Kota Surakarta (Humas) – Suasana berbeda terlihat di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Surakarta pada Rabu (25/2/2026). Puluhan siswa kelas 11 F1 Program Boarding School Sains Riset tampak antusias mengikuti pembelajaran sejarah yang tidak lagi terpaku pada buku teks tebal di dalam kelas. Kali ini, mereka mengeksplorasi masa kolonial Belanda melalui integrasi nilai-nilai lingkungan atau Adiwiyata dalam kegiatan bertajuk “Belajar Sejarah, Nggak Harus Nyampah”.
Pembelajaran yang diampu oleh Guru Sejarah Rusdi Mustapa ini mengusung konsep unik dengan mengkolaborasikan materi sejarah masa kolonial, khususnya dampak pembukaan perkebunan besar oleh Belanda, dengan kesadaran menjaga ekosistem. Siswa diajak memahami bagaimana kebijakan ekonomi masa lalu memengaruhi bentang alam Indonesia, sekaligus merefleksikan pentingnya pelestarian lingkungan di masa kini.
Rusdi Mustapa menjelaskan bahwa inovasi ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal tahun dan tokoh. “Kami ingin siswa melihat sejarah dari sudut pandang lingkungan. Pembukaan perkebunan di masa kolonial adalah awal dari perubahan besar lanskap alam kita. Dengan menggunakan aplikasi HISTO-GREEN, kami juga menerapkan prinsip paperless sebagai wujud nyata aksi Adiwiyata di sekolah,” ujar Rusdi Mustapa.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para siswa menggunakan perangkat ponsel pintar mereka untuk mengerjakan kuis “Kolonial & Adiwiyata”. Aplikasi tersebut menyajikan 50 soal pendalaman materi yang dirancang khusus untuk siswa kelas 11 SMA/MA. Aplikasi ini dibuat dan masih dalam proses pengembangan oleh Rusdi Mustapa.

Fadli Aghitsna, salah satu siswa kelas 11 F1 yang mengikuti kegiatan tersebut, mengaku sangat terkesan dengan metode ini. Sambil menunjukkan hasil skor kuisnya yang tinggi di layar ponsel, ia mengungkapkan, “Belajar jadi jauh lebih seru karena kita langsung praktik scan barcode di pilar-pilar sekolah. Saya jadi lebih paham bagaimana sejarah perkebunan Belanda dulu ternyata punya kaitan erat dengan kondisi lingkungan kita sekarang. Rasanya lebih modern dan tidak membosankan karena tanpa kertas,” kata Fadli.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi penuh dari pimpinan madrasah. Kepala MAN 1 Surakarta Ahmad Wardimin, menyatakan bahwa integrasi kurikulum dengan nilai lingkungan adalah prioritas sekolah.
“Kami sangat bangga dengan kreativitas bapak-ibu guru dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan. Apa yang dilakukan di kelas 11 F1 hari ini adalah bukti bahwa sejarah dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan. Harapan saya, karakter peduli lingkungan ini melekat pada diri siswa selamanya, bukan sekadar untuk nilai kuis saja,” tegas Wardimin.
Melalui metode tersebut, Rusdi Mustapa Kembali menunjukkan bahwa sejarah tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan dan kuno, melainkan ilmu yang relevan dan solutif terhadap isu-isu global seperti keberlanjutan. (rsd/rmd)



















