Kota Surakarta (Humas) – Selama ini, pelajaran sejarah sering kali identik dengan tumpukan buku tebal, deretan angka tahun yang rumit, dan rasa kantuk yang sulit tertahan. Namun, suasana berbeda justru terasa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta. Di tangan Rusdi Mustapa, seorang guru sejarah yang inovatif, masa lalu tidak lagi terasa jauh dan membosankan.
Rusdi Mustapa berhasil menghidupkan kembali peristiwa masa lalu menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI), mengubah ruang kelas menjadi layaknya bioskop mini yang membawa siswa melintasi waktu.
Inovasi ini lahir dari kegelisahan Rusdi melihat rendahnya keterlibatan siswa dalam materi sejarah yang bersifat konvensional. Untuk memecah kebuntuan tersebut, ia meramu tiga teknologi sekaligus yaitu, Chat GPT, sebagai otak di balik alur cerita dan penyusun prompt (instruksi) yang detail. Sora AI, teknologi video generator terbaru yang mampu mengubah teks menjadi visualisasi video realistis. Dan Cap Cut, sentuhan akhir untuk merangkai potongan video menjadi sebuah narasi utuh.
“Saya ingin sejarah tidak hanya bicara soal nama dan tanggal, tapi ada keterlibatan emosional. Dengan konsep Point Of View (POV), siswa seolah-olah berada langsung di tengah peristiwa tersebut,” ujar Rusdi saat ditemui pada Senin (02/02/2026).
Menariknya, Rusdi bahkan menyisipkan wajahnya sendiri ke dalam karakter video tersebut agar para siswa merasa lebih dekat dan antusias mengikuti alur cerita.

Meski menggunakan bantuan AI, Rusdi tetap mengedepankan akurasi sejarah. Ia rutin berkonsultasi dengan pegiat sejarah, seperti komunitas pecinta sejarah Solo Societeit, untuk memastikan visualisasi sejarah yang dihasilkan, seperti momen perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta, tetap berpijak pada fakta yang benar. “Teknologi tidak akan menggantikan peran guru, tapi justru menjadi pendukung kuat untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna,” tambahnya. Semua hasil video POV yang dibuat di unggah ke media sosial Instagram @pakrm_hunting.
Kepala MAN 1 Surakarta, Ahmad Wardimin, menyatakan dukungannya terhadap langkah kreatif yang diambil oleh salah satu tenaga pendidiknya. Menurutnya, inovasi ini sejalan dengan misi sekolah untuk terus beradaptasi dengan transformasi digital di dunia pendidikan.
“Kami sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan Pak Rusdi. Di era digital ini, guru memang dituntut untuk tidak hanya menguasai materi, tetapi juga piawai dalam menggunakan media pembelajaran yang relevan dengan Gen-Z,” ujar Ahmad Wardimin.
Ia juga berharap langkah ini bisa menjadi pemantik bagi guru-guru mata pelajaran lain di MAN 1 Surakarta untuk ikut berinovasi. “Tujuannya satu, yaitu menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan. Jika siswa sudah senang dengan caranya, maka materi sesulit apa pun akan lebih mudah diserap,” pungkasnya.
Inovasi yang dibuat Rusdi membuat siswa antusias belajar sejarah. Hafiz Miftahul Egar salah satunya. Siswa kelas11 F4 ini mengaku cara belajar seperti ini jauh lebih efektif daripada metode ceramah biasa.
“Dulu kalau baca buku kita cuma bisa membayangkan di kepala. Tapi dengan video AI ini, kita bisa melihat langsung gambaran suasana zaman penjajahan. Rasanya nyata sekali,” ungkap Hafiz. Inovasi dari MAN 1 Surakarta ini membuktikan bahwa sejarah tidak harus selalu berdebu dan usang. Di tangan guru yang kreatif, masa lalu bisa menjadi tontonan masa depan yang menginspirasi. (rsd/rmd)


















