Surakarta (Humas) – Kementerian Agama Kota Surakarta bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta menyelenggarakan Sosialisasi Pesantren Ramah Anak di selasar utama Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 170 santri ini dilaksanakan setelah Upacara Hari Santri Nasional 2026.
Analis Kebijakan DP3AP2KB Kota Surakarta, Adriani Soeharto, menyampaikan bahwa sosialisasi tersebut merupakan tindak lanjut dari deklarasi Pesantren Ramah Anak yang telah diresmikan pada tahun sebelumnya.
“Kegiatan ini adalah tindak lanjut dari deklarasi Pesantren Ramah Anak yang telah diresmikan tahun lalu,” ujarnya.
Adriani menjelaskan, sosialisasi lanjutan ini bertujuan memperkuat pemahaman mengenai penerapan prinsip ramah anak di lingkungan pesantren. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah merencanakan kegiatan monitoring dan evaluasi penerapan Pesantren Ramah Anak mulai tahun 2027, sekaligus mendorong keterlibatan seluruh pihak, termasuk pengelola pesantren dan wali santri.

Materi berikutnya disampaikan oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS) Kemenag Kota Surakarta, Encep Moh Ilham. Ia menegaskan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul untuk menyongsong visi Indonesia Emas.
Menurut Encep, pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Santri tidak hanya belajar ilmu agama saja, melainkan juga belajar pengetahuan dan teknologi. Bahkan, ada yang sudah tahu kecerdasan buatan atau AI. Ini menunjukkan bahwa santri bisa mengikuti zaman dan perkembangan teknologi,” ungkapnya.
Selain adaptif terhadap perkembangan teknologi, Encep menekankan pentingnya karakter santri yang tercermin melalui integritas, kejujuran, dan kedisiplinan, termasuk dalam menjalankan ibadah salat berjemaah. Ia menambahkan, tradisi pendidikan yang kuat di pesantren menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada lembaga tersebut. Sejumlah tokoh nasional, termasuk para menteri, juga lahir dari pendidikan pesantren.
“Oleh karena itu, mari kita optimistis para santri yang ada di sini bisa menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi negeri,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman tentang Pesantren Ramah Anak semakin meningkat, sehingga pesantren mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, mendukung tumbuh kembang santri, serta melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (may)


















