Surakarta (Humas) – Putaran keempat Sosialisasi Gerakan Keluarga Maslahah Kemenag Kota Surakarta berlangsung hangat di Gedung Pertemuan PPP RT 03/RW 08, Petoran, Jebres, Surakarta, Rabu (22/10/2025) malam. Acara ini dihadiri para tokoh masyarakat, anggota Majelis Pengumpul dan Penyalur Infak (MAPPI), serta warga sekitar.
Hadir sebagai narasumber, Pardi, penyuluh fungsional sekaligus Ketua IPARI Kota Surakarta, yang memaparkan tujuan utama program Gerakan Keluarga Maslahah yang kini tengah digencarkan Kementerian Agama di lima kecamatan se-Kota Surakarta.
“Keluarga Maslahah itu keluarga yang baik. Maslahah itu artinya baik,” ujar Pardi membuka materinya.
Ia menjelaskan bahwa keluarga yang maslahah harus dimulai dari pasangan suami istri yang serasi ; saling melengkapi, saling menghargai, bisa menerima apa adanya, dan selalu bersyukur.
“Jangan sampai sudah menikah sepuluh, lima belas, bahkan dua puluh tahun, tapi malah menyesal. Mestinya tambah tua, tambah sayang,” pesannya disambut tawa hangat para peserta.
Dalam kesempatan itu, Pardi juga mengingatkan pentingnya komunikasi dan rasa terima kasih dalam rumah tangga.
“Kalau diberi uang belanja oleh suami, jangan lupa mengucapkan terima kasih. Berapa pun jumlahnya, ucapkan Alhamdulillah,” ujarnya yang kembali disambut gelak tawa para ibu-ibu peserta sosialisasi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keluarga maslahah bukan sekadar rumah tangga yang harmonis, tetapi juga keluarga yang beriman dan taat pada ajaran Islam.
“Ciri keluarga maslahah itu beriman, melaksanakan perintah Allah, dan meneladani Rasulullah SAW. Di antaranya, menjaga sholat,” jelasnya.
“Kalau sholatmu baik, maka sholat itu akan menjaga dan mencukupi kebutuhanmu. Dan kalau shalatmu baik, itu tiketmu ke surga,” tambahnya.
Selain soal ibadah, Pardi juga menekankan pentingnya ilmu, akhlak yang mulia, serta kebaikan terhadap sesama anggota keluarga sebagai fondasi utama terciptanya keluarga yang maslahah.
MAPPI adalah sebuah kelompok masyarakat yang menjadi mitra pendukung kegiatan ekonomi umat. MAPPI dibentuk pada 17 Maret 2023 oleh Wahyono, yang juga berperan sebagai pendamping kelompok. Jumlah anggota awalnya hanya enam orang, kini telah berkembang menjadi 26 anggota aktif.
Kewajiban anggota MAPPI diantaranya setiap bulan mengumpulkan infak dari anggota. Pada awalnya, infak terkumpul sekitar Rp300 ribu per bulan. Kini, seiring bertambahnya jumlah anggota, total infak yang terkumpul meningkat menjadi sekitar Rp600 ribu per bulan. Dana tersebut kemudian disalurkan kembali kepada anggota sebagai modal usaha sebesar Rp500 ribu per orang.
Menurut Wahyono, penggagas dan pendamping UMKM MAPPI, “Tujuannya untuk mengangkat perekonomian umat Islam. Karena selama ini kita banyak fokus pada kegiatan keagamaan seperti akidah dan pengajian, tapi belum banyak menyentuh aspek ekonomi,” jelas Wahyono.
MAPPI menaungi beragam pelaku UMKM, mulai dari usaha pakan burung, tahu bacem, rambak, karak, risoles, bakso keliling, gado-gado, hingga ayam geprek. Dari total anggota, sepuluh di antaranya sudah mendapat bantuan pengembangan usaha sebesar Rp3 juta dari BAZNAS Provinsi Jawa Tengah secara bertahap.
“Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk memberdayakan ekonomi masyarakat di sekitar. Harapannya, warga bukan hanya kuat dalam iman, tapi juga mandiri secara ekonomi,” pungkas Wahyono.
Dengan adanya Gerakan Keluarga Maslahah dan dukungan kelompok ekonomi seperti MAPPI, Kemenag berharap lahir keluarga-keluarga tangguh, yang tidak hanya harmonis dalam rumah tangga, tetapi juga berdaya dalam menghadapi tantangan ekonomi. (sol/my)



















