Surakarta (Humas) – Kepala Kankemenag Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun didampingi Kasi Bimas Islam, Achmad Arifin hadir mengikuti Pembinaan dan Tausiyah Kebangsaan bersama Menteri Agama RI di Aula Majeng Kanwil Kemenag Prov Jawa Tengah (08/12/2025). Kegiatan dipenuhi peserta diantaranya Kepala Kankemenag Kab/Kota dan Kasi Bimas se-Jawa Tengah, serta seluruh ASN Kementerian Agama Karesidenan Semarang.
Kegiatan diawali dengan peresmian Gedung Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar dilanjutkan menuju Aula Majeng untuk mengukuhkan Pengurus Wilayah Pondok Baca Nahdliyin Jawa Tengah masa bakti 2025-2030.

Dalam laporannya, Kakanwil Kemenag Prov Jawa Tengah, Saiful Mujab sebagai penyelenggara kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan berdampak dan memperkuat peran ASN Kementerian Agama sebagai perekat kerukunan umat dan penjaga kelestarian lingkungan sebagaimana amanat Asta Protas Kementerian Agama.
Banyak prestasi ditampilkan dalam tayangan video sebagai laporan bahwa jajaran Kemenag se-Jawa Tengah telah melaksanakan berbagai kegiatan dalam menunjang program Menteri Agama RI. Termasuk di dalamnya, kegiatan dari Kemenag Kota Surakarta seperti Golek Garwo, Collaboration of Tolerance Center (CTC) di KUA Kecamatan, serta GEMARI (Gerakan Rumah Ibadah Berseri Solo).
“Akan kami produktifkan (gedung kanwil) untuk pelayanan umat salah satunya dengan Joglo Jateng sebagai forum/ruang dialog lintas agama, budaya, dan pemangku kepentingan melalui pendekatan spiritualitas, budaya dan humanism,”imbuhnya.
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyampaikan tausiyah kebangsaan yang sangat berfokus pada peningkatan kualitas spiritual dan profesionalisme aparatur Kementerian Agama. Ia menekankan bahwa pegawai Kemenag memiliki beban sosial 24 jam dan harus melampaui batas kerja biasa menuju derajat spiritual tertinggi.
Dalam inti ceramahnya, Nasaruddin mendefinisikan kembali konsep ikhlas beramal. Ia menegaskan bahwa aparatur Kemenag diharapkan tidak hanya menjadi Mukhlish (orang yang beramal baik karena Allah tetapi masih menyadari kebaikannya), melainkan harus mencapai tingkat Mukhlas.
“Mukhlas adalah orang yang melakukan perbuatan baik karena Tuhan tanpa pernah mengingat atau menyadari bahwa dia melakukannya,” ujarnya. Ia menambahkan, orang yang mencapai derajat Al-Mukhlas sudah bebas dari godaan Iblis. Sebagai contoh, ketika dipuji, seorang Mukhlas justru bersedih dan merasa bahwa pujian itu “salah alamat,” karena pujian hanya milik Allah.
Nasaruddin Umar juga memberikan peringatan keras mengenai etos kerja, membedakan antara dua istilah perbuatan dalam Al-Qur’an: Fa’al dan Amal. “Kalau Fa’al itu pekerjaan yang dilakukan secara sembrono, acak-acakan, tidak punya planning, program, tidak punya evaluasi,” jelasnya.
Oleh karena itu, aparatur Kemenag didorong untuk menjalankan pekerjaan yang terprogram, terencana, dan profesional, yang disebutnya sebagai Amal . Ia menyimpulkan bahwa institusi harus memiliki predikat ikhlas beramal yang merupakan suatu predikat luar biasa dan berat, tetapi dapat dicapai melalui kebiasaan.
Lebih lanjut, Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya kerukunan sosial sebagai indikator kebahagiaan. Ia secara langsung mempertanyakan, “Apa artinya kekayaan kalau kita harus hidup seperti di penjara?” Ia menjelaskan bahwa kekayaan, meski pertumbuhan ekonomi mencapai delapan digit, tidak berarti apa-apa “kalau tidak tercipta kerukunan dalam masyarakat.”
Dalam konteks spiritual, ia meminta ASN Kemenag mencapai derajat Asy-Syakur (orang yang sangat bersyukur), yaitu mereka yang mampu menikmati penderitaan dan tersenyum menerima kekecewaan. Ia juga memberikan peringatan keras terhadap korupsi dan harta haram. Membedakan dengan tegas antara hadiah dan riswah (sogokan), serta memperingatkan konsekuensi mengerikan dari memasukkan uang sogokan ke rumah.
Acara diakhiri dengan foto bersama dengan seluruh tamu undang, Kepala Kemenag Kab/Kota dan seluruh peserta.(may)



















