Kota Surakarta (Humas) – Inovasi pembelajaran sejarah terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Pelatihan Membuat Video Sejarah dengan Artificial Intelligence (AI) yang digelar pada Sabtu (14/2/2026), bertempat di Lantai 4 Gedung Jenderal Sudirman, MAN 1 Surakarta.
Kegiatan diikuti oleh 49 peserta yang berasal dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah MA Korwil II Jawa Tengah serta Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Jawa Tengah. Pelatihan ini bertujuan membekali guru sejarah dengan keterampilan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menghidupkan materi sejarah melalui media video kreatif.
Acara dibuka secara resmi oleh Plh. Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani. Dalam sambutannya, Astrid Widayani mengapresiasi inisiatif para guru sejarah yang terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Guru hari ini tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengemasnya secara kreatif dan relevan dengan dunia digital. Video berbasis AI adalah jembatan agar sejarah tidak terasa jauh bagi generasi muda,” ujar Astrid Widayani.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber utama Guru Sejarah MAN 1 Surakarta Rusdi Mustapa, yang selama ini dikenal aktif mengembangkan konten sejarah berbasis AI dan video pendek. Dalam pemaparannya, Rusdi Mustapa menjelaskan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu guru membuat visualisasi peristiwa sejarah secara lebih menarik, cepat, dan mudah diakses oleh siswa.
Selain itu, Rusdi Mustapa juga memberikan pelatihan yang secara garis besar membaginya menjadi tiga tahap utama dalam pembuatan video sejarah berbasis AI. Pada tahap pertama, peserta diajak menggunakan ChatGPT untuk menyusun naskah sejarah POV yang akurat dan berbasis sumber valid. Naskah ditulis dari sudut pandang pelaku sejarah sehingga membentuk alur cerita yang lebih emosional dan mudah divisualkan.

Memasuki tahap kedua, naskah tersebut diubah menjadi video sinematik menggunakan teknologi generatif SORA. Peserta belajar memecah cerita menjadi beberapa adegan, lalu mengubahnya menjadi prompt visual yang menghasilkan potongan video sejarah.
Pada tahap ketiga, seluruh klip video dirangkai menggunakan teknik editing POV, dilengkapi suara, transisi, dan efek sinematik sehingga tercipta pengalaman belajar yang imersif.
“AI bukan untuk menggantikan guru, tetapi menjadi alat bantu agar kelas sejarah menjadi lebih hidup. Dari cerita, kita ubah menjadi visual, sehingga siswa bisa melihat sejarah, bukan sekadar membacanya,” jelas Rusdi Mustapa.
Selain sesi materi, peserta juga diajak praktik langsung membuat konsep video sejarah menggunakan teknologi AI, mulai dari penulisan naskah, visualisasi adegan, hingga simulasi video pendek.
Salah satu peserta dari MGMP Sejarah MA Korwil II Jawa Tengah, Herry Cahyono mengaku pelatihan ini sangat membuka wawasannya.
“Selama ini kami mengajar dengan metode konvensional. Dengan pelatihan ini, saya jadi tahu bagaimana AI bisa membantu membuat sejarah lebih menarik dan dekat dengan siswa,” ungkap guru MAN Sukoharjo ini.
Peserta lain dari AGSI Jawa Tengah, Dadan Rhendy guru SMAN 1 Karanganyar, juga menyampaikan kesannya. “Materi yang disampaikan sangat aplikatif. Kami tidak hanya mendengar teori, tetapi langsung mempraktikkan. Ini akan sangat bermanfaat untuk pembelajaran di sekolah,” katanya. Pelatihan ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber dan sesi foto bersama seluruh peserta. Diharapkan, melalui kegiatan ini, para guru sejarah mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan karakter generasi digital. (rsd/rmd)


















