas. Menurutnya, penyuluh agama Islam harus menjadi role model bagi masyarakat, dengan menguatkan dua modal utama, yaitu kompetensi dan karakter.
“Perubahan harus dimulai dari penyuluh. Jika penyuluh profesional, kompeten, dan berkarakter, maka dakwah akan lebih diterima dan berdampak luas di tengah masyarakat,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab, sebelum ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Rakor ini diharapkan mampu memperkuat sinergi Penyuluh Agama Islam Kota Surakarta dalam menjalankan tugas pembinaan umat secara adaptif dan berkelanjutan. (mza/my)

















