Kota Surakarta (Humas) – Sinergi untuk keberlangsungan eksistensi organisasi hari ini sudah tidak terlakan. Begitu pula dirasakan oleh media Radio Republik Indonesia (RRI). Di tengah gempuran era media sosial mainstream yang hari ini mungkin bisa dibilang menjadi puncaknya, RRI mampu membuktikan dirinya masih bertahan. Seakan-akan memberikan Gambaran seperti symbiosis mutualisme, RRI dan Kementerian Agama saling menyadari bahwa mempererat hubungan dan mewujudkannya menjadi kolaborasi yang menghasilkan sinergi untuk meningkatkan corporate value hingga mewujudkan layanan berdampak penting untuk diwujudkan.
Pagi ini, Kamis (29/1/2026), RRI Kota Surakarta diwakili oleh Kepala Kantor Bambang Dwiana, Pranata Siaran Ahli Madya Indah Wulandari dan Pranata Siaran Ahli Pertama Aditya Nurcahya Setiaji melaksanakan audiensi ke Kankemenag Kota Surakarta. Kehadiran jajaran RRI disambut hangat oleh Kepala Kankemenag Ahmad Ulin Nur Hafsun didampingi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Achmad Arifin dan pelaksana tugas bidang humas.
Kunjungan audiensi tersebut bermuara pada satu tujuan sinergi yang akan dituangkan dalam dokumen legal bernilai strategis yakni Perjanjian Kerja Sama Siaran Layanan Keagamaan Berdampak untuk Kota Surakarta. Tidak mau melewatkan kesempatan berharga, Ahmad Ulin Nur Hafsun memanfaatkan audiensi pagi ini dengan menjabarkan overview layanan keagmaan yang tercantum dalam Asta Protas (delapan program pprioritas) usai bidang haji saat ini terpisah dari Kemenag.
“Menika merupakan Asta Protas Kemenag. Pada poin sukseskan haji, sekarang sudah diganti dengan pemberdayaan rumah ibadah,” tutur Ahmad Ulin Nur Hafsun.

Lebih lanjut, Ahmad Ulin Nur Hafsun menagskan tekad kuat dari perspektif pimpinan, dengan segala upaya selalu mengutamakan tujuan memajukan organisasi. Ia mengatakan bahwa ide dan gagasan yang muncul harus diuji publik dan sebaiknya ada duplikasi kesuksesan program atau inovasi tersebut, dari satu unit kerja ke unit kerja lainnya.
“Karena kalau kami ini, berfikirnya adalah tentang bagaimana caranya memajukan, kantor mendukung, mendorong, dan menyediakan sarana atau media untuk menyukseskan program atau inovasi tersebut. Dan secara garis besar, layanan Kemenag terbagi menjadi dua secara garis besar yaitu layanan keagamaan dan layanan pendidikan,” lanjutnya.
Sementara itu, Bambang Dwiana mengutarakan susudt pandang kondisi industry media saat ini. Bambang Dwiana menyampaikan bahwa hari ini, konten siaran televisi mulai menyentuh titik jenuh. Seolah-olah menyiratkan bahwa pemberitaan yang tayang terkesan monoton, sedangkan konten media sosial hari ini semakin beragam meskipun kerap dipertanyakan validitasnya.
“Karena di medsos saat ini yang viral belum tentu in line dengan visi organisasi organisasi,” ujarnya. Dalam situasi carut marut variasi informasi dan konten, RRI memposisikan diri sebagai penengah yang aktif memverifikasi berbagai konten yang beredar, meski diakui tugas tersebut tidaklah ringan.
Ahmad Ulin Nur Hafsun berpesan kepada RRI agar kerja sama yang dirancang nanti juga harus mempertimbangkan aspek legal dan etika. Kode etik jurnalistik turut dibahas untuk dibahas dalam klausul teknis perjanjian kerja sama, memastikan informasi yang disiarkan tidak hanya berdampak tetapi juga akurat, transparan dan memenuhi unsur akuntabilitas. Sinergi ini diharapkan dapat menjadi model dalam menyajikan informasi keagamaan yang terpercaya dan berkualitas kepada publik.
Melalui kerja sama ini, Kankemenag Kota Surakarta memperkuat perannya sebagai pemberi informasi layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dengan memanfaatkan kanal siaran RRI yang sudah valid terpercaya dan menjangkau segmen anak muda (RRI pro 2 dan RRI pro 3), berbagai program dalam kerangka Asta Protas Kemenag dapat dipublikasikan dengan gencar secara lebih efektif dan luas. Program layanan berdampak yang pasti dalam waktu dekat akan dilaksanakan yaitu siaran keagamaan dalam satu bulan penuh di Ramadan 1447 H/ 2026 M. (rmd)


















