Surakarta (Humas) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, melaksanakan Shalat Idul Adha bersama jajaran Seksi Bimbingan Masyarakat Islam di Balaikota Surakarta, pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 H (27/05/2026). Kehadiran jajaran Kemenag ini menjadi bagian dari penguatan sinergi keagamaan sekaligus pelayanan umat di ruang publik.
Shalat Idul Adha berlangsung khidmat dengan diikuti oleh masyarakat Kota Surakarta dari berbagai kalangan. Dalam suasana penuh kekhusyukan tersebut, jamaah diajak untuk merefleksikan makna pengorbanan, keikhlasan, serta kepedulian sosial yang menjadi inti dari peringatan Idul Adha.
Bertindak sebagai khatib, KH. Mustain Nasoha menyampaikan khutbah yang menekankan lima hikmah utama Idul Adha. Pertama, pentingnya ketakwaan dan ketaatan total kepada Allah Swt., sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sepenuhnya tunduk terhadap perintah Ilahi. Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa hakikat iman adalah kesiapan untuk berkorban demi menjalankan perintah Allah, meskipun berat secara manusiawi.
Kedua, khutbah menegaskan pentingnya keikhlasan dalam beribadah. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi wujud ketulusan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah. Nilai yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darahnya, melainkan ketakwaan dan kemurnian niat dari hamba-Nya.
Ketiga, ibadah kurban menjadi sarana pendidikan jiwa. Melalui pengorbanan harta dan tenaga, umat Islam dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, mengikis sifat kikir, serta menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian kepada sesama.
Keempat, Idul Adha memperkuat solidaritas sosial. Pembagian daging kurban menjadi simbol nyata hadirnya kasih sayang, persaudaraan, dan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya bagi mereka yang membutuhkan. Momentum ini sekaligus menjadi pengingat untuk menjaga keharmonisan sosial serta menjauhi perilaku yang merusak ukhuwah.
Kelima, pentingnya menjaga ketaatan kepada pemimpin serta persatuan umat. Stabilitas dan keharmonisan masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan kehidupan beragama yang damai dan berkeadaban.
Kepala Kankemenag Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan imbauan secara tidak langsung terkait penerapan ekoteologi dalam pelaksanaan kurban. Ia mengajak masyarakat untuk memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dalam setiap proses penyembelihan dan distribusi hewan kurban.
“Kurban tidak hanya berdimensi ibadah spiritual dan sosial, tetapi juga harus memperhatikan tanggung jawab ekologis. Kami mengimbau penggunaan bahan ramah lingkungan dalam pembagian daging kurban, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta memastikan pengelolaan limbah dilakukan dengan baik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konsep ekoteologi menjadi bagian penting dalam praktik keagamaan masa kini, di mana nilai-nilai ajaran Islam selaras dengan upaya menjaga kelestarian alam sebagai amanah dari Allah Swt.
Melalui momentum Idul Adha ini, Kementerian Agama Kota Surakarta berharap nilai-nilai ketakwaan, keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial dapat terus diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mendorong kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah.
Idul Adha bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi madrasah kehidupan yang membentuk pribadi muslim yang taat, ikhlas, peduli, dan bertanggung jawab, baik kepada sesama manusia maupun terhadap alam semesta. (may)




















