Surakarta (Humas) – Sekolah berbasis lingkungan, sering dikenal dengan program Adiwiyata adalah institusi pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai pelestarian lingkungan hidup ke dalam kurikulum, manajemen, dan budaya sekolah sehari-hari. Madrasan Negeri dan Swasta Kota Surakarta berupaya dan memajukan langkah demi terwujudnya program tersebut. Salah satunya, MTs Muhammadiyah Surakarta yang semakin mantab menuju Sekolah Adiwiyata.
Kegiatan pembinaan intensif bagi calon Sekolah Adiwiyata dan Ekoteologi diikuti Tim 1 Adiwiyata Kota Surakarta (31/03/2026) di Kampus 1 MTs Muhammadiyah Purwodiningratan. Kegiatan yang diikuti oleh beberapa sekolah salah satunya adalah MTs Muhammadiyah Surakarta ini, dipimpin langsung oleh 2 tokoh penting yakni Diah Pitaloka selaku perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, serta Sutarno dari Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Surakarta.
Sesi pertama dipimpin oleh Diah Pitaloka dan Sutarno yang memberikan arahan untuk pengajuan berkas dan syarat untuk menjadi Sekolah Adiwiyata mulai dari Visi Misi, tujuan, Tata tertib dan Pembelajaran yang memuat tentang lingkungan. Sutarno juga menambahkan bahwa kegiatan pembinaan ini bisa menjadi forum diskusi antara sekolah yang satu dengan yang lain bisa saling melengkapi dan diaplikasikan di sekolahnya masing-masing. “Jadi misal di dalam Kurikulum Operasional Madrasah belum lengkap dalam memuat aspek aspek Adiwiyata maka bisa belajar dari sekolah lain dan bisa meniru dan disesuaikan dengan kondisi sekolah masing- masing agar bisa lebih sempurna baik di bagian visi misi, tujuan, tata tertib maupun Perangkat pembelajaran atau Modul Ajar,”imbuhnya.

Kepala MTs Muhammadiyah Surakarta, Mar’atus Sholihah Isnaini berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik. “Kegiatan pembinaan ini sangat bermanfaat bagi kami dalam mempersiapkan diri menuju Sekolah Adiwiyata. Kami berkomitmen untuk terus memperkuat integrasi nilai-nilai kepedulian lingkungan dalam kurikulum, budaya sekolah, serta kegiatan sehari-hari peserta didik. Harapannya, seluruh warga madrasah dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan secara nyata dan berkelanjutan,” harapnya.
Memasuki sesi kedua yaitu sesi teknis pengisian aplikasi SI DIA (Sistem Informasi Dokumentasi Adiwiyata). Dipandu oleh Lisa Sekar Wangi dan Muhammad Dawan Khoirudin. Keduanya memberikan arahan mengenai tata cara pengunggahan dokumen bukti fisik, penginputan data pendukung, hingga menyelaraskan instrumen evaluasi mandiri kedalam sistem digital tersebut.
“Pengisian SI DIA harus dilakukan secara teliti dan akurat karena sistem ini menjadi media utama bagi tim penilai untuk melihat sejauh mana Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS) telah diterapkan secara konsisten,” ujar Lisa di sela simulasi pengisian aplikasi.
Diah Pitaloka dan Sutarno menambahkan penguatan dari sisi kebijakan dan integrasi kurikulum. Mereka menekankan bahwa Sekolah Adiwiyata atau Madrasah Ekoteologi bukan sekedar pemenuhan dokumen di aplikasi, melainkan perubahan perilaku nyata seluruh warga sekolah dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Senada, Pengawas Madrasah Sri Hartati memberikan motivasi kepada MTs Muhammadiyah Surakarta. “Alhamdulillah MTs Muhammadiyah Syrakarta menjadi sasaran dari Sekolah Adiwiyata. Program Adiwiyata bukan hanya sekedar mengejar penghargaan atau memperindah fisik sekolah dengan tanaman,tetapi esensi utamanya adalah Transformasi Perilaku, saya sangat mengapresiasi komitmen MTs Muhammadiyah dalam mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam kurikulum dan budaya sehari-hari. Semangat buat semua warga MTs Muhammadiyah dalam mewujudkan Madrasah Adiwiyata,”pungkasnya (hfdz/my)











